Halaman

28 Agustus 2014

Film Pendekku yang Dahulu :D

Entah sejak kapan aku menyukai film. Awalnya hanya menyukai dalam bentuk yah, menonton film. Lalu mengamati bagaimana para pemain itu memainkan perananannya. Kemudian mengamati bagaimana cara membuat film itu sendiri. Aku memang belum pernah tahu bagaimana membuat film sepanjang itu. Tapi, mencoba sendiri membuat film yang sederhana, aku bisa.

Berawal dari obrolan ringan dengan seorang teman, kami mencoba membuat sebuah film pendek. Gak niat untuk dilombakan atau apa, hanya mencoba saja. Bisakah? Tapi ternyata waktu itu pas kebetulan sekali ada lomba film pendek. Makin bulatlah tekad kami untuk mencoba membuat film pendek ini. Mempersiapkan segala hal. Mulai dari ide cerita, skenario, setting, kamera, tokoh, dan tentu saja software untuk mengeditnya.

Nah, aku kebagian edit video klipnya plus campur-capurin dengan audio dan musiknya, juga end-creditnya. Fiuhh, ternyata lumayan rempong waktu itu. Apalagi, softwarenya baru aku kenal (sebelumnya aku belum pernah tau dan sama sekali buta dengan software itu). Yah, otodidak aja deh, dalam beberapa hari (atau seminggu lebih?) akhirnya film itu kelar juga. Masukin CD dan kirim ke panitia lomba.

Hasilnya, belum menang, haha. Tapi gak papa. Gak berambisi untuk menang juga kok, yang penting bisa jadi aja udah seneng banget. Eniwei, sampe sekarang belum memproduksi film lagi. Pengen sih, tapi sulit cari aktornya.

Ini dia film pendekku waktu itu. Klik aja link di bawah ini :D
Selamat menikmati...

https://www.facebook.com/video.php?v=1685655740945&l=8366702582530524527

23 Agustus 2014

KETIKA HUJAN

Dan hujan memang begitu indah ketika derainya membawa kita pada lamunan masa lalu
sebagai kenangan yang tak mungkin bisa kita lupa
bahkan untuk menutupnya dengan cerita baru yang kita karang
tidak, laila
demi siapapun yang kau percayai,
aku selalu menunggu hujan setiap kali menatap jendela kaca di sudut ruangan
bertumpuk-tumpuk buku
musik yang mengalun

tidak, laila
aku terpenjara oleh kata-katamu
aku terkubur dalam ceritamu
dan tanpa sadar, aku begitu menunggumu

laila...
lalu, kapankah waktu itu bisa melebur bersama kisah-kisahku
untuk kemudian jadi bagian sejarah hidupku
sebagai cerita untuk anak cucuku

ah, laila
terlalu jauh angan-anganku

Natar, 23 Agustus 2014 

21 Agustus 2014

Pertemuan yang Berjodoh #versi tiga orang perempuan


Haha, hanya ingin menuliskan sebuah catatan kecil yang memang gak berharap terlalu muluk untuk dibaca orang sih. Hanya saja, sepertinya kalau sudah bertemu dengan teman lama dan tidak menuliskan apa yang terjadi, rasanya tetap ada yang kurang.

Jadi, pertemuan ini sebenarnya tidak terlalu direncanakan. Awalnya dari pembicaraan lewat telepon, kangen karena sudah lama sekali tidak bertemu, dan momennya pas banget masih di bulan Syawal. Akhirnya muncul ide untuk kumpul bareng di suatu tempat. Nah untuk mengumpulkan orang-orang yang memang sudah tercerai berai itu, gak gampang. Kami tag di media sosial siapa aja yang bisa hadir. Tanggapannya positif, ada yang bisa dateng, ada yang diusahakan dateng, ada yang gak bisa dateng dengan alasan punya bayi (hwaa? Jadi si baby penghalang gitu?!)
Hanya aku yang belum menikah, hiks!
Well, memang gak banyak yang bisa hadir, Cuma ada empat orang perempuan (yang membuat FLP kadang disebut Forum Lingkar Perempuan, hehe). Sudah menikah semua kecuali aku, hiks! They are... Mbak Ira, Mbak Ika, and Mbak Elia (Mbak Elia dateng telat banget, malah sudah mau pulang baru dateng, tapi masih untung bisa ketemu). Kata mereka, rela gak bawa suami demi kumpul (suami Cuma antar jemput, hoho).
Oke, kami bernostalgila, karena memang bukan membahas masa-masa kami ketika pertama kali bertemu. Kami lebih membahas tentang kesibukan kami sekarang, tentu saja ujung-ujungnya kabar tentang bagaimana bisa aku belum menikah sampai sekarang? :’(

Lalu merembetlah kisah bagaimana mereka menemukan belahan hati mereka masing-masing. Dan beginilah ceritanya (aku tidak akan menyebutkan nama mereka, privacy right? Haha).

Perempuan pertama :
Mereka satu fakultas, tapi beda jurusan. Awalnya memang tdak terlalu kenal, hanya tahu saja. Pertemuan hanya terbatas beberapa kali saja, itu pun pada acara tertentu saja. Suatu ketika, mereka bertemu kembali pada acara pelatihan. Saling bertegur sapa, bertukar nomor ponsel, dan ternyata dipertemukan kembali si suatu tempat dan di suatu waktu. Insiden tiga pasang alas kaki pun masih teringat jelas di benak sang perempuan. Mungkin itu awal dari sebuah keterikatan yang berujung pada sebuah komitmen di atas nama Sang Pencipta.

Perempuan ke dua :
Ada yang bilang, jodoh itu tidak akan lari kemana, tidak akan tertukar, dan akan bersatu meski banyak yang mencoba mengecohnya. Sepertinya ini cocok untuk menggambarkan perempuan satu ini. Sang laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya, ternyata adalah penggemar rahasianya. Bertemu sejak masih duduk di bangku SMP, hingga menjadi mahasiswa, tidak satu kali pun ia menyatakan perasaannya, tidak juga mendekati perempuan lain. Di sisi lain, sang perempuan –pasti sudah diatur oleh Sang Pencipta- tidak pernah menerima pinangan dari laki-laki lain meski sudah acap kali ingin diminta oleh sang arjuna. Dan pada akhirnya, pertemuan dengan keluarga pun berujung pada akad di suatu waktu, beberapa tahun yang lalu.

Perempuan ke tiga :
 Jodoh itu bisa ketemu di mana saja. Tetangga sebelah, teman satu sekolah, musuh bebuyutan, atau orang yang tidak sengaja bertemu di kendaraan umum. Nah, ini yang terjadi pada perempuan ke tiga. Mereka bertemu di sebuah bus umum. Perjalanan dengan tujuan yang sama acapkali memang membuat para penumpang saling mengomentari beberapa hal. Basa basi di perjalanan daripada manyun sendirian. Siapa yang bissa mengira, kalau akhirnya bisa bertemu di depan penghulu hanya karena berawal dari kenalan di bus dan bertukar nomor ponsel.

Yah, pada akhirnya aku hanya bisa tersenyum. Tahu gak apa yang terlintas dalam pikiranku ketika selesai mendengarkan kisah mereka?
~berarti, cari tau siapa teman lamaku yang sekarang masih belum punya istri, yang Cuma beberapa kali ketemu, siapa tau ada satu di antara mereka yang akan jadi pendampingku~
Haha.

Jodoh itu unik, 
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan
Maka, percayalah..
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya
Tapi, 
seberapa yakin kau padaNya
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya
seberapa besar kau merayu diriNya
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya.

14 Agustus 2014

Sesuatu Yang Ganjil

...Hello...

Dalam versi novel dan film :
~Dear, you... apa kita tetap bisa bersama? Selamanya?~
~Aku begitu menyukaimu. Sungguh menyukaimu~
~Apa kau suka aku?~
~Apa kau juga ingin terus bersamaku?~

Dalam versi nyata :
Nyatanya sebagian dari kita (khususnya perempuan) telah terlalu berimajinasi seperti film-film romantis atau novel-novel cinta. Apa keromantisan itu nyata? Atau, adakah kisah dalam novel cinta itu ada di dunia nyata?

Nyatanya, tidak pernah ada laki-laki tampan dan paling diincar oleh banyak perempuan di sekolahnya, jatuh cinta pada perempuan yang terlihat bodoh dan jelek. Tidak pernah ada perempuan biasa yang bisa mendapatkan perhatian khusus dari sekelompok laki-laki kaya –ingat film F4, BBF, dsb-  seperti itu lah. Hehe.

Tapi kenapa sebagian perempuan itu suka sekali dengan film-film seperti itu? apa mereka berimajinasi sendiri seolah mereka berada di posisinya? –ini akibat nyatanya tidak seperti itu, mungkin- atau apa mereka bisa menunjukkan pada kekasihnya bahwa yang seperti itulah yang disebut romantis? Entahlah.

Sesuatu yang ganjil. Sudah tau tidak akan pernah ada yang seperti itu, tapi masih tetap saja menggebu-gebu ketika film diputar. Perasaan yang ganjil. Perasaan yang aneh. Tapi, tidak bisa dipungkiri aku pun suka dengan film-film seperti itu. novel-novel yang seperti itu :D

08 Agustus 2014

MANTRA KEMBALI

: fa

Rasanya aku merindukanmu, fa
Rasanya kehilangan ini semakin menjadi
Aku begitu ingat dulu ketika kita masih jadi pengembara dalam rimba kata-kata
Kau selalu menertawakan puisiku
Aku selalu mempertanyakan sajakmu
Lalu kita sama-sama diam
Mengheningkan suasana

Apakah kita saling jatuh cinta, fa?

Aku merasa sendiri disini
Saat kutahu kau menemui Palembang lagi, dan saat kata-katamu kau tebarkan bersama puisi
“tak ada lagi teman”
Mengapa aku merasa seperti kamu?


Pikiranku melayang lagi ke waktu yang lalu
Palembang
Puisi
Guguran daun
Rianaian hujan
tawa
patah hati

seperti puzzle aku menyusun ulang kepingan-kepingan itu
jadi satu
dan aku begitu terpana
puzzle jadi satu mantra
kembalilah, fa
maka aku pun kan kembali
kita sama-sama kembali
jadi puisi
jadi guguran daun
jadi rinaian hujan
jadi galaksi dengan berjuta bintang

                                                                                                                                Natar, 18 Maret 2014

07 Agustus 2014

Gak Mood

Kedua kalinya, aku bicara seperti ini. Untuk suatu alasan tertentu, aku tidak mood. Tidak mood ini berimbas pada semangat kerja yang akhirnya berkurang juga. Akibatnya aku tidak bisa fokus pada pekerjaan yang tengah menanti.

Rasanya seperti tertimbun tanah, pengap udara meski ruangan berpendingin. Seperti tertekan batu, pikiran bumpet tak ada yang mengalir. Agaknya memang kurang pas di awalnya. Belum mengerti mungkin, atau sebenarnya mengerti tapi belum menguasai. Dan untuk menguasai, teorinya gampang. Belajar dari e-book. Teorinya, mengalir begitu saja dari mulut ke mulut. Dari perintah ke perintah. Dari ‘harusnya begini’ ke ‘harusnya begitu’.

Gak mood menyerang kembali. Menggerogoti sisa semangat meski masih pagi. Entahlah. Apa masih pantas berada disini? Atau karena memang belum ada yang datang mengganti?

Gak kondusif. Aku sadar, lama-lama aku bisa semakin menciut disini.


05 Agustus 2014

SEANDAINYA

Apa yang kau tahu tentang sebuah ‘seandainya’? apakah hanya sebuah kata tanpa makna?
Jujur, aku membenci kata ‘seandainya’. Seperti sebuah penyesalan yang tanpa alasan. Seperti sebuah ketidaksukaan terhadap hal-hal yang telah atau belum didapatkan. Seperti sebuah pertengkaran yang tak selesai dan hanya meninggalkan ketidakjelasan.

~Seandainya aku tidak pergi, mungkin kami masih bersama~
; penyesalan tanpa alasan. Kenyataannya sudah pergi dan berpisah –mungkin. Atau mungkin saja ketika memang tidak pergi, tetap tidak bisa bersama dengan alasan dan keadaan lain.

~Seandainya aku cantik, mungkin dia mencintaiku~
; ketidaksukaan pada hal yang tidak didapatkan. Kenyataannya, apakah cinta bisa didapat hanya dengan kecantikan? Hellooo... berfikirlah.

~Seandainya aku tidak bertemu dia~
; lalu, kau bertemu dengan dia yang lain, yang bisa membencimu lebih lama, atau dia yang lain, yang ternyata sangat menyayangimu, dan lain lain, dan lain lain.

Seandainya...
Apa kau percaya takdir? Bertemu, berpisah. Datang, pergi. Mencintai, membenci. Menerima, menolak. Dua sisi yang selalu saling berlawanan.

Seandainya...
Tidak. Semua sudah diatur. Semua sudah ada skenarionya.

Tapi mungkin, ‘seandainya’ itu bisa jadi untuk menegaskan kita bahwa apapun yang kita dapatkan, apapun yang kita alami, apapun yang terjadi pada kita, itu semua memang sudah dituliskan ketika kita telah berusaha sekuat mungkin.

Dan ‘seandainya’ tampak seperti sebuah lamunan tanpa ujung yang mungkin bisa menjerumuskan manusia normal ke dalam alam bawah sadar. Mengevaluasi diri, mungkin.


Entahlah.

Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

04 Agustus 2014

Ocehan Siang

Kita seperti aktor dan aktris dalam sebuah film. Memainkan sebuah peran dari skenario yang telah dibuat, yang tentu saja bukan kita pembuatnya. Kita hanya memainkan peran itu. Layaknya sebuah film, disana ada banyak mata yang menontonnya, mengikuti setiap episodenya, menyimak setiap adegan kita. Ada penonton yang pasif, yang hanya menonton dan sesekali melewati juga episode film kita. Mereka tak memberi komentar macam-macam, sesekali saja memberi semacam tanggapan tapi tetap tak bisa memaksa alur cerita film itu. Mereka berfikir ini hanya film saja, yang tentu saja skenarionya sudah dibuat dan difikirkan matang-matang oleh penulisnya. Tak mungkin berantakan.


Namun, ada juga penonton yang terlalu aktif, yang selalu saja berkomentar setiap kali kita memainkan peran. Mereka bisa menanggapi dengan ini dan itu. Seharusnya begini dan begitu. Tidak suka aktor ini, bersimpati dengan aktris itu. Selalu menyalahkan sikap para pemain jika adegannya tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Padahal ia semestinya tahu, ada pembuat skenario yang lebih paham tentang alur ceritanya. Mereka sering sekali tak sabar untuk melihat akhir ceritanya hingga rela menghabiskan waktu hanya untuk menonton film itu.

Seandainya bisa memilih, mungkin kita akan memilih menjadi aktor dan aktris yang selalu terlihat baik memerankan tokoh sebuah film. Tapi kenyatannya kita hanya menuruti sebuah skenario tanpa bisa mengubah alur ceritanya. Kita ingin menjadi pangeran atau tuan putri, tapi kita dapati skenario kita sebagai rakyat biasa. Mau tak mau, tentu saja kita ikuti karena pasti sebuah skenario yang diangkat menjadi sebuah film, adalah skenario yang baik, yang bisa diambil hikmahnya untuk penonton.

Begitulah kita. Kita hanya bisa memerankan tokoh dalam film tapi penonton bisa melakukan banyak hal. Memuji, mencaci. Memberi simpati, membenci. Mereka akan tetap seperti itu sampai akhir episode. 

Lebaran 2014

Oke, ini Idul Fitri tahun 2014. Sudah lewat seminggu, dan aku baru bisa posting hari ini. Biasalah, saking rempongnya ngurus persiapan lebaran kayak masak ketupat dan sodaranya, beresan rumah, sampe dokumentasi :D ditambah lagi hari-hari selanjutnya lumayan padat acaranya #wew ini belum punya keluarga suami :D

Galau di hari lebaran masih tetap aja. Pasalnya gak lain karena aku masih aja sendiri padahal ponakan dari adikku sudah berumur 2 tahun! Yah, mau bagaimana lagi, tak ke’i senyum wae lah... sebelumnya memang sudah persiapan mental sih untuk menghadapai situasi seperti itu. Jadi dibawa santai aja lah.

Well, hari pertama lebaran kayak biasa. Sungkem sama Abah dan Ibu. Kali ini formasi keluarga langsung lengkap karena adikku yang sudah bersuami dan beranak itu datang lima hari sebelum lebaran. Tapi di sesi foto keluarga, adikku yang nomor dua belum pulang dari masjid –bisa dipastikan ngobrol dulu sama anak risma atau bantu beresan masjid pasca sholat Ied.

Untuk sesi selanjutnya gak jauh beda dengan lebaran-lebaran tahun yang lalu. Sungkem sama Mbah di sebelah rumah, cupika cupiki sama sepupu, dianggap tua sama rombongan ponakan, bla bla bla. 

Heran juga kenapa pose dari tahun ke tahun kayak gini mulu
Tahun ini para perempuan bernuansa ungu #kata adik iparku rombongan mawalan :D
Ekspresinya waktu ngunyah makanan itu lho.. aneh :D
Ponakan yang super aktif dan gak bisa diem
paling demen minta foto bareng mainan
Oke, itu hari pertama. Untuk hari-hari selanjutnya gak jauh beda dengan lebaran-lebaran tahun kemarin. Ke
rumah Mbah Putri, ketemu sodara jauh, dan mengagendakan jalan-jalan keluarga. Tempat favorit masih pantai. Tapi tahun ini gak seperti tahun-tahun kemarin. Kami ke Pasir Putih pas lebaran ke 3. Alasannya karena deket, jalannya juga gak muter-muter. Tapi, pas sampai sana, shock!

Lanskap pantai yang harusnya pasir, ini jadi lautan manusia. Agak nyesel juga sih kenapa milih pantai ini dan kenapa mesti lebaran ke 3 jalannya. Tapi yah, sudah terlanjur, dibikin asik aja deh.


Si Mbah dari Palembang, cari tirai keong hehe

Tumplek di pantai kan semua orang?

Nyengir kepanasan tetep salam 2 jari, hahay

Dari jauh, tirai ini cantik, ternyata bukan dari keong semua, kuciwaaa...

And then... narsis dulu ah ^___^