11 Juli 2016

Idul Fitri 2016

Happy Ied Mubarok :D

Selamat Idul Fitri 1437 H. Alhamdulillah tiba juga di hari yang fitri setelah berpuasa 30 hari (walaupun aku puasanya gak penuh T,T hiks!

Setelah kemarin menjalankan puasa perdana bareng suami, otomatis lebaran ini perdana juga bareng suami dan keluarga besarnya. Baginya juga sama, perdana lebaran bareng keluarga besarku. Hm, kita mulai ceritanya dari malam lebaran aja kali ya :)

Ini kali pertama aku ikut takbiran keliling kampung. Dulu sih memang pernah, tapi itu duluuuu banget, waktu aku masih sangat muda, masih imut-imut sekali dan masih berseragam merah putih, hehe. Selama bertahun-tahun aku mengenal pekerjaan rumah (beresan dan masak) sebelum hari raya, aku gak pernah ikut keliling lagi. Biasanya aku hanya menunggu arakan takbir lewat depan rumah. Nah, berhubung tahun ini aku sudah ada yang boncengin untuk takbir keliling -dan pekerjaan rumah pun sudah hampir selesai, maka aku ikut ajakan adikku untuk sekali-sekali jalan pas malam takbiran. 

Wew, sekalinya ikut keliling, pas jalanan habis hujan deras. Becek dan licin! Maklum, jalan di kampung belum semuanya tersentuh aspal. Kalaupun bukan tanah, ya ditanam batu-batu. Tapi, walaupun sehabis hujan gitu, warga juga masih banyak yang semangat ikut lho. Buktinya jalanan tetap penuh sama rombongan utama (bawa mobil hias miniatur masjid), rombongan pengendara motor dengan lampu warna warni punya anak-anak, rombongan pesepeda, dan beberapa warga yang menunggu di depan rumah masing-masing. 

Kami yang kebagian barisan belakang, sudah gak konsen lagi untuk takbiran. Alhasil malah lebih fokus liatin jalan supaya gak kepeleset haha. 

Fotonya cuma dapet 1 ini yang bagus :V

Rombongan keliling kampung dari mushola ke mushola dan rehat sejenak di lapangan (lumayan jauh dari rumahku), lalu lanjut lagi sampai ke masjid awal rombongan mulai arakan. Aku dan adikku cukup sampai dengan rumah aja, sudah cape naik motornya gegara licin dan motor sudah gak karuan lagi (padahal motor mamas baru dicuci paginya wkwkwk).

Pagi hari, setelah sholat Ied, lanjut sungkem kayak lebaran tahun-tahun lalu. Kali ini tambah 1 orang pendatang baru, ihiiiyy suami akuuhh :D dan bernarsis ria depan kamera!

Rame yaaaa :D :D
Hari pertama lebaran kali ini gak kayak biasanya. Aku gak bisa lama-lama diem di rumah dan nyambut tamu yang datang. Aku sudah punya keluarga baru yang lebih rame lagi. Jadi, setelah sungkem sama mbah di samping rumah, trus makan ketupat dan salam-salaman sama tetamu, aku dan suami lanngsung cuss ke rumah Mamah mertua.

Sayangnya pas kesana sudah gak lengkap lagi keluarganya (datengnya sudah agak siang sih, sekitar jam 10an), tapi masih ketemu Mamah, mbak Diah dan keluarganya, mbak Neneng, dan Mas Tejo. Keluarga mbak Iin lagi di Depok dan keluarga mas Wahyu sudah jalan ke rumah saudaranya.

Well, intinya kalau sudah punya keluarga, waktunya gak bisa full di rumah lagi. Harus bagi-bagi karena saudara juga sudah bertambah dari pihak suami/istri. Juga, karena hari liburnya juga singkat, makanya sudah gak bisa leluasa jalan kemana-kemana. Tapi tetap bersyukur karena masih bisa berkumpul, makan bareng, becanda bareng, dan jalan bareng walaupun cuma sebentar.

Adik sepupu yang ceriwisnya minta ampun! :D :D
Akhirnya di hari terakhir libur lebaran, aku dan suami terjebak hujan beberapa kali pas lagi silaturahmi. Selpih aja deh, wkwkwk.



Selamat Idul Fitri 1437 H yaaaa.. Taqobbalallahu minna waminkum...
Mohon maaf lahir dan batin :)

14 Juni 2016

Ketenangan

Nemu file ini di komputer. Ternyata sudah lama (metadatanya menunjukkan tanggal 8 September 2014). Ini percakapan dengan seorang teman. Cuma coretan iseng sih, tapi setelah dipikir-pikir, iya juga. Hati ini tenang hanya dengan mengingat Allah. 

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

A : Aku
B : Teman


A : Sebenarnya apa yang kita cari selama ini? Ketenangan? Kebahagiaan?
B : Kenyamanan
A : Dan kemana kita mencarinya?
B : Gak bakal ketemu, adanya di sisi Allah. Paling deket nyamannya itu Cuma pas sex orgasm. Nah itulah Cuma dikasih nyaman di bumi, sepersekian detik
A : Gak bakal ada kenyamanan ya
B : Ada juga ketenangan. Pas tidur, berkeluarga
A : Mungkin ada yang salah sama diriku, sering gak nyaman, sering gak tau mau kemana sebenarnya.
B : Sama aja. Saya agak tenang karena nambah pengetahuan arah yang benar dengan belajar Alquran
A : Apa dirimu pernah merasa gak nyaman dengan pekerjaan?
B : Pernah, sering. Tapi ya inilah pekerjaan. Yang dikejar dan yang menghampiri rezeki itu. yang jelas, saya hidup bukan untuk kerja, tapi uuntuk belajar. Cari hikmah. Saya gak mau sibuk untuk kejar selain ilmu dan hikmah. Semua kerjaan itu sama. Up and down. Kalau bisa hepi di kerjaan, itulah rezeki. Menjadi muslim itu kerja juga yang paling utama. Sekarang saya tanya, kenapa kamu muslim?
A : Mungkin diriku belum menemukan titik dimana aku benar-benar merasa nyaman
B : Q.S Az Zumar : 23
A : Mungkin diriku lagi jauh sama Allah, jadi sering disorientasi.
B : Mungkin arahmu yang salah. Mencari harta kayak tikus lari di roda.
A : Bahkan untuk sampai pada pemikiran itu pun, gak.

ooo

Karena percakapan itu terhenti, jadi aku hanya bisa bermonolog.
~ Kenapa kamu muslim?
: Karena islam itu menenangkan?
~ Kalau begitu kenapa masih mencari ketenangan?
: Berarti belum menemukan Islam secara benar ya
~ Kadang merasa tenang, tak peduli dengan sibuknya dunia. Bukankah kalau mencari akhirat, akan diberi bonus dunia? Sedang kalau mencari dunia, akhirat belu tentu dapat.
: Berarti kau masih berada di zona dunia. Hanya dunia
~ Entahlah. Banyak hal yang tidak kumengerti. Belum kupahami. Dan masih kucari. Tapi kadang tak tahu apa yang kucari.
: Hatimu. Lihatlah pada hatimu. Mungkin masih ada penyakit dalam hatimu. Sekecil apapun penyakit, ia tetaplah penyakit yang membuat hatimu tidak sehat. Dan kalau hatimu tak sehat, maka pikran, tingkah laku, dan ucapanmupun tak sehat. Itulah kenapa kau belum merasa nyaman dan tentang. Begitu saja. Sederhana ya.
~ Rasanya aku tahu ini gara-gara siapa. Dia. Kemarahan telah membuat setan masuk dalam hatiku untuk terus menggoda dengan kata-kata semacam ; dia itu masalahnya.
: Cobalah untuk bersyukur dan tetap bersyukur atas apapun yang kau terima. Pekerjaanmu, keadaanmu. Itu akan membuat kau tenang. Menciptakan zona nyaman untukmu hingga kau selalu semangat.
~ Mungkin ya, tapi sulit. Bagiku, sekali tidak nyaman, aku akan selalu tidak nyaman.
: Berdamailah dengan hatimu sendiri, laila.


06 Juni 2016

Ramadhan 2016 #1st time with husband :D :D

Assalamualaikum...

Marhaban Ya Ramadhan.. Alhamdulillah ya umur kita sampai di bulan yang penuh berkah ini. Dan.. ini Ramadhan pertama bersama suami! :D :D yeeeyyy!!

Ceritanya lagi ditinggal ibu sama abah ke Jawa, dan baru bisa sampai rumah pagi tanggal 6 Juni (artinya harus melewati sahur pertama tanpa ibu). Jadi, aku agak gimana gitu, secara harus siapin sendiri sahur untuk orang di rumah.Alhamdulillah, gak perlu rempong karena malam pertama tarawih ada bagi-bagi nasi berkat. Kalau kata orang Jawa, namanya Punggahan, atau secara umumnya disebut Tarhib.

Seperti kebiasaan dari tahun ke tahun, malam pertama tarawih, masyarakat di daerah tempatku tinggal membawa nasi dan lauk yang dibungkus dalam satu wadah. Biasanya satu bungkus cukup dimakan untuk seorang atau dua orang. Isinya terserah orang yang membawa. Kalau aku biasanya yang praktis-praktis aja, kayak sambal telur dan mi goreng, hehe.

Nah, setelah sholat tarawih, nasi-nasi ini dibagikan pada para jamaah sholat. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, semuanya kebagian. Bahkan sampai ada yang sisa karena satu orang biasanya bisa bawa dua atau tiga bungkus. Yang kejatuhan rezeki ya yang deket mushola ini. Sebagian besar jamaah gak mau bawa pulang lebih dari satu bungkus nasi, makanya sisanya ya terpaksa taruh di rumah. Nah, semalem di rumahku dapat sampai 4 bungkus! waaahhhh!

Karena sebelum tarawih kami sudah makan malam, alhasil, nasi-nasi beserta lauk ini harus masuk kulkas supaya gak basi. Sedikit-sedikit kalau dikumpulin jadi banyak juga nih lauk. Pas sahur tinggal angetin aja, hehe.

Alhamdulillah punya suami yang mau bantu untuk siapin sahur (karena aku sendirian yang siapin). Oles-oles roti mentega dan buat susu, jadilah :D :D 
#semoga bukan karena takut aku marah-marah kalau gak dibantuin haha

Lagi jatuh cinta sama suami :D :D :D

Well, ini kisah sahur pertamaku bareng suami. Mana kisahmu? :) :)