06 April 2015

I'm 29 Years Old :D

Hei, ketemu lagi dengan tanggal 5 April. Rasanya seperti meneropong perjalanan hidup seorang perempuan kalau lihat tanggal ini. Dua puluh sembilan tahun lalu menurut kalender masehi, dan tiga puluh tahun menurut kalender hijriah, semuanya berawal. Lahir ke dunia, dan nanti akan meninggalkan dunia. Mengingat-ingat, lebih banyak bersyukurnya atau lebih banyak mengeluhnya. Menghitung-hitung, lebih banyak musibahnya atau lebih banyak nikmatnya. Dan jawabannya adalah lebih banyak nikmat, semoga lebih banyak bersyukur juga daripada kufurnya. Aamiin.

Tak ada yang patut dirayakan memang, tapi dalam tradisi keluarga, hari lahir menjadi momen spesial tersendiri. Biasanya kami membuat suatu hidangan untuk yang berhari lahir. Tak terlalu mewah, hanya kue yang dihias, atau puding, atau makanan lain yang sederhana dan mudah dibuat. Seringnya aku jadikan kesempatan untuk uji coba kue hias, walaupun kebanyakan gagalnya, haha. Bukan masalah apa yang diberi, tapi lebih pada berkumpulnya anggota keluarga.

Berhubung sudah dua orang anggota keluargaku yang hijrah keluar Lampung, maka hanya ada 5 orang di rumah yang bisa kumpul. Aku bersyukur masih bisa berkumpul seperti ini, saling mendokan, saling menguatkan. Kami juga biasa saling memberi hadiah, karena aku percaya saling memberi hadiah akan saling mencintai. Apapun itu, kami akan senang karena kami merasa dicintai.

Well, satu doaku untuk tahun ini : tidak menjadi seorang perempuan yang banyak mengeluh.
Special from my lil-brother, Farhi :D || bisa aja kasih makanan kesukaan, hehe

Special from my lil-sister, Lala || kejutan di pagi hari dari Bogor :D

24 Maret 2015

Kamboja

Aku ingin terbang. Begitu ingin terbang ke langit yang begitu tinggi. Terbang bersama wangi kamboja kuning yang mekar dan gugur setiap pagi.

Seperti apakah rasanya disana? Waktu itu aku pernah sekali mengamati langit. Begitu dekat dengan kumpulan awan. Semuanya putih bergumpal. Rasanya mungkin empuk kalau aku duduk atau berbaring di atasnya, hehe.

Ada apakah denganku? Aku punya kebiasaan baru. Memungut kamboja yang jatuh lalu menghirup aromanya. Harum. Aku tahu kamboja itu tak akan bertahan lama ketika sudah terpisah dari tangkainya. Tapi setidaknya ia tak mati sia-sia di tanah.

Ada yang bilang, kebiasaanku ini terlihat mistik. Haha, apakah mereka takut? Secara, bunga kamboja ini identik dengan bunga yang ada di areal pemakaman. Atau aku yang secara tidak sadar menebar aura mistik setiap kali aku datang dengan sekuntum kamboja kuning di tangan. Entahlah, aku tertawa saja. Sedikit aneh ya, hehe.

Kamboja itu...
Kuning. Mungkin karena inilah, kenapa setiap kali ada yang berduka, ada sepotong bendera kuning yang dikibarkan di depan pagar. Kalau diterpa angin, ia melambai –bagiku seperti seseorang yang melambaikan tangan untuk pergi namun tak akan kembali. Kalau terkena hujan, ia kuyup –bagiku seperti seseorang yang menunduk karena akan dilupakan.


Kamboja itu...
Wangi. Setiap bunga punya aromanya masing-masing. Meski ada pula beberapa bunga yang tak mengeluarkan aroma wangi. Dan kamboja selalu wangi. Benar. Aromanya khas seperti lagu sendu di malam hari. Seperti seseorang yang mencoba tegar ketika sendiri.


Begitulah.


02 Januari 2015

Selama Hujan Datang














Aku selalu membiarkan jendela terbuka ketika hujan
; angin
karena anginnya membawa aroma kerinduan
; juga bau hujan
ia selalu saja menggoda seperti perempuan
; kemudian suara gemericiknya
hampir-hampir membuat aku lupa dimana aku berpijak


seperti malam ini,
perempuan yang kunamakan hujan
datang tanpa mengetuk pintu depan
wajahnya seperti kemarin malam
tak tampak mata
hanya senyum
sepenuh wajah sepenuh senyum

tiba-tiba ia bilang;
                aku akan tinggal disini malam ini. angin sedang sibuk mengantar dendam
pada seseorang. aku takut pulang sendirian. apa kau punya tempayan?

aku hanya punya sebuah kolam
tak terlalu besar memang
tapi kurasa cukup untuk sekedar membuatmu rehat sebentar
di samping kamar, di bawah jendela yang beratap teritisan
kau bisa bermain bersama ikan-ikan
juga berhelai-helai daun durian yang berguguran –aku belum sempat bersihkan, maaf-

tak tampak mata
hanya senyum
sepenuh wajah sepenuh senyum
perempuan yang kunamakan hujan tersenyum melihat kolam
berlarian mengejar ikan
menari bersama guguran daun durian

ooo

aku selalu membiarkan jendela terbuka ketika hujan
; angin. karena anginnya membawa aroma kerinduan
; lalu bau hujan
; kemudian kolam di bawah teritisan

ooo

sudah berapa lama hujan ini datang?

(aku mendapati diriku menatap jendela yang terbuka selama hujan datang. airnya jatuh memenuhi kolam di samping jendela. ikan-ikan berlarian, terkadang bersembunyi di bawah daun durian yang gugur dan dengan kebetulan atau tidak, jatuh ke kolam. dua hari belum kubersihkan...)

Natar, 18 November 2014

Baca juga : Kita dan Hujan Yang Datang