Halaman

16 Januari 2010

BELAJARLAH, NANDA...


Belajarlah tentang birunya cinta pada langit, nanda...

Jika terluka kerenanya, kau bisa titikkan hujan dari sudut mata, seperti langit meluruhkan hujan dari gumpalan awan-awannya

Belajarlah tentang tenangnya rasa cinta pada laut, nanda...

Jika gelisah karenanya, kau bisa alihkan rasamu pada hal lain, seperti laut mengalihkan gelombangnya pada kapal-kapal yang berlayar

Belajarlah tentang teduhnya mencintai pada awan, nanda...

Jika kau ingin memberi, kau bisa memberi keteduhan seperti kumpulan awan yang memayungi kita hari ini

OOO

Aku belajar tentang birunya cinta padamu, bunda...

Jika terluka karenanya, aku berlari ke pelukanmu

Aku belajar tentang tenangnya rasa cinta padamu, bunda...

Jika gelisah karenanya, aku ceritakan padamu

Aku belajar tentang teduhnya mencintai padamu, bunda...

Jika aku ingin memberi, kuberi kau seluruh cinta seperti kau memberiku seluruhnya

PENCURI WAKTU YANG DIAM-DIAM

:untuk rama

Sajak-sajakku lindap dalam mimpimu

ketika kau diam-diam mencuri waktuku

pantas, ku sering kehilangan malam-malamku

hingga yang kudapati hanya senja di bibir waktu

sejak kapan kau terbiasa mencuri waktuku, rama?

-sejak aku melihat senyummu, batari-

kupu-kupu lindap di rumput perdu

bunga sore merekah penuh

itu yang akan menyambutmu ketika kau juga ingin mencuri hatiku

sejak kapan kau mecoba mencuri hatiku, rama?

-sejak kau suguhkan senyummu untukku, batari-

senja yang kau sisakan kini, telah mengendap di ruang kalbu

mungkin kali ini, malam akan kau cuiri lagi

diam-diam

Natar, 29 Oktober 2009

MEREKA MERAMPAS MAKAN SIANGKU

Pernah gak ketika kalian sedang asik-asiknya makan siang, tiba-tiba ada yang ingin merebut makananmu? Dan karena kau tak ingin kehilangan makananmu, maka kau mencegahnya. Tapi ia merebut paksa hingga kau tak tahu harus berbuat apa-apa. Pernah mengalami peristiwa itu? Bagaimana perasaanmu? Kalau belum pernah, aku akan menceritakannya sebab aku pernah mengalami hal itu.

Kejadian yang berasa gado-gado ini –aku menyebutnya demikian sebab aku memang tak mengerti bagaimana perasaanku dicampur adukkan- terjadi beberapa hari yang lalu. Saat itu, siang. Aku dan seorang temanku ke kantin untuk makan siang. Bagi orang yang sudah pernah makan di kantin Mipa, pasti tahu kondisi kantin yang terletak di belakang gedung Kidas itu. Beberapa kantin berderet memanjang dan di depannya masih terdapat banyak bangku dan meja bagi orang yang ingin makan diluar kantin. Dan kami memilih makan diluar sebab waktu itu suasana diluar tidak terlalu ramai.

Kami memesan makanan yang sama, soto daging. Beberapa saat kemudian, pesanan kami datang. Dua piring nasi putih, dua mangkuk soto daging, satu piring kecil kerupuk dan satu set bumbu pelengkap soto (kecap, sambal, dan garam) serta air putih. Hm, rasanya kami sudah tak sabar ingin menyantapnya!

Ketika sedang asik-asiknya makan, datanglah beberapa anak jalanan, mungkin sekitar lima atau enam orang. Masih kecil-kecil, kutaksir usianya tak lebih dari sepuluh tahun. Mereka berpencar meminta-minta. Dari satu kantin ke kantin lainnnya, di dalam dan diluar kantin. Kadang, langsung meminta begitu saja dengan menadahkan tangan, kadang pula dengan menyanyikan satu buah lagu –tepatnya satu baris- dengan nada sumbang dan hampir tak terdengar.

Kami tak luput dari hampirannya. Awalnya, kami dihampiri oleh satu anak yang lebih besar. Langsung menadahkan tangannya dan meminta uang. Kami serentak menjawabnya dengan,

“Maaf ya...” Sang anak pergi meski sempat membandel dengan terus meminta-minta. Kami meneruskan makan. Tapi tak berapa lama kemudian, datang kembali anak yang lebih kecil, mungkin usianya sekitar tujuh atau delapan tahunan. kali ini ia ingin menyenyikan satu baris lagu. Tapi kami memotongnya dengan jawaban yang sama seperti untuk anak pertama. Rupanya, anak yang satu ini punya nyali yang lebih besar. Ia tetap meminta, bahkan terkesan sangat memelas.

Aku berniat memberinya uang, mungkin lima ratus atau seribu rupiah. Tapi kutanya dulu dia.

“Ibunya kemana?” dia tak menjawab. Ia masih terus meminta dengan memelas. Kuulangi lagi pertanyaanku hingga ia mau menjawabnya. Sampai disini, sebenarnya selera makanku sudah hilang.

“Ibu kerja, nyuci.” Akhirnya ia menjawabnya juga. Belum sempat aku menanyakan hal lain, ia sudah memotong lagi dengan cepat sambil menunjuk mangkuk sotoku.

“Mbak, ini untuk saya ya?” aku berkerut kening. Melongo. Berani sekali ya dia meminta makanan yang sedang aku makan. Melihat itu, temanku langsung menjawab.

“Eh, jangan! Mbaknya kan belum makan.”

“Saya juga belum makan, mbak.” Jawabnya tak mau mengalah. Semakin membuatku merasa aneh. Aku berniat memberinya uang, kucari selembar uang ribuan di dalam tasku. Sedang sibuk-sibuknya mencari, si anak kecil telah merebut mangkuk sotoku dan menyuapkan isinya ke mulutnya. Aku sontak melongo. Temanku juga. Tak mengira akan seberani itu.

Teman-temannya yang lain, kembali mengahmpiri kami. Saling berebutan menghabiskan soto hasil rampasan. Kerupuk di piring kecil yang masih ada pun, tak luput mereka jarah. Habis, tak ada sisa. Sotoku? Hanya tinggal sedikit kuah yang berceceran di meja. Mereka pergi begitu saja setelah menghabiskan makanan dengan sangat berantakan, tanpa mengucapkan terimakasih, apalagi permintaan maaf. Kami berdua hanya diam. Terutama aku. Aku tak bisa berkata apa-apa ketika melihat ‘adegan mengenaskan’ di depanku. Makan siangku direbut anak-anak jalanan?

OOO

Mungkin ini satu teguran bagiku. Aku mengambil sisi baiknya saja. Mungkin aku kurang membagi rezekiku hingga rezekiku harus diambil paksa oleh Allah dengan cara yang berbeda. Anak-anak itu, memang anak-anak jalanan yang tak punya sopan santun. Orang tua mereka mungkin tak pernah mengajarkan bagaimana cara bersikap. Mungkin karena faktor ekonomi. Jelas, tak ada waktu untuk mengajari hal-hal seperti itu bagi mereka. Lingkungan tempat mereka tinggal pun, mungkin telah mengajari mereka untuk berbuat apa saja demi untuk mengisi perut.

Sebagian kita mungkin tak peduli dengan mereka (aku sendiri pun sebenarnya terkadang begitu). Sebab, begitu rancu mana yang benar-benar tak punya dan mana yang hanya dimanfaatkan orang lain atau orang tua mereka sendiri. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Orang tua merekakah yang tidak pernah meluangkan perhatian dan mengajarkan agama serta sopan santun? Kalau ya, bagaimana dengan anak-anak jalanan yang memang tak punya orang tua? Orang-orang yang ada di sekitarnya kah? Atau kita sendiri, yang mungkin telah lalai membagi rezeki yang memang sudah jadi hak mereka...

Natar, 14 Januari 2010