11 Oktober 2017

Be Smart With ASUS Vivobook

Halo semuanya!
Apa kabar? Semoga tetap semangat untuk menulis yang baik-baik dan bisa mencerahkan para pembacanya ya. Apalagi untuk blogger yang aktif atau penulis cerita yang kudu setor sesuai deadline, hm sehat tuh jari-jarinya karena sering olahraga, hehe. Bicara soal tulis menulis, pasti gak jauh-jauh dari kertas, komputer, ponsel cerdas yang dibekali dengan aplikasi catatan, dan tentu saja laptop. Masing-masing media ini memang punya kelebihan dan kekurangannya, tapi tentu ada yang lebih dominan untuk bisa menghasilkan lebih banyak tulisan.

Menulis di ponsel cerdas memang praktis, begitu ada moment yang tepat, langsung buka aplikasi dan ketak-ketik disana. Tapi sedikit tidak leluasa ketika harus mengedit dan menambahkan foto atau video yang direkam menggunakan media lain seperti kamera digital. Nah, biasanya orang akan beralih ke komputer. Kinerjanya sudah pasti lebih cepat daripada di ponsel. Mata juga tidak cepat lelah karena layarnya lebar. Tapi sekali lagi, komputer tidak bisa dibawa kemana-mana. Untuk yang satu ini, sudah pasti pilihan terakhir ada pada laptop.

Kalau aku pribadi, memilih laptop tidak hanya sekedar yang bisa dibawa kemana-mana saja, tapi juga ada pertimbangan yang lain. Setidaknya, aku harus mempertimbangkan empat hal. Desain, kinerja, tampilan layar, dan ketahanan fisiknya. Maklum lah ya, selain seorang penulis, aku juga suka mengutak atik program grafis. Jadi, harus pilih-pilih produk yang memang mumpuni untuk kebutuhanku itu.

Nah, baru-baru ini, Asus meluncurkan produk baru berupa Asus Vivobook S. Dari empat hal yang aku pertimbangkan tadi, sepertinya laptop ini berada di daftar pertama wishlist belanjaanku, hehe. Mari kita cek satu per satu.

Desain
Ukurannya yang langsing (hanya 17,9 mm) dengan berat 1,7 Kg membuatnya mudah dibawa saat perjalanan. Apalagi aku yang lebih suka bawa tas model ransel tanpa embel-embel tas tangan, gak makan tempat deh! Uniknya lagi, panel layar dengan ukuran 15,6 inch full HD ini bisa masuk ke bingkai laptop ukuran 14 inch lho! Ini karena bingkai NanoEdge 7,8 mm super tipis yang bisa memberikan rasio 80% antara layar dengan badannya.

Untuk desain keyboardnya, laptop ini sudah dilengkapi dengan backlit yang memungkinkan kita tetap nyaman saat berada di ruang yang minim cahaya. Tombol satuan berukuran 1,4 mm juga menambah kenyamanan ketika mengetik. Kalau keyboardnya tidak nyaman dan tidak bersahabat dengan jari, bakalan cepat cape dan tentunya produktivitas dalam menulis pun menjadi turun. Maka hal ini yang aku pertimbangkan juga. Melihat keyboard Asus Vivobook ini, rasanya kekhawatiran akan lelahnya jari-jariku akan memudar.

Kinerja
Aku paling suka buka beberapa aplikasi secara bersamaan. Kadang menulis memang butuh penyegaran ya. Kalau ide sedang mentok, biasanya aku akan memutar film atau bermain game ringan. Kadang juga ketika sedang belajar desain grafis, tiba-tiba ingin posting tutorial atau tulisan, kan jadi harus buka beberapa aplikasi secara bersamaan. Untungnya, Asus Vivobook ini sudah dilengkapi dengan prosesor Intel Core i5 terbaru yang akan memberikan performa yang luar biasa. Didukung dengan RAM 4GB DDR4 2133MHz dan grafis NVIDIA® GeForce® 940MX, hm bakalan lancar jaya deh tuh kerjaan.


Karena aku gak hanya suka menulis, tapi juga suka utak atik desain poster, spanduk, undangan, dan membuat film pendek, maka yang aku butuhkan adalah ruang penyimpanan yang besar serta kemampuan untuk menampung berbagai aplikasi. Untungnya di Asus Vivobook ini punya dua tempat penyimpanan untuk menunjang aktivitasku itu. Untuk menginstal aplikasi yang lumayan besar, bisa menggunakan SSD. Gak perlu khawatir lemot lho. Nah untuk penyimpanan file-file seperti film pendek yang kubuat, video-video yang kurekam, serta foto-foto yang kuambil, bisa menggunakan HDD yang bisa punya daya tampung besar.

Menariknya, Asus Vivobook ini dilengkapi dengan port USB 3.1 dengan konektor type-C. Jadi, sudah bisa dipastikan mentransfer data akan 5x lebih cepat dari koneksi USB 2.0 lama. Kalau ingin menyambungkan laptop dengan berbagai periferal, display, dan proyektor, laptop ini juga sudah dilengkapi dengan slot kartu HDMI dan slot SD Card. Anti ribet deh pokoknya.

Tampilan Layar
Salah satu keunggulan layar Asus ini adalah ditanamkannya teknologi Splendid yang memiliki empat fitur mode, memungkinkan kita untuk menyesuaikan warna kontras layar dengan kebutuhan. Untuk kegiatan sehari-hari, setel di Mode Normal. Kalau mau menampilkan foto atau video dengan efek yang lebih dramatis, maka bisa menyetel Mode Vivid. Nah agar mata tidak cepat lelah, Asus menyediakan mode Eye Care yang dapat mengurangi tingkat paparan cahaya biru ke mata. Terakhir, Mode Manual yang bisa kita sesuaikan sendiri dengan keinginan.

Nah, kalau ada teman-teman di samping kanan kiri yang ikut nimbrung dengan isi laptop yang sedang kita baca, gak perlu khawatir mereka gak akan lihat secara sempurna. Laptop ini sudah dilengkapi dengan 178o teknologi wide-view, sehingga warna dan kontras tetap tajam saat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Oh iya, aku tuh suka lupa dengan banyaknya password. Bukan mau sok terkenal dengan banyaknya akun sih, hehe, tapi memang sekarang hampir semua aplikasi mengharuskan adanya akun. Jadilah, harus menghafal atau setidaknya mencatat semua kata sandi itu kalau tidak mau akun-akun itu terkunci. Dengan teknologi barunya, Asus Vivobook menghilangkan salah satu keribetan dalam menyusun kata sandi itu. Hanya dengan sidik jari saja yang sudah menempel di touchpad dan Windows Hello, laptop segera terbuka. Ini baru aman dan praktis, tanpa khawatir data dilirik orang lain karena mengetahui sandi untuk membuka laptop, hehe.



Untuk aku yang doyan sekali membuat video atau film pendek, Asus ini sangat membantu untuk menyempurnakannya. Teknologi Asus Tru2life dan SonicMasternya membuat gambar serta audio akan tajam dan hidup.

Ketahanan Fisik
Karena bekerja dengan laptop tidak hanya sekedar duduk lalu mengetik beberapa huruf saja, maka pekerjaan ini pastinya akan membutuhkan waktu yang lama. Untuk itu, perlu memilih laptop yang tidak cepat panas dengan baterai yang ramah arus listrik. Artinya, tetap dingin meski dipakai berjam-jam. Untungnya, Asus telah dibekali dengan teknologi IceCool yang menciptakan sistem pendinginan yang efisien yang menjaga suhu palm rest rata-rata di bawah 35o C. Jadi tetap nyaman untuk kita.

Baterai yang disematkan di laptop ini juga menggunakan polimer Lithium, sehingga umur pemakaian bisa 3x lebih lama dari baterai silinder standar. Didukung dengan teknologi ASUS Battery Health terbaru yang dapat memperpanjang masa pakai baterai, mengurangi tingkat ekspansi baterai dan membantu memastikan baterai tetap dalam kondisi baik. Teknologi quick-charge juga mengisi baterai hingga 60 persen hanya dalam waktu 49 menit.

Dari empat hal itu, harga tawaran Asus Vivobook ini berkisar di angka Rp 9.700.000,-an. Tapi dengan keunggulan itu, rasanya laptop ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhanku.

Spesifikasi Asus Vivobook

Prosesor
Intel® Core™ i5 7200U Processor
Sistem Operasi
Endless OS
Memori
4 GB DDR4 2133MHz SDRAM
Display
15.6" (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) Anti-Glare 60Hz Panel with 45% NTSC with 178˚ wide-viewing angle display
Grafis
NVIDIA GeForce 940MX , with 2GB GDDR5 VRAM
Storage

Hard Drives:
1TB 5400RPM SATA HDD
Solid State Drives:
128GB SATA3 M.2 SSD
Keyboard
Chiclet keyboard
Card Reader
Multi-format card reader (SD/SDHC)
WebCam
VGA Web Camera
Networking

Wi-Fi
Integrated 802.11 AC (2x2) 
Bluetooth
Built-in Bluetooth V4.1
Interface
1 x Microphone-in/Headphone-out jack 

1 x USB 3.1 Type C port(s)

1 x USB 3.0 port(s)

2 x USB 2.0 port(s)

1 x HDMI 

1 x Fingerprint 
Audio
Built-in Stereo 2 W Speakers And Microphone

ASUS SonicMaster Technology
Baterai
3 Cells 42 Whrs Battery
Adaptor Daya
Plug Type :ΓΈ4 (mm)
Output :
19 V DC, 3.42 A, 65 W
Input :
100 -240 V AC, 50/60 Hz universal
Dimensi
361.4 x 243.5 x 17.9 mm (WxDxH)
Berat
1.7 kg with Battery
Sekuritas
BIOS Booting User Password Protection

HDD User Password Protection and Security
Jaminan
2 tahun garansi hardware global. *berbeda di setiap negara



Referensi :

05 Oktober 2017

Lebih Profesional Dengan Samsung Galaxy C9 Pro

Halo!

Sebagai seorang istri yang bekerja juga, hari-hari terasa begitu sibuk. Mulai dari menyiapkan bekal makan siang untuk suami, hingga pekerjaan rumah rutin lainnya yang rasanya tak habis-habis. Lalu lanjut untuk bekerja di kantor. Mengambil bagian sebagai marketing di hotel, tentu tak hanya sekedar duduk manis di depan komputer. Hari kerja lebih banyak keluar mengunjungi pelanggan di perusahaan dan instansi. Selebihnya telemarketing dan social marketing. Juga berkutat dengan terus memantau keadaan kamar di Online Travel Agent (OTA).

Tapi, sebagai seorang perempuan, pasti juga ingin punya me time yang bisa diisi dengan aktivitas paling disukai. Nah, salah satunya ya ini. Menulis. Kalau hobi mah, mau sibuk atau tak sibuk, tetap saja jari-jari tak bisa diam ketika otak mengirimkan sinyal inspirasi. Seringkali inspirasi itu datang tak terduga. Ketika sedang sibuk-sibuknya membuat laporan marketing, atau ketika dalam perjalanan berkunjung ke perusahaan. Kalau sudah begini, mau tak mau, inspirasi itu harus dicatat agar tak hilang di kemudian waktu. Belum lagi kalau lihat lihat stiky note di papan kecil yang berisi deadline menulis.

Sebenarnya aku lebih suka menuangkan inspirasi langsung ke komputer atau laptop, tapi kalau keadaannya seperti yang aku sebutkan di atas, jelas tak mungkin ya. Masa mau buka laptop sepanjang perjalanan? Selain ribet, masalah kehabisan baterai juga bisa terjadi. Nah, disinilah aku biasa memanfaatkan ponsel atau stiky note untuk mencatat inspirasi-inspirasi yang datang itu.

Tapi, mencatat dengan ponsel pun kadang suka tak nyaman kalau harus disambi dengan chatting di beberapa grup, update OTA, dan membuka aplikasi lain. Maklum, ponsel yang kupakai sekarang masih punya spek yang tak terlalu tinggi. Makanya sekarang lagi pengen cari ponsel cerdas yang bisa memenuhi semua kebutuhanku itu.

Lihat-lihat di Samsung Gallery, ketemu sama Samsung Galaxy C9 Pro. Hm, kira-kira bisa se-pro dengan namanya gak ya? Yuk ah kita cek aja.

Pro Memoy
Wih, dengan RAM 6 GB cocok nih untuk aktivitas jari-jariku di ponsel. Chatting di beberapa grup, update kondisi kamar di OTA, atau cari referensi untuk bahan menulis yang sudah mendekati deadline, pasti lebih cepat tanpa perlu khawatir aplikasi berhenti tiba-tiba. Selain itu, Samsung C9 Pro ini dilengkapi juga dengan Octa Core yang menunjang kinerja ponsel dengan banyak aplikasi dan anti cepat panas.


Pro Camera
Tulisan akan lebih sempurna dan menarik pembaca ketika ada foto. Nah disinilah fungsi kamera ponsel berperan. Ketika aku menulis kisah perjalanan, maka yang kubutuhkan adalah ingatan tentang perjalanan itu dengan foto-foto sebagai penunjangnya. Tentu tak akan keren kalau tulisannya menarik tapi fotonya tidak fokus atau tidak bening. Samsung C9 Pro ini punya kamera yang dilengkapi dengan dual flash. Kamera depan dan belakangnya sudah 16 MP lho! Karena ponsel ini punya kombinasi warna RGB lebih dari 90%, maka warna yang dihasilkan pun akan lebih kaya dan lebih detail, persis seperti warna asli objek yang difoto.



Pro Display
Satu lagi yang menarik dari Samsung C9 Pro ini adalah layar display nya yang super bening dengan FHD Super AMOLED. Layarnya juga cukup besar sehingga ketika aku ingin menulis atau update kondisi kamar di OTA, mata tak cepat lelah.

Pro Battery
Ini nih yang sering bermasalah. Ketika dalam perjalanan dan lupa membawa powerbank, masalah kehabisan baterai sering sekali muncul. Seringkali aku mensiasatinya dengan menggunakan mode power saving atau yang lebih ekstrim lagi mematikan jaringan internet dan suara, haha. Namun, jelas yang ada adalah timbul masalah lainnya, yaitu kudet. Nah, Samsung C9 Pro ini sudah dipersanjati dengan baterai 4000 mAH, wuiihh! Pekerjaan bisa selesai tanpa khawatir baterai cepat habis dan gupek cari sambungan listrik.

Well, sepertinya harus punya nih ponsel cerdas ini.

Referensi :

30 September 2017

Oleh-Oleh Festival Krakatau 2017 #Part 3

Masih lanjutan 2 episode kemarin ya..

Sebenarnya masih di hari yang sama, hari ke dua, tapi dengan tempat yang berbeda. Setelah melewati sekitar tiga jam perjalanan, sampailah kami di Dermaga Bom, Kalianda. Cuaca panas dan terik, ditambah lelah yang baru terasa, membuat kami rasanya ingin segera pulang ke rumah saja hehe. Setelah sholat dzuhur, bus kami sudah menunggu untuk mengantar kami kembali ke Bandar Lampung. Di dalam bus, rupanya sudah disediakan nasi kotak untuk makan siang. Alhamdulillah.

Sepanjang perjalanan yang kurang lebih satu setengah jam, aku lebih banyak tertidur. Kantuk luar biasa yang menyerangku tidak terlawan juga. Pas bangun, ternyata sudah sampai jalan Sudirman, hehe. Kami diturunkan di Tugu Gajah. Disana, sudah ramai dan jalanan mulai diblokir karena ada acara Pawai Tapis Karnaval.

Sebenarnya acara ini sudah dimulai sejak pukul 12.00, saat rombongan kami masih di jalan tadi. Jadi, mungkin kami sudah tidak bisa melihat acara seluruhnya. Tapi, kami beruntung masih bisa melihat sisa-sisa rombongan pawainya setelah beberapa lama menunggu. Dan ternyata lebih beruntung karena masih ada gubernur Lampung beserta istrinya, Pak Ridho dan Ibu Yustin yang ikut pawai juga!

Momennya pas lagi! :D
Menariknya acara ini nih, kita jadi lebih tahu ternyata banyak keberagaman di provinsi Lampung ini. Terlihat dari peserta pawai yang tidak hanya dari Lampung saja, tetapi juga ada peserta dari luar daerah. Selain itu, acara ini juga dapat mempromosikan wisata budaya di Lampung. Semoga saja dengan acara pawai ini, bisa menarik wisatawan dari luar Lampung untuk datang ya.

Bagi teman-teman dari luar daerah Lampung, jangan khawatir tidak bisa berkesempatan untuk ikut keramaian acara ini. Tahun depan masih ada kok, karena ini acara tahunannya Lampung. Lagipula, sekarang kan bukan lagi zaman repot untuk cari-cari tiket pesawat, rental mobil atau cari penginapan untuk bisa singgah di suatu tempat. Bukan lagi zaman harus pagi-pagi dan antri sepanjang jalan untuk berburu tiket. Cukup satu klik aja lewat aplikasi pencari tiket dan penginapan di ponsel, semua beres. Salah satunya bisa pakai Skyscanner.

Bagi yang belum tahu apa itu skyscanner, bisa klik di video ini :


Oke, ini beberapa foto yang berhasil aku tangkap (di sela ponsel dan kamera yang mulai kehabisan baterainya, hehe).

Icon kebanggaan Lampung, gajah!

Mekhanai Lampung (abaikan ibu berbaju merah yang terbidik)
Muli Lampung yang cantik-cantik
Masyarakat Bali di Lampung
Gemes ih sama anak yang di tengah :D
Dan aku masih gak tau kenapa setiap tahun pasti ada waria seperti ini hehe
Oke, semoga Lampung makin maju ya dengan acara-acara yang mengunggulkan budaya dan wisata di Lampung sendiri. Sebenarnya masih ada acara di malam harinya, yaitu pagelaran musik di GOR Saburai. Tapi apalah daya, badan rasanya sudah sangat lelah, dan juga tidak dapat izin untuk nonton sama si Mamas.

Sampai jumpa di tulisan lain ya..

16 September 2017

Oleh-Oleh Festival Krakatau 2017 #Part 2


Ketemu lagi.. :D :D

Ini cerita hari ke dua yah. Nah, setelah semalam beristirahat di Pulau Sebesi, jam 03.00 dini hari, kami harus bangun dan segera menuju ke kapal yang akan membawa kami ke Pulau Krakatau. Sebenernya tidurku gak terlalu nyenyak sih, karena takut bangun kesiangan haha. Jadi, malah sering kebangun dan lihat jam. Belum jam 3, tidur lagi. Bangun, belum jam 3, tidur lagi, gitu sampai akhirnya beneran jam 3.00 WIB!

Dengan berbenah diri sekedarnya (gak pake mandi karena kamar mandi cuma 2 dan pasti antri, juga karena masih jam 3.00 subuh), kami menuju dermaga. Disana sudah berjejer kapal-kapal untuk membawa kami ke Pulau Krakatau. Karena hari masih gelap, jadi kami asal naik saja salah satu kapal. Tadinya mau naik di atas seperti kemarin, tapi nahkoda kapal memperingatkan untuk masuk ke dalam kapal semua. Demi keselamatan, maka kami turun ke bawah.

Ternyata, suasana di dalam kapal cukup sempit sehingga kami hanya bisa duduk berdempetan dengan posisi duduk yang tidak bisa leluasa berubah. Karena ombak cukup tinggi dengan keadaan kapal yang lumayan pengap, aku sedikit mabuk. Maka, selama perjalanan, aku hanya bisa memejamkan mata dan menengadah agar tak semakin mual. Juga, dalam pejaman mata, aku selalu mensugesti dengan kata-kata indah seperti,
"Rasakan ombak ini, Lia. Rasakan ayunannya dan bayangkan kau berada di playland dengan wahana baru". Lumayan ampuh lho, haha!

Setelah perjalanan selama kurang lebih tiga jam dengan ombak yang meliuk-liuk, sakhirnya rombongan sampai juga di Pulau Anak Krakatau. Leganya mendapati hari sudah mulai terang. Aku sempat mengabadikan matahari terbit sebelum sarapan nasi uduk.

Lega menemukan matahari setelah mabuk laut
Sebenarnya, kawasan Anak Gunung Krakatau adalah kawasan cagar alam yang dilindungi dan hanya sebagai tempat konservasi. Makanya, sebelum kesana, rombongan harus izin dulu dengan BKSDA setempat dan waktu pendakian tak boleh berlama-lama, juga hanya sebatas sekitar 200 meter saja. Kalau memang tahun depan tidak ada lagi kegiatan seperti ini, tak apa. Setidaknya aku sudah pernah kesana dan tidak penasaran lagi, hehe.

Menginjakkan kaki disini rasanya tuh, wow banget! :D
Setelah sarapan, rombongan mulai mendaki. Melewati hutan dengan pohon tinggi dan lebat, rasanya seperti membersihkan paru-paru hehe. Udaranya segar dan ditambah masih pagi juga, jadi gak terlalu lelah. Tiba di sebuah tempat yang cukup luas dan terang, aku bisa melihat tingginya puncak Anak Gunung Krakatau. Tidak lupa, mengabadikannya terlebih dahulu.

Dan aku belum percaya aku bisa naik ke atas sana
Nah, perjalanan menuju puncak dimulai dari sini. Aku sempat khawatir bisa atau gak nih naik ke atas sana karena memang pertama aku kesini tanpa persiapan apa-apa. Latihan lari atau jalan jauh pun gak, alhamdulillah ada kenalan yang rupanya dia sudah sering mendaki (makasih Mbak May, tanpamu aku apa :D)

Selama mendaki, aku jarang melihat ke belakang. Bukan apa-apa, tapi rasanya takut saja karena di bawah sana ada hutan dan lautan. Juga, aku berusaha menjaga nafas biar gak ngos-ngosan. Lumayan sih, menghemat tenaga. Tiba di lereng yang agak tinggi (aku gak tau sebutan yang tepat apa), aku begitu terpesona dengan puncak hitam yang menjulang tinggi di depanku. Ini Anak Gunung Krakataunya! 

Melihatnya dari dekat, aku mengucap tasbih. Begitu anggun dan tenangnya gunung ini. Tapi kalau membaca sejarahnya, tak bisa kubayangkan bagaimana ngeri dan dahsyat letusannya. Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling dan sekali lagi takjub dengan apa yang ada di belakangku. Persis seperti gambar-gambar yang dibuat semasa aku kecil tentang gunung yang dibawahnya ada lautan serta pepohonan. Seperti itulah yang kulihat.

Masih tak bisa berpaling dari pemandangan yang satu ini
Cukup lama aku tak bisa berkata-kata. Ini benar-benar pengalaman pertama yang serunya tak terbayangkan sebelumnya. Mungkin karena aku memang belum pernah mendaki sebelumnya ya, jadi masih agak alay gitu haha. 
Niat banget nampang di depan gunung yak, hehe


sepertinya akan berat ya ajakan ini? hehe
dan ini juga :D
Setelah cukup memandangi sekeliling dengan takjub, kami serombongan diminta segera turun kembali. Sebenarnya masih ingin disini sih, membayangkan bagaimana awal mulanya tempat ini tercipta. Dari papan informasi di depan gerbang, aku sedikit mengerti tentang bagaimana bisa terbentuk Anak Gunung Krakatau ini, juga berimajinasi mungkin tahun-tahun berikutnya Anak Gunung Krakatau ini yang akan meletus.

papan informasi sejarah Anak Gunung Krakatau


jalan yang kami lalui, cukup landai memang
Menjelang siang, kami bersiap kembali ke Dermaga Bom, Kalianda. Aku masih belum bisa melepas pandangan dari sosok tinggi besar di atas sana. Semoga kawasan ini selalu lestari.

sampai jumpa lagi..
Kalau kata teman sekamarku, mendaki itu bikin ketagihan lho! Sepertinya ini benar, haha. Mungkin kalau ada kesempatan mendaki gunung yang lain, aku mau ikut. Tentunya dengan persiapan yang lebih.

bersama beberapa teman yang sudah sering mendaki
Oh iya, masih ada kelanjutan ceritanya lho dari keseruan rangkaian Festival Krakatau. Sampai ketemu lagi di tulisan bagian ke 3, hehe.

02 September 2017

Oleh-Oleh Festival Krakatau 2017 #Part 1

Ini late post banget, sudah seminggu baru kelar tulisannya haha. Yah, harap dimaklumi ya, belum jadi emak rempong sih, tapi sudah jadi istri sok sibuk ^_^V

Festival Krakatau datang lagi. Ini sudah ke empat kalinya aku ikuti rangkaian kegiatannya. Dan pasti ada aja yang berbeda di tiap tahunnya. Tahun ini nih yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apakah itu?

Ikut Tour Krakatau
Yeeeyyyy!! Ini ceritanya ada challenge dari akun resminya Krakatau Festival 2017. Jadi, peserta yang mau ikut tur Krakatau ini harus buat video selfie yang temanya alasan kenapa harus jadi peserta tur. Agak iseng tapi sangat berharap bisa kepilih haha, akhirnya aku buat juga tuh video selfie dan ternyata terpampang juga namaku di pengumuman, yeeeyyy!! Pesan moral seperti kata Andre Hirata : harus tahan malu untuk bisa ikut acara yang lebih menantang, haha. And this is my story..

Ups! Ada penampakan di belakang haha
Hari #1 (25 Agustus 2017)

Rute menuju anak gunung Krakatau kali ini diawali dari Dermaga Bom menuju pulau Sebesi, menginap semalam lalu paginya berangkat ke anak gunung Krakatau. Jumat pagi, kami harus berkumpul di lapangan Korpri (depan kantor Gubernur Lampung) jam 05.30. Biasanya jam segini masih selonjoran di kasur ya. Alhasil, aku berangkat dari rumah sesaat setelah subuh dan berhasil sampai tepat waktu. Sebelum berangkat, dikasih sambutan dan pengarahan dulu dan dilanjut berdoa.

Next, rombongan berangkat menuju Dermaga Bom di Kalinda, Lampung Selatan. Dari sana, rombongan langsung naik kapal yang lumayan besar dengan muatan sampai 40 orang per kapalnya. Aku dan beberapa orang teman memilih duduk di atas kapal karena sepertinya asik bermain dengan angin dan melihat luasnya lautan. Tapi ternyata di tengah perjalanan, terik matahari sedikit gak bersahabat, buat kulit lumayan gosong, hoho.

Ini belum terik, baru mau berangkat dari Dermaga Bom

Setelah melalui sekitar 2 jam lebih perjalanan laut yang ombaknya cukup kuat dan bikin kepala pusing, sampailah rombongan di Pulau Sebesi. Baru saja menginjakkan kaki di dermaganya, kami sudah disambut dengan drumband anak-anak. Jadi terharu deh!

Latar belakangnya drumband sebenarnya, tapi gak keliatan yah? :D
Gerbang menuju asrama, yeeaaahh bermalam disini kita

Begitu ketemu kasur, langsung deh nempel badan kami disana, haha. Untung ada waktu luang alias free time sampai nanti malam, jadi abis ini kami bisa jalan-jalan menyusuri pantainya yang begitu menawan.

Beberapa perahu nelayan menepi di pinggir pantai
Pulau Sebesi ini berbentuk gunung dengan ketinggian sekitar 844 meter di atas permukaan laut dengan luas 2660 Ha dan terletak di Selat Sunda. Kami mengajak beberapa anak yang sedang bermain lompat tali untuk menyususi bagian kecil pulau ini. Dari hasil susuran kami yang cuma beberapa meter dari asrama, kami tahu ternyata tanah disini cukup subur. Buktinya beberapa tanaman dengan nilai ekonomi tinggi tumbuh disana. Kami juga menyusuri pantainya yang luas, berpasir halus meski tidak putih, dengan ombak yang relatif sedang tingginya. Tampaknya, pulau ini cukup menjanjikan sebagai tujuan wisata di Lampung Selatan.

Anak-anaknya ceria :D
Dan inilah beberapa gambaran pantai di Pulau Sebesi.


Gradasi warna airnya buat jadi semakin menarik ya

Ini pasir pantainya dengan latar belakang ombak yang menyambut

Setelah menyusuri pantai, kami istirahat kembali ke asrama. Niatnya sebenernya tiduran sambil nunggu sunset, tapi ternyata matahari terus terik sampai menjelang sore. Pas keluar dari asrama, malah tergoda sama mi rebus pakai telor yang dijual di dekat asrama haha. Akhirnya gak dapat sunset deh, tapi memang gak bisa juga lihatnya karena kalau mau lihat sunset harus mengitari pulau ini dulu. Arah baratnya di belakang pantai ini.

Malam hari selepas magrib, ada acara sambutan-sambutan dan pentas tari di aula yang dilanjut makan malam. Hm, menunya ikan bakar dong. Seddaaap.

Tari Sembah khas Lampung
Maaf ya agak burem, hehe

Oke, ini dulu ya ceritanya di hari pertama Tur Krakatau. Besok disambung lagi ^_^
See u next time..