Halaman

29 Desember 2016

Kita Ke Monas! Part #1

Yeeeyyy! Kita ke Monas! Agak lebay sih ya pas bis yang kami naiki masuk gerbang kawasan Monas, Jakarta. Tapi begitulah, karena aku belum pernah kesini, jadi aku agak lebay deh reaksinya haha. (Padahal cerita ke Monas nya mah paling belakang nanti).

Monasnya kekecilan :D
Oke, ini jalan-jalan karena dibayarin. Tepatnya ada family gathering gitu di tempat kerjanya Mamas. Jadi, jalan-jalan dengan rute Jogja-Solo-Jakarta. Awalnya ragu mau ikutan, karena ini akhir tahun, dan mungkin saja gak boleh minta cuti sama ibu HRD. Tapi akhirnya boleh juga karena jatah cuti tahunan yang harus habis akhir bulan ini.

Kami berangkat Minggu pagi dan sampai Klaten hari Senin pagi. Langsung menuju Umbul Ponggok. Awalnya aku kira ini hanya kolam renang biasa, tapi ternyata lebih dari biasa. Kolam disini adalah kolam air tawar langsung dari mata air (di spanduk pintu depan gitu). Kolamnya luas dan diisi dengan banyak ikan. Jadi kalau mau berenang disini, ya berenang bersama ikan-ikan :D, tapi tenang aja, tempatnya bersih kok.

Pemandu disana menawarkan foto bawah air dengan harga sewa kamera sekitar Rp 100.000an (ini belum termasuk sewa perlengkapan menyelam dan lain-lainnya). Sayangnya waktu itu aku gak ikut mandi disana, agak geli gimana gitu sama ikan-ikannya hehe.

Abaikan mata sembab belum mandinya :D

Ikannya banyak lho!

Ceraaaahhh di hari yang mulai panas
Setelah puas dengan wisata airnya, kami menuju Candi Prambanan. Candi Hindu yang dibuat di abad ke 9 Masehi ini ternyata sudah mengalami pemugaran beberapa kali. Aku kira dari ditemukan pertama kali sudah cantik seperti ini wkwk. Ada beberapa candi di komplek ini dengan nama yang berbeda. Kalau dari luar sih, tampaknya hampir sama.  Tapi ketika masuk ke masing-masing candi itu, patung yang ada di dalamnya berbeda-beda.
Pemandangan komplek Candi Prambanan dari pintu masuk utama (geser sedikit, hehe)
Salah satu patung di dalam candi (aku lupa ini di candi apa)
Keterangan biar gak bingung liat banyak candi



Pemandangan dari arah pintu keluar (abaikan model berbaju merahnya, hehe)

Cantik yaaaa
Selain komplek candi, terdapat pula museum, penyewaan kuda, penyewaan sepeda, taman rusa, dan penjual suvenir dan oleh-oleh. Museum yang aku masuki memang sepi, waktu itu hanya ada aku dan dua orang pengunjung disana. Entahlah, kenapa tak banyak orang yang tertarik masuk museum, padahal di dalam sana banyak benda-benda bersejarah dan bisa dapat ceritanya dari penjaganya.


Museum Prambanan terdiri dari beberapa ruang koleksi. Di tengah ruang koleksi itu terdapat pelataran luas yang memamerkan beberapa koleksi pula. Ada alat musik tradisional, jamu-jamu yang bisa dinikmati pengunjung, dan lukisan-lukisan.

Beberapa koleksi alat musik di pelataran Museum Prambanan

Salah satu benda di Gedung Koleksi 1 (Temuan Wonoboyo)
Salah satu koleksi di Ruang Koleksi II (piring dari berbagai tempat)

Koleksi di Ruang Koleksi II (gelang dan perhiasan lain)
Dari beberapa literatur, penemuan Wonoboyo ini dilansir menjadi salah satu penemuan yang penting, mengingat benda-benda temuan ini terbuat dari emas dan perak. Artefak yang diperkirakan berasal dari abad ke 9 di era kerajaan Mataram Kuno ini terdiri dari 14,9 Kg emas dan 2 Kg perak. Benda-benda yang ditemukan antara lain gelang, gayung, mangkuk, guci besar, dan lain-lain. Tapi penemuan Wonoboyo yang dipajang disini hanyalah replikanya saja, sedangkan benda aslinya kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Di Ruang Koleksi III, dipamerkan beberapa foto yang menceritakan tentang penemuan dan pemugaran Candi Prambanan.

Salah satu koleksi di Ruang Koleksi III
Masih di Ruang Koleksi III
Suvenir dan oleh-oleh yang dijual antara lain baju batik, gantungan kunci berbentuk candi, sandal, tas, dan topi khas jawa, blankon. Kalau waktunya banyak sih, aku pengen keliling dulu sambil naik kuda atau sepeda berdua dengan Mamas. Tapi apalah daya, rombongan sudah akan berangkat lagi menuju penginapan.
Kami menginap di salah satu hotel di kawasan Malioboro, tepatnya di Jalan Sosrowijayan. Yes! Tempatnya dekat sekali dengan kawasan pasar yang menjual oleh-oleh khas Jogjakarta. Aku dan Mamas memanfaatkan waktu malam untuk jalan-jalan sebentar keluar. Beberapa tukang becak menawarkan jasanya untuk berkeliling Malioboro dengan tarif cukup murah, hanya Rp 10.000,-!

Salah satu grup seni yang penampilannya memikat (ada penari yang pakai baju hijau itu)

Wedang Ronde, lumayan menghangatkan badan di malam hari :)
Sepanjang jalan ke arah titik nol kilometer, banyak sekali angkringan dan penjaja makanan. Memang Jogja berhati nyaman. Suasana dan tempatnya juga nyaman. Terakhir kali aku ke Jogja tahun 2012, dan ini sudah berbeda (atau waktu itu aku yang gak lihat ini itu?). Pengamen disana juga nyeni, angklungan istilah disana. Jadi, kita tuh ngerasa gak rugi untuk ngasih uang ke mereka karena kita pun menikmati penampilannya.
Aku dan Mamas coba sate yang dijual di pinggir jalan. Penjualnya ibu-ibu dengan logat Madura kayaknya. Harganya per porsinya murah banget! Rp 10.000,- sudah dapet 1 buah ketupat dan 7 tusuk sate ayam campur sate telur puyuh. Memang porsinya gak nendang sih, tapi sudah gak penasaran kan kalau sudah nyoba? Hehe. Lanjut dengan beli wedang ronde yang hangat dan sedep itu. Hm, asik lah pokoknya.

Ok, hari ke dua dan ke tiga dilanjut besok yaaaa... see u next time :-*

03 Desember 2016

Bogor Episode 3, Part #3

Hampir lupa judulnya, saking terlalu lama gak diterusin (sebenernya sampe hampir lupa masih ada bagian terakhirnya, wkwkwk).

Ini hari kedua di Bogor, yeeeeyyy! Setelah kemarin muterin Kota Tua Jakarta, dan berakhir lelah bin ngantuk, paginya kami bangun dengan malas-malasan. Pumpung liburan, gak mikir mau kerja, nyiapin sarapan, nyiapin bekal makan siang, dan beres-beres, jadi sehabis Subuhan, kami tiduran lagi. Niatnya sih mau ke KRB pagi-pagi biar puas kelilingnya, tapi lagi-lagi adekku masih ada acara yang gak bisa ditinggalkan. Jadi, agak siangan kami baru bisa pergi.

Sebenernya aku pengen jalan kemana gitu, selain KRB, dengan alasan aku sudah dua kali muterin KRB –walaupun belum semuanya. Tapi, Mamas bilang, dia belum puas jalan-jalan kesana waktu dulu, dan yang paling penting belum pernah muterin KRB bareng aku, jiaaahhhh :D

So, kami mulai perjalanan sekitar jam 11an. Cari makan siang dulu karena pasti di KRB bakal laper dan gak ada yang jual makanan berat disana. Dengan berbekal tanya sama penjual nasi, kami jalan kaki ke KRB (katanya deket, tinggal jalan lurus aja). Ternyata, Masyaallah.. jauh bo! Pegel kaki, berbie! Tapi gak papa, yang penting masih jalan berdua sama Mamas, eeaaa.

Sampai di KRB, ternyata loket belum dibuka padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Ada apakah gerangan? Aku sudah malas mencari tahu, karena suasana di depan pintu masuk luar biasa ramai. Rombongan dari mana-mana kayaknya tumplek deh. Baiklah, kami menikmati semilir angin di bawah pohon saja sambil menunggu pintu dibuka.

Pas pintu dibuka, antrinya sudah kayak antri pembagian sembako. Ampuuunnn!

Sebagian sudah bisa masuk ini
Kami bisa masuk setelah antrian gak numpuk lagi. Kami awali perjalanan ini dengan makan siang di tepi danau depan Istana Bogor. Juga, sesi foto setelah makan. Sayangnya, bangunan depan Istana Bogor tampaknya sedang diperbaiki, jadi banyak kayunya gitu.
Sayang teratainya lagi gak berbunga
Kayak foto untuk prewed ya wkwkwk
Karena kami gak ada rencana yang matang untuk muterin KRB dari sebelah mana, akhirnya perjalanan kami sedikit kacau, gak beraturan. Ditambah mendung yang akhirnya hujan membuat kami berhenti pada satu tempat dahulu.

1.       Makan Belanda
Agak horor sih dengernya, tapi Mamas penasaran dengan tempat ini. Tempatnya agak ke dalam dan dikelilingi dengan pohon bambu, adem dan agak tertutup. Aku sendiri gak berani foto disana, hehe.
Aku mah gak berani masuk situ
2.       Taman Teijsmann
Pusat perhatian dari taman ini adalah tugu seperti tiang yang berdiri tegak di tengah taman. Dinamakan Teijsmann karena jasa seorang bernama Johannes Elias Teijsmann. Menurut beberapa literatur, beliau ditugaskan menjadi direktur kebun Raya Bogor di era Van Den Bosch. Di tangannya, tempat ini dikelola hingga berkembang sangat pesat.
Gaya apaan inih!

Fotografer kitah :D
3.       Museum Zoologi
Ini kedua kalinya aku masuk ke tempat ini. Masih sama dengan hanya perubahan di depan lorong pintu masuknya. Dulu, lorong ini dihiasi lukisan tetapi kemarin sudah dicat warna polos. Mamas yang belum pernah masuk tempat ini kayaknya kelihatan amazed gitu, hehe. Secara, banyak sekali hewan yang diawetkan dan dipajang. Tapi tetap saja, aku gak berani liat awetan ular dan sejenisnya. Masih geli.
Masih amazed sama kerangka hewan yang satu ini
Meksiko nya kebanjiran hihi
Karena waktu itu hujan lumayan lama dan cukup deras, akhirnya kami hanya bisa ke tiga tempat itu. Mampir sih sebentar ke Taman Meksiko untuk foto (Meksiko nya gak panas dan terik, hihi), trus ke taman yang ada danau berisi bunga teratai atau lotus yang super gede itu. Hanya sebentar karena mendung, ada peringatan juga hati-hati pohon tumbang, jadi bawaannya serem gitu.

Keluar dari KRB, aku dan adikku berpisah di jalan (bye bye Lala, see u next time). Aku dan Mamas naik bus jurusan Depok untuk berkunjung sekaligus menginap di rumah Pakde. Lumayan jauh perjalanan dengan bus yang sudah tidak seberapa bagus lagi bentuknya. Anehnya lagi (bagiku sih), bus ini gak keneknya, jadi kalau kita mau turun dan bayar ongkos, langsung ke supirnya. Weleh :D

Kami disambut hangat oleh Pakde, Bude, dan Mbak Nur (anaknya Pakde). Pakde bercerita banyak tentang Mamas, yah, cerita dari Mamas kecil sampai sebesar ini. Ditunjukin juga foto Mamas masih kecil (lupa mau foto ulang). Kalau Bude, lebih banyak diam karena memang pembawaannya begitu. Sebenarnya aku masih pengen denger cerita serunya, tapi kantuk gak bisa kompromi. Maap ini Pakde, nguantuukkk berat (padahal masih jam 8 malam).
Mamas, aku, Mbak Nur, Bude, Pakde
Paginya, kami diantar Mbak Nur dan anak laki-lakinya ke Terminal Baranangsiang. Dibawain oleh-oleh lagi, hehe. Makasih Mbak Nur untuk semuanya. Aku pandangi foto kami sebelum berangkat tadi. Kami pulang ngeteng, sudah kehabisan dana untuk naik damri wkwkwk.

OOO

Kurang lebih, seminggu kemudian, Mamas dapat kabar bahwa Bude meninggal dunia karena terpeleset di kamar mandi. Aku sedikit shock, aku pandangi lagi foto kami waktu itu. Selamat jalan Bude. Semoga amal-amalmu mengantarkanmu ke syurga. Aamiin.

OOO

Masih mau ke Bogor lagi, kayaknya pas Lala wisuda. Semoga bisa ya :D

Itu yang jilbab ungu mengganggu kita berdua aja ih :P