Halaman

27 September 2014

Palembang Again



Yups! Kita ke Palembang lagi. Tapi kali ini dengan rombongan yang berbeda. Jadi, ceritanya teman-teman kerjaku ini belum pernah kesana, trus pas kebetulan ambil cuti bareng, jadilah kami merencanakan ke kota yang terkenal dengan Jembatan Ampera itu. Judul perjalanannya sih pengennya back packer, tapi ternyata jadi rempong packer karena bawaannya macam orang mudik, maklum lah perlengkapan cewek kan harus komplit yak. Belum lagi bawa makanan yang super banyak (haha, takut kelaparan). Beuuhh.

Oke, kami berangkat naik kereta pagi (ini modus cari tiket paling murah, Cuma Rp 30.000,- cyin!) dari stasiun Tegineneng. Aku informasikan bahwa perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 12 jam, jadi santai aja dan jangan tanya-tanya sudah sampai mana, ditambah bangku kereta pagi yang gak bisa diubah-ubah sandarannya kemungkinan akan membuat pegel badan. Siap deh, dan sebelum berangkat, kami eksis dulu kayak biasa :D

Eh, mas petugas ikutan juga? :D
Di dalam kereta, kami jadi pusat perhatian. See? Karena kami doyan ngbrol ini itu, tertawa, bercanda, tanya ini itu, nawarin cemilan ke tetangga kanan kiri depan belakang (sok baik hahay). Tapi bener lho, so alive banget lah, sampai-sampai ada tetangga yang ‘sstt sstt sstt bayi tidoookk!’ #ampun nyai..!
Di dalam sini ini kerjanya cuma makan tidur ketawa, makan tidur ketawa
Akhirnya kami sampai juga di stasiun Kertapati, stasiun paling akhir. Untung pas di kereta tadi ketemu sama bapak-bapak yang searah dengan kami, jadi bisa bareng plus ada yang jagain kami (waktu sudah menunjukkan pukul 20.30). Dari Kertapati, kami melaju ke rumah nenekku di Plaju (modus cari penginapan dan sarapan gratis ala rempong packer haha), here we go :D
Ooo

Pagi di Palembang, kami gak sabar untuk segera menyusuri sudut kota mpek-mpek ini. kami sudah merencanakan rute perjalanan kali ini, yaitu Jakabaring-Ampera dan sekitarnya-Pulau Kemaro-Ampera lagi (mau liat Ampera malam hari). Nah, jadi kami mulai dengan angkot ke Jakabaring. Gooo..

Gelora Sriwijaya di pagi menjelang siang sepi sih, gak banyak orang tapi ada aja pasangan muda yang pacaran, masih seragam SMA bro! Disini ada tragedi lepasnya sol sandal salah seorang dari kami (ckck padahal aku sudah bilang pakai sendal jepit aja karena nanti akan jalan jauh, hehe). Untung ada hipermart di samping GOR, tapi sandal jepit disana mahal banget! Rp 45.000,- cyin, tidaaakkk! Untuk rempong packer sekelas kami, sendal jepit itu terlalu mahal, jadi kusarankan saja beli lem super untuk sementara (harga lem super sekitar Rp 3000,-), dan nanti ketika kami sampai di Ampera, baru beli sendal murah di pasar 16. Saran diterima.

Udaranya masih pagi, masih enak buat jalan kaki
Panas, nyengir
Sebenarnya belum puas disini, belum menyusuri seluruh sudut dari GOR ini, tapi waktu sudah beranjak makin siang sedangkan agenda masih banyak. Ditambah kaki sudah pegel. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju Ampera. Angkot mana angkot?

Masih ingat tragedi sendal tadi ya, nah di bawah Ampera ini kan banyak tuh yang jualan berbagai macam barang, termasuk sandal. Eh, sebelum ketemu sandal jepit, yang ketemu duluan adalah tukang sol. Bapak-bapak tua yang sudah beruban. Daripada beli sendal, kusarankan lagi untuk sol aja sekalian. Saran diterima kembali. Kami menunggu sandal disol dengan ngemil mpek-mpek pinggir jalan, Rp 1000,- an hehe.

Mb tri bertanduk, haha
Dalam sebuah perjalanan memang tragedi itu pasti ada aja. Setelah tragedi sandal tadi, di Ampera ini terjadi tragedi lagi. Kami cari makan karena hari sudah siang. Sebenarnya sudah ngemil sih dari tadi, tapi entah rasanya pengen makan berat. Aku informasikan kalau disini jarang sekali ada warung nasi seperti di Lampung. Kalaupun ada, itu pasti masakan Padang. Selama aku tinggal di Palembang beberapa tahun lalu, aku memang jarang jajan nasi disini, paling aku jajan mpek-mpek atau paling berat lenggang atau martabak har.

Salah seorang dari kami ngotot pengen nasi, okelah. Kita cari nasi, tapi gak mau masakan Padang (di resto kami tiap hari lihat masakan padang, bosen). Akhirnya kami berhenti di salah satu kios di depan Museum Sultan Badaruddin II (setelah perjalanan panjang dari ujung ke ujung, dari kios ke kios, dan akhirnya balik lagi). Disana tertera ada sate, bakso, mi ayam, gado-gado, dll. Kami pilih sate ayam, model, dan gado-gado (alasannya sih yang penting ada nasi atau lontong, okelah).

Setelah menuggu sekian lama, pertama keluarlah sate ayam. Dari penampakannya, kayaknya gak bakal enak nih sate. Ternyata benar. Masih mending banget sate di samping hotel kami. Maaakkk, ampun! Kedua keluarlah model. Rasanya hambar. Sudah ditambahi garam, kecap dll masih aja gak ngaruh. Masih mending langganan di samping kantorku dulu. Dan terakhir keluarlah gado-gado pesananku. Berharap hidangan terakhir ini bisa mengobati kekecewaan hidangan sebelumnya. Tapi ternyata sama aja. Hambar. Tapi apa boleh buat, sudah dipesan walaupun gak dimakan tetap harus dibayar.

Oke, setelah dzuhur di masjid Agung, kami lanjutkan perjalan ke tujuan selanjutnya. Pulau Kemaro. Hunting sana sini cari harga sewa perahu paling murah, akhirnya kami dapat harga Rp 80.000,- untuk 1 perahu. Perjalanan kesana memakan waktu sekitar 30 menit mengarungi sungai Musi yang seperti lautan.

Gak ada lampion atau hiasan lain, soalnya pas gak ada momen apa-apa

Inilah penampakan Pulau Kemaro dari perahu yang kami tumpangi. Pagoda tinggi menjulang. Sayang, kami kesana pas tidak ada agenda apa-apa. Waktu itu aku kesana pas tahun baru imlek, Pulau Kemaro berhias lampion merah yang indah.
sayang foto pagodanya gak sampe pucuk, gak ada fotografernya, jadi pake timer aja

Nah ini dua tahun lalu pas aku berkunjung kesana, ada perayaan tahun baru imlek kalo gak salah.
lampionnya meriah!
Nah, disini ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung umum, seperti makam Fatimah (istri dari Tan Bun An), baca legenda Pulau Kemaro disini, dan pagoda yang tinggi menjulang itu. Seyogyanya kita memang harus menghormati tempat-tempat seperti itu, menghormati umat lain.

Waktu sudah sore dan kami kembali ke Ampera. Tempat yang tidak kami rencanakan adalah Palembang Icon. Tapi kami penasaran melihat mall baru yang katanya besar itu. Sebentar dan hanya foto di depannya saja, hehe. Kali ini untung bulekku ikutan (sudah pulang kerja), jadi bisa kami lantik jadi forografer kami, hehe.
Terimakasih Bulek Ari untuk foto ini :)
Perut kami lapar lagi. Kali ini kami harus makan enak, gak mau kecewa seperti siang tadi. Aku sarankan untuk nyoba mi tek tek pinggir Musi (ini langgananku), murah meriah, kenyang lagi. Sebenarnya aku pengen makan martabak har, tapi mereka gak tertarik. Okelah.

Malam di Ampera. Lapangan depan BKB penuh manusia. Aku seperti mengingat kembali hari-hari di Palembang beberapa tahun lalu. Sekarang ada beberapa perubahan disini. Dermaga yang sudah dibangun lebih besar, penertiban pedagang, perbaikan ornamen bangunan. Yah, seiring waktu, memang seharusnya begitu kan?

Lelah, kami sangat lelah. Dan.. ada yang terlewat! Oleh-oleh untuk teman-teman kami di hotel belum dibeli. Kios kerupuk di samping rumah nenekku sudah tutup (waktu menunjukkan pukul 21.30! sepulang kami dari jalan-jalan). Aku hanya menemukan warung martabak har langgananku. Mampir dulu. Akhirnya dapat! Hehe

Well, satu-satunya jalan adalah besok pagi harus ke pasar untuk beli kerupuk. Tentunya, harus super cepat karena kami harus sampai di stasiun Kertapati setidaknya pukul 08.00 pagi. Dan perjalanan dari pasar Plaju ke Kertapati sekitar 45 menit (jaga-jaga kalau macet).

Pulang kami lebih rempong daripada berangkat. Bawaannya persis orang mudik lebaran. Tas ransel, makanan super banyak yang dipaksa bawa sama nenekku (takut kelaparan di kereta), dan oleh-oleh. Mantabs! #Makasih mbah, asli banyak banget makanan yang dibawainnya!
Seperti biasa, narsis dulu di stasiun haha
Lihatlah bawaan kami, mudik galo :D
Palembang, see you again ya (kalau mereka sih katanya kapok karena panas banget, hehe). Aku? Banyak kenangan di kota itu, melihat wajah Palembang, aku seperti melihat filmku diputar kembali. 

2 komentar:

Badrul Blogger's mengatakan...

Bacaan yang ringan tapi menarik. Seakan pembaca ikut juga. Maunya dibuat bagian yg gak abis sekaligus.

lia mengatakan...

Terimakasih kunjungannya. iya, tapi sudah gak sempet waktunya hehe