09 Juni 2026

Surat Untuk Wafa #3

Halo, Wafa. Ini ibu saat usia kamu 3 tahun. Ibu nulis ini waktu Wafa sudah tidur malam di samping ibu.

Beberapa hari kemarin kita sedikit sibuk membuat bingkisan kecil untuk dibagi2 ke sepupu Wafa ya. Gak banyak sih, karena memang bukan perayaan, tapi syukuran.

Wafa

Bersyukur karena Wafa terus dikasih sehat sampai 3 tahun ini. Bersyukur karena Wafa makin pintar, tambah akal, tambah cerdas, tambah semua kebaikan lah.

Apalagi ibu, sangat2 bersyukur sudah dikasih amanah berupa gadis cantik seperti Wafa.

Wafa, sore tadi, tiba2 ibu melow sendiri. Ternyata bayi mungil yang dulu masih dibedong, dulu bisanya cuma nangis, sekarang sudah tinggi besar, sudah bisa minta macam2. Sudah banyak sekali mengerti. Sudah macam2 pula tingkahnya.

Kok ibu tadi mau nangis ya. Sudah 3 tahun aja, sebentar lagi mau sekolah dong. Ibu sama siapa di rumah? 😭

Wafa, setelah terrible two berlalu, sekarang masuklah fase threenager. Kamu tiba2 jd bisa mandiri. Mau apa2 sendiri. Gak mau dibantu walaupun pada akhirnya masih perlu bantuan juga. Wafa merasa sudah bisa. Lucu deh jadinya sekaligus terharu juga.

Setahun kemarin, kita sama2 belajar menata emosi. Wafa yang mulai belajar lepas popok, ibu yang belajar mengendalikan emosi ketika Wafa kelepasan ngompol di lantai. Jujur, ibu baru menyadari betapa bodohnya ibu waktu marahin Wafa meski alasannya mungkin ibu cape atau lapar, atau overstimulasi. Betapa pendeknya pikiran ibu yang menuntut Wafa untuk cepat mengerti kapan harus ke kamar mandi, atau bagaimana membedakan mau pip atau pup. Padahal Wafa baru melihat dunia 2 tahun.

Wafa juga belajar untuk melepas rasa paling nyaman semenjak lahir, menyusu pada ibu. Meski kita belum berhasil melepas satu sama lain di usia Wafa yang 2 tahun, tapi ternyata Wafa bisa juga lepas di usia menjelang 3 tahun ini. Gak apa2 ya nak, mari kita pelukan bareng merayakan acara sapih yang tanpa drama berarti ini.

Wafa, ibu selalu senang melihat Wafa gembira saat dibuatkan mainan sederhana. Bahkan, Wafa sering minta dibuatkan permainan biar bisa dekat sama ibu. Tapi, maafkan ibu ya, kalau ibu sering banget menunda2 karena pekerjaan. Bilangnya sebentar, tapi buat Wafa menunggu terlalu lama.

Wafa, terimakasih ya sudah jadi teman untuk ibu. Wafa dengan ocehan yang menggebu2 setiap kali bercerita, Wafa dengan mata berbinar setiap kali berhasil melakukan suatu hal, Wafa dengan tawa tulus setiap kali ibu bercanda. Sungguh, saat menulis ini, ibu sambil nangis. Semua hal tentang Wafa, ibu bahagia.

Maaf ya nak, kalau ibu sering kelepasan marah. Tapi sebenarnya itu bukan ditujukan untuk Wafa. Ibu tahu itu salah. Sangat salah.
Apalagi Wafa lebih mengerti perasaan ibu. Saat ibu terdiam, mulai sedikit menangis atau kesal, Wafa pasti akan langsung mendekat. Menawarkan pelukan biar ibu tenang. Dan ini yang buat ibu makin nangis karena Wafa benar2 mengerti bagaimana meredakan emosi ibu.

Dan pada akhirnya, ternyata ibulah yang belajar banyak dari Wafa. Maaf ya nak, ibu belum bisa jadi ibu yang baik untuk Wafa. Tapi, ibu janji, ibu berusaha lebih baik dan melakukan yang terbaik untuk Wafa. Apapun itu.

Selamat hari lahir, Wafa, anakku sayang. Semoga usiamu berkah ya. Bahagia selalu. Jadi anak sholihah kebanggan ayah dan ibu.

Baca juga : Surat Untuk Wafa #2

Funfact Wafa di masa ini. Wafa sudah bisa banyak hal. Kami terbiasa melakukan aktivitas sehari2 bersama. Jadi beberapa perkerjaan rumah umum, dia sudah bisa dan terbiasa juga. Misalnya membereskan pakaiannya, menata di lemari. Menuang air ke gelas walaupun masih ada tumpahannya. 

Sudah paham sekali rutinitas pribadi seperti kapan makan, mandi, bebersih sebelum tidur, dan lain-lain. Masyaallah. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Wafa ya.

26 Februari 2026

Tulisan Tanpa Arti

Pernahkah kamu ingin menulis, tapi ada ragu yang menyertai? Maksudku, kamu ingin tulisan ringan yang yah, menghibur hatimu saja. Semisal tentang cerita fiksi melankolis yang mungkin kebanyakan orang akan menilainya dengan kisah klise. Tentang perasaan suka pada masa muda contohnya. Bagimu yang melankolis mungkin akan terasa indah dan membuatmu berbunga-bunga kembali.

Catatan Kecil
Biarlah kucing saja yang mewakili

Tapi, di tengah-tengah perjalanan menulis ini, kamu dihentikan dengan sebuah tanya. Untuk apa kamu menulis ini dan kamu posting? Apa manfaatnya? Ini kisah lama yang pasaran. Ini tulisan tak bermutu. Bisamu hanya tulis beginian?

Tanya-tanya ini mengalir saja di tengah-tengah tulisan yang kamu baca soal ulasan produk, tentang sudut pandang dengan pemikiran yang mendalam, tentang tulisan dengan banyak sekali informasi baru yang dikemas menarik, tentang yah banyak hal yang baru dan benar-benar menggugah pikiran.

Tapi, kamu tanya lagi pada diri sendiri. Sebenarnya kamu menulis untuk memerdekakan hati, jiwa, dan pikiranmu kan? Lagipula, belum tentu juga ada yang baca tulisan ini kan? Haha. Lalu kamu teringat lagi. Kalau menulis hanya menulis, apa kelebihannya? Bukankah menulis juga bisa jadi ladang pahala?

Nah, bawa pahala pula ini. Benar sih, tapi kalau sedang ingin menulis yang mengalir saja, memang gak boleh? Toh gak merugikan siapapun juga kan? Ah, orang introvert memang terlalu banyak pikiran. Sudahlah, tulis-tulis saja apa yang ada dalam kepalamu itu, supaya tak terlalu penuh itu. Lalu tidurlah. Istirahatkan jiwa ragamu sejenak.

Baca juga : Cuma Catatan Perempuan