Halaman

04 November 2015

Mencitrakan Presiden Dalam Mata SBY (Selalu Ada Pilihan)

Ini resernsi sudah lama sekali aku buat dan coba dikirim ke media massa. Tapi ternyata gak dimuat-muat, hehe. Pas buka file-file lama, ketemu deh sama tulisan ini. Hayuk, kita posting aja daripada mendem di kompi.
ooo

Judul               : SBY, Selalu Ada Pilihan

Penulis             : Susilo Bambang Yudhoyono
Penerbit           : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit     : 2014
Tebal               : xvi + 808 halaman

Tahun 2014 nampaknya adalah tahun yang ramai dengan suasana politik. Bagaimana tidak, di tiga bulan pertama tahun ini hampir seluruh elemen masyarakat ribut soal mengunggulkan partai apa dan siapa saja calon anggota legislatif yang mereka jagokan. Seluruh partai yang lolos verifikasi dan resmi masuk dalam partai peserta pemilu, ramai-ramai mengibarkan benderanya. Pemilu legislatif akan segera berlangsung. Beberapa bulan kemudian, bakal ada lagi acara pemilihan yang berkaitan dengan pemilu legislatif, yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden.

Meski masih terbilang lama, sudah ada beberapa capres dan cawapres yang diperkenalkan baik oleh partai maupun oleh dirinya sendiri. Secara tidak langsung pun, sudah ada beberapa usaha yang bisa dianggap pencitraan kepada seseorang dalam kaitannya dengan pemilihan capres dan cawapres ini. Sedikit demi sedikit sudah ada yang menyiratkan misi dan visinya kalau di kemudian hari mereka dapat terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Berkampanye, mencoba merangkul rakyat dengan strateginya masing-masing. Tapi, apakah mereka sudah siap dengan konsekwensinya jika memang mereka ditakdirkan menang dalam pemilihan nanti?

Inilah yang diusung oleh Susilo Bambang Yudhoyono dalam bukunya SBY, Selalu Ada Pilihan. Buku setebal lebih dari 800 halaman ini dibagi menjadi empat bab besar. Bab pertama menggambarkan keadaan negara kita pada saat sekarang ini. SBY menggambarkannya dari sudut pandang politik, ekonomi, sistem pemerintahan, hingga sikap beberapa media massa dan pers yang dianggap SBY terlalu sering melebih-lebihkan sebuah berita. Padahal memang kemerdekaan pers itu penting, sangat penting, tetapi perlu digunakan secaa benar dan untuk tujuan yang konstruktif (kutipan dari bab pertama halaman 56).

Bab kedua bercerita tentang pengalaman SBY selama menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bagaimana di tengah kesibukannya membenahi Indonesia, ia terus dihujani kritik dan fitnah yang seolah tak ada habisnya. Pengalaman-pengalaman ini ia kisahkan dengan bahasa yang lugas dan santai. Belum lagi bagaimana ia mengatur kepentingan agar jangan sampai kepentingan negara tidak bercampur dengan kepentingan pribadinya.

Di bab kedua inilah, pembaca seolah digiring untuk dapat merasakan bagaimana sibuknya seorang presiden dalam menjalani hari-harinya. SBY pun ingin agar pembacanya bisa memahami betul bagaimana presiden bekerja; bahwa memang pemimpin itu bisa melakukan banyak hal tetapi tidak bisa melakukan semua hal. Saya sendiri bahkan beranggapan bab ini ditulis sebagai klarifikasi atas banyak hal yang ditimpakan kepada SBY. Pertanyaan-pertanyaan yang sejatinya mungkin masih ada dalam fikiran kebanyakan orang. Dan sebagai orang yang awam politik, saya bisa sedikit terbuka dengan membaca buku ini meski jujur, saya banyak tidak mengerti dengan istilah yang sering digunakan.

Bagi saya, buku ini sedikit banyak memberi referensi untuk mereka yang akan masuk ke ranah perpolitikan khususnya untuk ranah yang lebih tinggi dari sekadar partisipan sebuah partai atau calon legislatif. Setidaknya agar tahu bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Mulai dari strategi berkampanye dan sikap-siakp yang harus diambil selama masa kampanye berlangsung. Inilah yang SBY tulis dalam bab ketiga.

Ada sedikit yang mengganjal dalam buku ini. Hampir seluruh isi buku ini berisi hal-hal yang “seram” yang dijalani seorang presiden. Memang ada satu sub bab yang sedikit memberi angin segar bahwa kehidupan presiden tidak melulu diwarnai oleh tekanan dan kritikan, tapi hal itu hanya dibahas sekadarnya saja. Itu pun menurut saya tidak signifikan jika dibandingkan dengan keseluruhan isi buku. Atau barangkali memang sengaja diporsikan sekecil mungkin untuk menantang para calon pemimpin berikutnya agar tidak tergiur dulu oleh jabatan dan mungkin kekuasaan yang akan diraihnya sehingga diharapkan bisa siap mental untuk bertahan menghadapi dinamika kehidupan presiden.

Pada bab akhir, SBY berbagi nasihat kepada orang yang nantinya akan memimpin Indonesia. Nasihat-nasihat ini memang masih erat kaitannya dengan apa yang telah ia sampaikan di bab-bab sebelumnya. Sebagai penutup, ada kutipan dari SBY yang saya ambil dari halaman 786 di bagian akhir buku ini.

Di saat-saat akhir pengabdian saya sebagai pemimpin di negeri ini, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia terutama para elite dan tokoh bangsa, untuk membuat politik dan demokrasi kita ini makin matang, makin berkeadaban, dan makin berkualitas.