Halaman

07 Januari 2011

BANDUNG, TEU KAHILAPKEUN!

Perjalananku keliling Indonesia kini sampai di kota Kembang, Bandung. Secara, kota ini menarik perhatianku beberapa waktu belakangan ini. Banyak teman yang bilang kota ini punya banyak keistimewaan. Tentu saja, aku tertarik dan percaya, apalagi ketika aku sudah menginjakkan kakiku langsung disana. Tapi, di balik banyak keistimewaan, pasti ada kekurangan yang kutemui di beberapa titik yang kulewati.

Perjalanananku diawali dengan menapakkan kaki di rumah seorang kerabat di daerah Buah Batu. Angin semilir dan hawa dingin langsung menyambutku ketika aku baru saja keluar dari mobil. Perjalanan panjang dari Palembang ke Bandung membuatku ingin cepat-cepat mandi dan menikmati sejuknya sore di beranda rumah. Tapi ketika aku menyentuh air di kamar mandi, wow! Serasa dicampur denngan berbongkah-bongkah balok es! Hehe...
Karena hari sudah sore dan perut minta diisi, kuputuskan saja untuk mencari jajanan khas sambil merasakan nuansa sore yang berbeda disini. Aku menemukan warung batagor! Hm, makanan satu ini terbilang sebagai makanan favoritku. Di Lampung atau di Palembang memang ada, tapi kata teman-temanku batagor disini beda. Jadi kucoba saja.

Dan ternyata memang benar. Ada dua jenis batagor yang dijual. Ada yang kering dan ada yang berkuah. Kalau batagor kering, penyajiannya hampir sama dengan somay yang ada di Lampung atau Palembang atau tempat-tempat lain. Digoreng lalu dibumbui dengan saus kacang pedas. Kalau yang berkuah tak pakai sambal kacang, tapi dikuahi dengan kuah hangat yang lezat. Hm, mak nyuusss deh! 

Selesai makan batagor, waktunya istirahat untuk mempersiapkan energi untuk jalan-jalan keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali, aku dan seorang teman sudah bersiap-siap untuk mengelilingi sebagian kecil kota Bandung dan sekitarnya. Satu hal yang membuat kami harus berpagi-pagi adalah sering macetnya jalan di kota Bandung. Entah karena ruas jalan yang kecil atau karena sudah terlalu banyaknya kendaraan, atau karena dua-duanya?
Tak banyak sih yang kami lalui, karena akan repot sekali kalau harus berkali-kali berganti angkot. Jadi kami hanya melewati saja ruas jalan yang kira-kira masih temanku ingat. Dayeh Kolot, Perempatan Kopo, sampai Tegalega.

Nah, disinilah aku melihat lagi keistimewaan kota Bandung. Disini, orang-orang menyebutnya Bandung Lautan Api karena disinilah perjuangan Bung Tomo merebut tanah air dari penjajah. Mungkin karena peristiwa itu ya, berdirilah monumen berbentuk api yang menjulang tinggi di tengah-tengah lapangan.
Di sekitarnya, terdapat semacam pasar yang ramai dengan pedagang asongan. Hampir segala macam barang dijual disini. Dari pakaian hingga jajanan pasar. Harga yang ditawarkan pun sangat murah dan di bawah harga pasaran. Kalau kita pintar menawar, mungkin akan dapat barang dengan harga yang sangat-sangat murah.

Agak ke pinggir, ada tempat khusus menjual tanaman hias. Segala jenis tanaman hias, bunga-bunga, pot-pot cantik, pupuk, dijual disini. Harganya pun cukup murah. Maka tak salah kalau temanku sampai memborong tiga macam tanaman sekaligus untuk oleh-oleh ke Palembang.

Rasanya, belum puas mengelilingi kota Bandung dan sekitarnya. Aku yakin masih banyak keistimewaan dari kota yang terkenal dengan kreatiitasnya ini. Tapi mau bagaimana lagi, jatah berjalan-jalan sudah habis. Aku harus pulang kembali ke Palembang.

Hm, Bandung, teu kahilapkeun deh!