Halaman

08 Oktober 2014

Kita Bukan Penghalang


Menangis karena dilangkahi menikah oleh seseorang yang lebih muda itu memang hal yang wajar. Kebanyakan memang adik sendiri (kalau adik sepupu atau adik kelas, beda ceritanya). Wajar memang. Itu manusiai. Itu perempuan banget, hehe.

Saya juga mengalami kok yang namanya dilangkahi menikah oleh adik. Dan rasanya itu gak enak. Gak enak banget! Karena sepertinya, yang seharusnya menikah duluan adalah kakaknya. Tapi itu kan ‘seharusnya’ dalam kamus kita, nah kalau dalam kamus kehidupan kan beda lagi. Hidup, mati, rezeki, termasuk jodoh itu kan yang mengatur yang mencipta kita, tho? Tinggal bagaimana upaya kita untuk mendapatkan yang terbaik dari keempat perihal tadi. Hidup yang baik, mati dalam keadaan baik, rezeki yang baik, dan jodoh yang baik.

Semua pasti setuju, semua tidak datang tiba-tiba. Semua harus diusahakan. Siapa yang bisa hidup dalam keadaan baik kalau hanya berdiam diri saja? Menunggu orang lain datang mengantar bantuan, begitu? Gak, tho? Mati dalam keadaan baik juga harus diusahakan, kan? Bagaimana mungkin kita mati dalam keadaan baik kalau sehari-harinya kita melakukan hal yang buruk. Itu juga usaha. Rezeki juga begitu. Kalau mau dapat lebih baik, ya belajar, ikhtiarnya lurus, optimis. Untuk jodoh? Sama aja.


Kalau kita hanya berdiam diri di rumah, gak punya kenalan, gak mau dikenal-kenalin, ya selamat menunggu aja. Pasti dapet sih, karena sudah dijanjikan bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, tapi masa gak ada usaha? Mau sampai kapan menunggunya? Kalau sudah usaha dan belum dapet juga, ya berarti kita sedang diuji kesabarannya. Kalau sudah punya –katakanlah calon suami/istri- trus terasa lama dan akhirnya dilangkahi, ya itu sudah takdir namanya.

Tapi begini, saya hanya ingin tekankah bahwa dilangkahi menikah oleh adik itu gak sehoror yang kita bayangkan kok. Awalnya memang kita membayangkan deretan pertanyaan ini :

“Apa kata dunia kalau saya dilangkahi?”
“Kata orang kan kalau dilangkahi, akan lebih sulit jodohnya. Jadi gimana dong?”
“Kenapa sih dia gak sabar? Saya yang lebih lama galaunya aja masih belum nikah.”
Nah lho!

Saya hanya ingin tekankan bahwa dilangkahi menikah adalah sesuatu yang wajar. Kalau kata temanku, tidak akan membuat kita mati berdiri, hehe. Tidak serta merta membuat kita kehilangan harga diri. Dan satu lagi yang penting untuk digarisbawahi adalah, setidaknya kita tidak menghalangi orang lain untuk berbahagia. Begitu kan?

Ini hanya sekedar coretan tangan saja, gak usah terlalu ditanggapi kalau memang suasana hati sedang galau karena (akan) dilangkahi. Survey membuktikan, orang yang dilangkahi (khususnya perempuan), akan baik-baik saja setelah pernikahan sang pelangkah itu.

So, menangis ya gak papa, karena memang itu wajar. Tapi, gak usah terlalu berlarut-larut, apalagi sampai menggagalkan pernikahan sang adik atau membuatnya menunda-nunda. Gak mau kan sang adik sampai bilang begini :
“Kalau mau nikah tua, jangan ngajak-ngajak dong!”

Hehe, just for fun ya. Semoga kita diberi kesabaran yang lebih dalam menghadapi hidup ini, xixixi.

Catatan :
Tulisan ini sebenarnya sudah lama ada di kepala, tapi baru bisa dilahirkan siang ini. Sebabnya karena beberapa hari lalu saya mendengar lagi ada teman yang mau dilangkahi. Dia cerita ke saya, yah saya ceritakan pengalaman saya. Kayaknya saya bisa jadi Duta Perempuan Galau karena dilangkahi deh, haha.

Tidak ada komentar: