Halaman

07 Desember 2017

Wishlist Saya Di Harbolnas 2017

Dulu, untuk memiliki notebook kecil yang harganya tidak sampai Rp 3.000.000,-, saya hanya bisa membayangkannya saja. Juga, berandai-andai ketika saya sudah memilikinya. Saya bisa mengetik apapun cerita saya dimana saja, kapan saja, tanpa harus duduk tenang di meja yang hanya punya satu sudut pandang.

Dulu, saya begitu senang ada komputer di rumah saya. Itu sewaktu saya baru masuk kuliah. Punya sebuah komputer pada masa awal saya kuliah adalah sebuah kesenangan tersendiri. Sebab, ternyata tidak semua orang bisa punya komputer di rumahnya pada saat itu. Komputer masih terasa barang mewah untuk saya. Jadi, ketika ada komputer bertandang di meja dalam rumah saya, saya merasa sangat bahagia.

Keberadaan komputer itu bukan hanya membantu saya mengerjakan tugas kuliah, tapi juga menjadi teman saya ketika saya sedang ingin menulis. Saya memang suka menulis sejak dulu, dan baru kali itu saya bisa menuliskannya langsung ke komputer tanpa harus menulis tangan dulu untuk kemudian pergi ke tempat rental komputer.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai ingin melirik lebih lagi. Komputer yang ada di rumah memang bukan untuk saya saja, tapi berbagi pakai dengan adik-adik dan anggota keluarga lain yang memang membutuhkan. Jadi, kalau sedang dipakai oleh yang lain, terpaksa saya menunggu. Kali lain, ketika saya sedang asik-asiknya menyusun kata dan mengolah imajinasi, saya harus berhenti karena adik atau ayah saya ingin menggunakan komputer itu juga.

Alhasil, saya jadi berandai-andai lagi. Seandainya saya punya komputer pribadi atau yang lebih baik adalah saya punya laptop sendiri. Jadi, saya bisa menulis kapan saja, dan dimana saja. Saya bisa menulis di kamar menghadap jendela, atau di tempat tidur jika sedang malas, atau di ruang tamu sambil melihat keluar halaman. Andai-andai itu rupanya belum juga terkabul hingga saya lulus kuliah dan diterima bekerja.

Beberapa bulan setelah bekerja, saya ditawari teman untuk ambil laptop dengan cicilan per bulan selama 12 bulan. Karena memang itu keinginan saya dan melihat kondisi saya yang sudah punya penghasilan sendiri, maka saya ambil tawaran teman saya itu. Itulah laptop saya yang pertama dan sampai sekarang masih saya gunakan. Bagi saya, laptop itu seperti sebuah kisah yang mengharukan dan membahagiakan.

Karena sudah berumur dan sudah beberapa kali re-instal program, laptop saya itu tidak seperti awal lagi. Ibaratnya, sekarang ia sudah banyak operasi demi keberlangsungan hidupnya. Juga, daya tahan baterainya juga sudah tidak maksimal lagi. Alhasil, saya tidak bisa seleluasa membawanya seperti dulu. Saya harus duduk dekat sumber listrik kalau mau mengetik lebih lama. Belakangan ini malah saya dibuat tidak nyaman dengan beberapa tombol di keyboardnya yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketik enter, malah muncul menu perintah. Ketik spasi, malah muncul tiga huruf acak.

Laptop mini legendaris saya
Saya mencoba bertahan dengan membelikannya keyboard portable. Tapi rupanya keyboard portable yang saya beli cukup merepotkan kalau dipadankan dengan laptop. Sebenarnya saran suami saya diperbaiki saja. Tapi kalau mau niat diperbaiki, mending sekalian mengganti keyboard, baterai, dan layarnya juga (karena layarnya juga sudah hilang sedikit di samping kiri). Ternyata perbaikan itu banyak sekali ya. Maka saya berfikir ulang dan pahitnya mungkin saya lebih baik beli yang baru saja.

Saya mencari laptop yang saya pikir pas untuk kegiatan saya dan yang terpenting pas di kantong saya. Lagi-lagi, laptop masih merupakan barang mewah untuk saya. Apalagi, saya juga sudah menjadi istri yang harus pandai mengelola keuangan rumah tangga agar bisa mengebulkan asap di dapur setiap harinya.

Harga laptop yang sesuai spesifikasi saya berkisar antara 3-4 juta rupiah. Tapi beberapa bulan yang lalu, saya menemukan laptop yang benar-benar membuat saya jatuh hati. Asus Vivobook. Dengan RAM yang sudah 4 GB, saya yakin pekerjaan blogging, desain, atau membuat video, bakal lancar jaya saya kerjakan. Tapi sayangnya, harga laptop itu dua kali lipat harga yang saya perkirakan. Harga di pasaran sekitar 9-10 jutaan. Waahhh!

Andai-andai saya ini
Maka, saya mencoba untuk mencari di toko lain yang harganya bisa miring lagi. Saya memang biasa mencari perbandingan harga lewat toko online. Salah satunya yang bisa saya percaya adalah di Lazada. Apalagi, bulan Desember ini ada Harbolnas yang bisa saya manfaatkan untuk mendapat harga yang lebih murah lagi. Sebab, ketika Harbolnas datang, Lazada akan memberikan penawaran khusus #DiskonMengguncangSemesta hingga 85%.

Kenapa saya memilih Lazada?

Lazada bukan hanya situs belanja online yang bisa dipercaya, tapi juga menyediakan berbagai kebutuhan. Menelusuri Lazada, serasa menelusuri pasar besar tanpa harus merasa pegal-pegal. Lazada juga memberikan berbagai penawaran menarik, seperti diskon dan ongkos kirim gratis. Benar. Ongkos kirim gratis ke seluruh kota di Indonesia.

Tidak hanya itu, Lazada juga punya fitur yang memudahkan konsumen untuk bisa bayar di tempat saat barang yang dibeli sudah sampai. Jadi, bisa lihat kondisi barangnya sesuai atau tidak dengan pesanan. Kemudian, barang-barang yang dijual Lazada juga ada jaminannya. Garansi akan diberikan selama 14 hari sejak barang diterima.


Ada lagi fitur lain yang membantu saya. Fitur rating di Lazada yang bermanfaat untuk saya dalam memilih toko yang produknya akan saya beli. Ulasan yang ada juga cukup membantu saya dalam memilih tokonya.

Kembali pada laptop saya, rasanya saya sudah tidak sabar menanti Harbolnas di Lazada. Saya berharap, semoga andai-andai yang saya sebutkan di awal tadi bisa terkabul di Lazada. Nah, kalau kalian yang juga mau cari barang-barang yang dibutuhkan dengan #DiskonMengguncangSemesta, bisa langsung klik Lazada Affiliate saya disini.

Oke, itu wishlist saya di Harbolnas tahun ini. Mana wishlistmu?

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Aaah, jadi inget sama laptop Gigit yang udah nggak bisa dinyalain lagi...~.~

lia mengatakan...

beli yang baru giiitt..