Halaman

29 Oktober 2014

Ke Bogor Lagi #2

Aaahh, setelah semalam beristirahat, energi pun kembali terisi meski badan masih terasa pegal. Tanteku mengeluh jari kakinya lecet, hehe. Besok lagi kalau ke KRB pakai sendal jepit aja deh atau sepatu longgar yang nyaman dipakai jalan kaki.

Next, dari Wisma Amarilis, kami menghirup udara pagi di sepanjang jalan kampus IPB. Udara pagi terasa sejuk sekali. Nah, adikku mengajak kami ke kebun praktikumnya sekalian nyiram katanya. Rajin sekali, padahal kalau di rumah, mana pernah pegang tanaman! :D
Rajin euy :P
Pulang dari jalan-jalan, kios roti yang ada dekat perpustakaan sudah buka. Kata adikku kios itu bekerjasama dengan Bogasari. Roti-rotinya enak dengan harga yang sangat murah. Mulai dari Rp 2000,-/buah, nyam nyam!

Kenyang juga makan roti ini
Hari kedua ini, kami sempat bingung mau kemana, mengingat aku dan tante juga akan pulang hari itu juga (lusa aku sudah bekerja). Jadilah kami cari info sana-sini, ketemu danau Situgede. Sebenarnya kami belum tahu sama sekal letak danau itu dimana, penampakannya seperti apa, dan ada apa disana. Kami hanya dapat informasi dari artikel di dunia maya kalau danau itu bagus, dan di belakangnya pun ada hutan penelitian.

Sebelum kesana, kami mampir ke kosan adikku di seberang kampus. Wedew, ini kosan atau tempat pengungsian sementara? Berantakan amit!
Hyyaaaa, tiddakkk
Next, kami menuju ke danau situgede berbekal info tanya sana-sini naik angkot apa dan berapa lama. Gak terlalu jauh kok. Dan setelah sampai disana... jeng jeng! Kok pemandangannya mengenaskan gitu? Kami sempat berfikir kami salah masuk atau salah pintu. Kok gak ada plang nama atau petunjuk arah atau petugas? Pemandangan di sekeliling kami hanya pasangan-pasangan muda, membuat kami seperti alien yang terdampar di tepi danau, aaakkkk!

Di sebelah kanan-kiri pohon ini banyak pasangan pacaran, waakks!
Danaunya sendiri bagus, dengan latar belakang hutan penelitian IPB yang sangat lebat. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang membuat tanah di sekitanya lembab dan alhasil berlumut. Ada semacam plang yang ditempel di beberapa pohon. Mungkin plang ini dipasang karena banyaknya pengunjung yang berpasangan datang kesini, hihi. Selain hutan penelitian, disini juga terdapat beberapa kandang rusa dan pedok.

Setelah sholat Ashar di masjid dekat hutan penelitian (untung ketemu masjid, eh deket jalan raya ternyata!), kami siap-siap pulang. Bukan pulang ke wisma lagi atau kosan adik, tapi pulang ke Lampung. Ya ampun kayaknya baru kemarin sampe, sekarang sudah mau pulang lagi. Kami berpisah di terminal Laladon. Good bye Lala. See u next time!

Akhirnya berani juga keliling cuma bertiga :D


28 Oktober 2014

Ke Bogor Lagi #1

Oke, kita ke Bogor lagi :D

Memang pas pertama kali ke Bogor itu belum puas jalan-jalannya, dan bilang pada diri sendiri, besok kesini lagi (kalau mau tulisan pertama, disini). Eh akhirnya kesampaian juga :D Alhamdulillah. Kali ini bukan sama ibu dan adek, tapi sama tante yang dari Palembang. Hanya berdua dari Lampung, modal nekat dan berani (asli gak pernah nyebrang pulau bareng orang yang sama-sama gak tau jalan, hehe). Pilihan tetap pada ngeteng alias naik angkutan putus-putus, alasannya memang hemat ongkos walaupun agak lebih cape. It’s ok.

Berdasarkan pengalaman yang dulu tentang kemacetan di Bogor, maka kali ini kami memilih rute perjalanan yang ringkas dan gak repot bolak-balik. Jadi, dari terminal Baranang Siang, kami gak langsung menuju penginapan di IPB, tapi langsung jalan ke KRB. Pilihan ini memang punya konsekwensi lain, yaitu jalan-jalan sambil bawa tas ransel dan tentengan. Tapi kami berhasil sampai KRB pagi, jadi punya waktu lebih banyak untuk keliling KRB (pada kunjungan pertama, hanya beberapa spot yang berhasil dikunjungi).

Nah, beberapa spot yang kami kunjungi kemarin adalah :

1.      Taman Meksiko
Taman ini berada di sisi kanan pintu gerbang utama. Uwoww.. panasnya! Tampaknya memang taman ini sengaja didesain sedemikian rupa sehingga sangat mirip dengan daerah Meksiko yang panas dan tandus. Isinya berupa koleksi tanaman kaktus. Ada yang unik disini, patung-patung musisi Meksiko dari tumbuhan!
Disini, asli puaanaas terik, padahal baru jam 10 pagi

Musisi unik :D
2.       Taman Sudjana Kassan
Taman ini terletak di ujung arah utara KRB (hah! Gak terasa kami sudah jalan jauh sekali dari pintu gerbang utama). Kami melewati beberpa jalan yang di kanan kirinya pohon-pohon besar dan akarnya super besar. Banyak pohon itu ditanam dari tahun 1800-an. Pantas, tinggi badanku saja Cuma setinggi akarnya lho! Awalnya kami gak tau kalau taman ini ada bunga yang disusun membentuk burung garuda. Sayang sekali kami baru lihat keterangannya setelah melangkah pergi. Mau balik lagi ambil fotonya, pegel euy!
Bunga merah di belakang patung itu adalah lambang burung garuda
Nah deket taman ini, ada pohon sosis. Buahnya mirip seperti buah asem berukuran raksasa. Asli gedhe banget! Warnanya coklat susu. Kukira beneran asem raksasa, ternyata pohon sosis. Kata pemandu wisata, buah ini bisa dimakan (tapi oleh gajah dan jerapah). Gubraks!
Mirip buah asem kan?
3.       Taman Anggrek
Nah ini dia taman yang dari kunjungan pertama kucari-cari, tapi baru berhasil ketemu pada kunjungan kedua. Disini, anggreknya asli bagus banget! Ada peringatan tidak boleh menyentuh bunganya, mungkin khawatir akan rusak atau dipetik sembarangan kali ya.
Ini hanya beberapa anggrek dari banyak anggrek disini. Anggrek yang merah itu seperti beludru.
 4.       Toko Souvenir
Toko ini terletak di sebelah kiri pintu gerbang utama. Isinya jelas suvenir yang bisa dibeli oleh para pengunjung. Mulai dari bibit anggrek seharga Rp 40.000,-/botol sampai buku-buku tanaman seharga Rp 200.000,-an. Pengen beli sih tuh bibit tanaman anggrek, tapi takut gak bisa nanemnya, ntar malah mati hehe.
Miniatur mobil antik
5.       Museum Zoologi
Sesuai dengan namanya, tempat ini penuh dengan koleksi hewan yang telah diawetkan, alias bukan hewan hidup seperti kebun binatang. Penataannya persis seperti tempat hidup hewan itu sendiri. Kupu-kupu yang seolah terbang dan hinggap di bunga, harimau yang mengaum di tengah hutan, dan gorila yang bergelantungan. Ketika melihat hewan-hewan itu, rasanya kok kasihan ya, mereka diawetkan gitu. Atau itu bukan hewan asli alias replika saja yang dibuat semirip mungkin.
 
Ternyata kupu-kupu juga ada yang siang dan malam hehe

Nah, itu beberapa spot yang kami kunjungi, selain jaln-jalan yang kami gak perhatikan namanya saking takjub sama pohon-pohon di sekitarnya.

Setelah cape keliling KRB, kami menuju ke Taman Kencana. Sebanarnya ini taman gak terlalu bagus (menurutku), sama lah penampakannya sama taman-taman kota di tempat lain. Tempat nongkorong yang di sekelilingnya banyak kios penjual makanan. Disini, ada beberapa tempat makan yang terkenal enaknya, tapi harganya juga kelas menengah ke atas, hehe. Salah satu yang kami kunjungi adalah Pia Aplle Pie yang berdiri di jalan Padjadjaran.
Haiiyyaa.. mukanya sudah kucel
Sayangnya, kami gak sempat foto tempat ataupun makanannya, hari sudah terlalu sore, dan kami belum memesan kamar di wisma IPB! hwaaa.
Baiklah, hari pertama di Bogor kali ini cukup melelahkan. Kita lanjutkan hari ke dua besok ya...

08 Oktober 2014

Kita Bukan Penghalang


Menangis karena dilangkahi menikah oleh seseorang yang lebih muda itu memang hal yang wajar. Kebanyakan memang adik sendiri (kalau adik sepupu atau adik kelas, beda ceritanya). Wajar memang. Itu manusiai. Itu perempuan banget, hehe.

Saya juga mengalami kok yang namanya dilangkahi menikah oleh adik. Dan rasanya itu gak enak. Gak enak banget! Karena sepertinya, yang seharusnya menikah duluan adalah kakaknya. Tapi itu kan ‘seharusnya’ dalam kamus kita, nah kalau dalam kamus kehidupan kan beda lagi. Hidup, mati, rezeki, termasuk jodoh itu kan yang mengatur yang mencipta kita, tho? Tinggal bagaimana upaya kita untuk mendapatkan yang terbaik dari keempat perihal tadi. Hidup yang baik, mati dalam keadaan baik, rezeki yang baik, dan jodoh yang baik.

Semua pasti setuju, semua tidak datang tiba-tiba. Semua harus diusahakan. Siapa yang bisa hidup dalam keadaan baik kalau hanya berdiam diri saja? Menunggu orang lain datang mengantar bantuan, begitu? Gak, tho? Mati dalam keadaan baik juga harus diusahakan, kan? Bagaimana mungkin kita mati dalam keadaan baik kalau sehari-harinya kita melakukan hal yang buruk. Itu juga usaha. Rezeki juga begitu. Kalau mau dapat lebih baik, ya belajar, ikhtiarnya lurus, optimis. Untuk jodoh? Sama aja.


Kalau kita hanya berdiam diri di rumah, gak punya kenalan, gak mau dikenal-kenalin, ya selamat menunggu aja. Pasti dapet sih, karena sudah dijanjikan bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, tapi masa gak ada usaha? Mau sampai kapan menunggunya? Kalau sudah usaha dan belum dapet juga, ya berarti kita sedang diuji kesabarannya. Kalau sudah punya –katakanlah calon suami/istri- trus terasa lama dan akhirnya dilangkahi, ya itu sudah takdir namanya.

Tapi begini, saya hanya ingin tekankah bahwa dilangkahi menikah oleh adik itu gak sehoror yang kita bayangkan kok. Awalnya memang kita membayangkan deretan pertanyaan ini :

“Apa kata dunia kalau saya dilangkahi?”
“Kata orang kan kalau dilangkahi, akan lebih sulit jodohnya. Jadi gimana dong?”
“Kenapa sih dia gak sabar? Saya yang lebih lama galaunya aja masih belum nikah.”
Nah lho!

Saya hanya ingin tekankan bahwa dilangkahi menikah adalah sesuatu yang wajar. Kalau kata temanku, tidak akan membuat kita mati berdiri, hehe. Tidak serta merta membuat kita kehilangan harga diri. Dan satu lagi yang penting untuk digarisbawahi adalah, setidaknya kita tidak menghalangi orang lain untuk berbahagia. Begitu kan?

Ini hanya sekedar coretan tangan saja, gak usah terlalu ditanggapi kalau memang suasana hati sedang galau karena (akan) dilangkahi. Survey membuktikan, orang yang dilangkahi (khususnya perempuan), akan baik-baik saja setelah pernikahan sang pelangkah itu.

So, menangis ya gak papa, karena memang itu wajar. Tapi, gak usah terlalu berlarut-larut, apalagi sampai menggagalkan pernikahan sang adik atau membuatnya menunda-nunda. Gak mau kan sang adik sampai bilang begini :
“Kalau mau nikah tua, jangan ngajak-ngajak dong!”

Hehe, just for fun ya. Semoga kita diberi kesabaran yang lebih dalam menghadapi hidup ini, xixixi.

Catatan :
Tulisan ini sebenarnya sudah lama ada di kepala, tapi baru bisa dilahirkan siang ini. Sebabnya karena beberapa hari lalu saya mendengar lagi ada teman yang mau dilangkahi. Dia cerita ke saya, yah saya ceritakan pengalaman saya. Kayaknya saya bisa jadi Duta Perempuan Galau karena dilangkahi deh, haha.

02 Oktober 2014

Catatan Harian

Saya bermonolog lagi. Bercerita pada langit-langit. Bercerita pada cermin. Tapi mereka tak bisa mengabadikannya dalam bentuk nyata (mungkin saja mereka menyimpannya dalam bentuk yang tak kasat mata, haha). Akhirnya saya bercerita pada buku harian. Semua cerita senang. Cerita sedih. Cerita aneh. Tak ada yang bisa saya jujurkan sejujur-jujurnya kecuali pada buku harian ini. Sebab, ia bisa menampung cerita saya tanpa mengeluh.

Tapi belakangan ini saya mulai tak jujur pada buku harian saya. Saya hanya bercerita apa yang saya mau, tidak seperti dulu (saya bercerita apa saja, tentang siapa saja). Kenapa? Karena saya sudah mulai bosan pada satu penggal kisah hidup saya. Penggalan kisah itu dulu saya tuliskan hampir tiap hari. Tapi sudah hampir setahun ini saya mulai melupakannya. Tidak. Bukan melupakannya, tapi saya malas menceritakannya.

Saya lebih suka menceritakan tentang sesuatu yang baru. Benar-benar baru dalam penggal lain hidup saya. Saya hanya berharap saya bisa lebih baik dengan penggal yang baru itu. Awalnya, saya harus memaksa diri saya untuk bertahan tidak menceritakannya dalam buku harian. Tapi sekarang saya sudah biasa. Dan hasilnya adalah setengah dari buku harian saya yang baru ini berisi penggal episode yang baru.

Sebuah episode yang saya suka. Sangat suka. Dan saya hanya bisa menceritakannya disini. Di dalam buku harian ini. 


Sepenggal Momen


Ada satu hal yang paling aku suka ketika membuka lapmi ini. Disana, ada satu folder yang berisi momen beku yang kuabadikan. Nama folder itu dulunya ‘Foto’ tapi beberapa waktu lalu (tepatnya setelah lapmiku dioperasi), folder itu kuganti nama menjadi ‘Narsis’. Isinya seperti namanya, memuat foto yang menjadi kenanganku.

Nice ^_*
Tentu saja, bukan hanya fotoku yang ada disana, tapi juga foto-foto keluarga, foto-foto sahabat, teman seperjuangan, dan apapun yang telah menginspirasiku. Seperti sebuah prasasti, foto-foto itu menjadi satu kenangan tersendiri ketika aku sedang gak mood, sendirian, nothing to do.

Dan kali ini, aku menemukan satu kenangan di sub-folder itu, bukan foto, tapi sebuah video amatir yang waktu itu direkam oleh teman kerjaku, sahabat perjuangan selama di Palembang. Tidak sekali aku menontonnya, tapi berkali-kali. Video itu membuatku tertawa sendiri. Saat dimana kami semua masih berkumpul, berjuang. Hal yang paling kuingat dari video itu adalah mobilnya. Mobil jenazah.
Simak aja,


(karena videonya melebihi kapasitas yang bisa di-upload disini, jadi cuma bisa kasih link itu)