Halaman

12 Februari 2014

SEDIA PAYUNG SEBELUM KE BOGOR



Satu lagi keinginanku untuk keliling Indonesia tercapai. Akhirnya sampai juga aku di Bogor. Ceritanya sih nganter pulang adik perempuanku, Lala, ke tempat kuliahnya di IPB. Kebetulan pula aku punya jatah cuti tahunan yang belum diambil. Jadi, sepakatlah aku dan ibu nganter Lala ke Bogor. Sekalian aku juga ingin melupakan sejenak rutinitas yang ada dan keruwetan pikiran sehari-hari :P.

Ada beberapa alternatif menuju kesana. Bisa naik bus langsung semisal Damri, carter mobil pribadi yang bisa bawa kita kemana pun sesampainya di Bogor, atau ngeteng alias naik bus putus-putus. Karena kantong pas-pasan, maka kami memilih alternatif terakhir. Ngeteng. Yah, hitung-hitung biar tau juga lah jalan kesana hehe. Akhirnya rombongan kami berangkat selepas magrib dari Lampung.

Jalan menuju pelabuhan Bakauheni sedikit mendebarkan karena ternyata bus yang kami tumpangi tidak lewat jalan lurus seperti biasanya. Katanya sih ada perbaikan ruas jalan, jadi muter deh lewat lintas timur yang jalannya ampun deh banyak yang rusak. Bus besar yang kami tumpangi berkali-kali miring kanan miring kiri. Ibuku sampai wiridan sepanjang jalan, hehe. Sampai di Bakauheni, kami langsung lanjut dengan kapal laut. Alhamdulillah dapat kapal yang bagus dan lumayan bersih. Perjalanan juga lancar selama sekitar 3 jam sampai ke pelabuhan Merak. Karena waktu tiba disana sudah hampir subuh, maka kami tidak langsung melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Kami singgah dahulu di masjid. Dari informasi temannya Lala, bus langsung menuju Bogor baru ada pukul 07.00 pagi. Artinya kami punya alternatif untuk transit ke terminal Kampung Rambutan baru kemudian lanjut menuju Bogor. Tak apa.

Dari terminal Kampung Rambutan, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Baranangsiang. Tidak lama kok perjalanannya, hanya sekitar 1 jam. Kemudian lanjut lagi menuju terminal Bubulak dengan menumpang angkot jurusan Bubulak. Kukira perjalanan sudah selesai, tapi rupanya masih menyambung angkot lagi jurusan Kampus Dalam. Benar-benar perjalanan panjang. Kami turun di Babakan Raya alias Bara, tepatnya di ‘tembok berlin’, julukan mereka untuk pintu kecil dari Bara menuju kampus IPB. ckckck, benar-benar kecil dan hanya muat untuk 1 orang. Aku jadi teringat dengan pintu serupa di Unila, di belakang FKIP menuju Kampung Baru, hehe.

Dari ‘tembok  berlin’, Lala langsung menuju asramanya (mahasiswa tingkat pertama masih wajib asrama), sementara aku, ibu dan adik laki-lakiku yang masih kelas 2 SD, Farhi, langsung ke penginapan di Wisma Amarilis. Karena sudah terlalu lelah, maka kami menggunakan jasa ojek untuk kesana. Hanya tiga ribu kok, daripada jakil hehe.

Hari pertama kami di Bogor, rencananya sih mau langsung jalan keliling sekitar IPB setelah mandi dan istirahat sebentar. Tapi rupanya hujan menyapa sampai sore. Jadilah kami hanya bisa jalan sore setelah ashar. Itupun hanya ke depan, ke Bara tempat wisata kuliner kecil berada. Bara sebenarnya adalah sebuah jalan raya umum yang dilewati kendaraan umum sperti angkot. Tapi dari penampakannya, Bara lebih seperti gang kecil yang di samping kanan kirinya berjejer kios-kios pedagang. Toko buku, alat tulis, sepatu, baju, warung nasi, warung tenda, gerobak jajanan, minimarket, ada disini. Kami mampir di sebuah minimarket yang menjual es krim cone super murah. Cuma Rp 2.000,-/cone! Ada bangku berderet di depan jendela kaca yang menghadap ke jalan lagi. Asik banget deh untuk menghilangkan galau, hehe.


Nah, kalau hari Minggu, Bara jadi tempat pasar kaget digelar. Jalan yang kecil semakin sempit karena dijejali pedagang plus pembeli dari berbagai sudut. Isinya ya seperti pasar kebanyakan. Baju murah, alat rumah tangga murah, yah semacam itulah. Kami kebetulan sekali bisa mendapati pasar kaget ini di hari Minggu pagi hehe.


Hari kedua di Bogor, hujan masih menyambut kami. Memang benar ya, Bogor kota hujan. Tak bisa diprediksi hujan disini. Bisa saja sekarang panas, tapi kemudian hujan tiba-tiba mengguyur. Baru  percaya deh ketika Lala bilang harus selalu bawa payung kemana-mana. Setelah hujan reda, kami sempatkan keliling kampus IPB yang kata Lala sih bagus. Memang ada beberapa spot yang bisa dijadikan latar belakang bernarsis ria di IPB. Misalnya saja di depan Gedung Widya Wisuda, Gladiator, taman rektorat, Gedung Andi Hakim Nasoetion atau gedung rektorat, danau, dan beberapa ruas jalan yang rimbun oleh pepohonan. Ini dia beberapa tempat yang sempat kami abadikan.




Setelah puas berkeliling kampus, kami langsung bersiap jalan ke tempat yang telah kami rencanakan. Apakah itu? Jeng jeng jeng... Kebun Raya Bogor! :D

Perjalanan kesana ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Kukira Lala sudah tau rute tepatnya, tapi rupanya dia hanya tau gambarannya saja. Gubrak! Setelah tanya sana-sini, kami naik angkot Kampus Dalam dari Bara menuju terminal Trans Pakuan. Lalu lanjut dengan bus Trans Pakuan menuju Kebun Raya. Kami sudah tanya sih ke kondektur harus berhenti di halte mana untuk menuju ke Kebun Raya. Tapi setelah sekian lama dan pada akhirnya bus berhenti di halte terakhir di depan terminal Baranangsiang, kami tanya ulang. Katanya cukup dengan menyebrang dan jalan kaki mengikuti trotoar hingga sampai ke gerbang utama Kebun Raya Bogor. Tapi rupanya perjalanan ini serasa tak ada ujungnya. Jauuuuhhh, pemirsa! Busyet dah, kami dibohongi gak sih?

Tapi kelelahan kami terbayar sudah setelah sampai di gerbang utamanya. Serasa orang yang puasa ketemu Magrib, hehe. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 14.000,-/orang, rasanya kami lepas dari hiruk pikuk dan kepenatan kota yang tadi kami lewati di jalan. Jajaran pohon, rumput hijau, bunga-bunga, danau luas, ah.. miniatur hutan Indonesia. Serasa ingin menghirup udara sebebas-bebasnya dan sebanyak-banyaknya.

Dari papan informasi dekat gerbang utama, Kebun Raya Bogor ini dahulunya dibangun untuk meneliti berbagai macam tumbuhan. Pantas saja, disini banyak sudut yang khusus berisi satu jenis tumbuhan saja, semisal rumah anggrek yang isinya berbagai macam anggrek, taman palem, dan lain-lain. Sayangnya, kami tak punya banyak waktu untuk mengelilingi semua sudut itu. Jadi tampaknya aku perlu membuat agenda lagi ke tempat ini, hehe.


Duh, Bogor... tunggu aku lagi deh disana :D

Informasi yang mungkin berguna :
  • Bagi anda yang punya rencana kesana pakai bus, khususnya ke sekitar kampus IPB Dramaga, beberapa rincian biaya yang bisa dianggarkan adalah :

-          Bus Rajabasa – Bakauheni (AC)          : Rp 25.000,-
-          Kapal Bakauheni – Merak                     : Rp 13.000,-
(ada beberapa kapal yang meminta biaya tambahan untuk kelas yang lebih tinggi, berkisar Rp 7.000.- - Rp 10.000,-)
-          Bus Merak – Kampung Rambutan    : Rp 25.000,-
-          Bus Kp. Rambutan – Baranangsiang : Rp 8.000,-
-          Angkot Baranangsiang – Bubulak      : Rp 4.000,-
-          Angkot Bubulak – Kampus Dalam     : Rp 3.000,-
-          Ojek dalam kampus                                                : Rp 3.000,-
  • Untuk penginapan, ada beberapa pilihan tempat. Di dalam kampus, ada sedikitnya dua wisma yang disewakan untuk umum, yaitu Wisma Internasional dan Wisma Amarilis. Tarifnya mulai dari Rp 150.000,- untuk kapasitas 2 orang/kamar.
  • Selalu sedia payung kemanapun anda pergi. Hujan di Bogor benar-benar tidak bisa diprediksi dan sering datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya :D