Halaman

30 Mei 2014

TANGGAL-TANGGAL GUGUR


~Kata orang, mati itu sakit ya? Tapi kenapa hari ini aku ingin mati saja? Toh tak ada pula yang akan kehilanganku jika aku mati hari ini. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa. Ini perasaan yang sulit. Lebih sulit ketimbang menjawab soal-soal ujian cpns tadi pagi. Dan aku merasa lelah. Dunia di depanku berputar, dan berputar. Semakin membuat pusing. Aku limbung. Berkas-berkas di tanganku berserakan, dan entah siapa saja yang mendekat untuk menopangku.~ 
“Aini!”
“Aini? Kenapa? Hey, tolong!”
“Aini? Bangun!”
“Ai..”
“...”
“...”
OOO
“Aku lihat matamu mulai sembab setiap pagi. Apa kau menangis lagi, Aini? Sudah kubilang tak lah usah terlalu memikirkan tentang abangmu yang tak tahu jalan pikirannya itu. Hari ini dia bilang ingin menemui kau. Setelah kau iyakan, dia membatalkan. Esok bilang kau terlalu sibuk hingga tak bisa dia temui. Kalau aku boleh saran pada kau, lepaskan saja abangmu itu.”
Kami tak saling tatap, tapi aku tahu mata Mama menatap jauh dalam lubuk hatiku. Ia baru saja mengganti kompresan di dahiku dengan handuk dari celupan air yang baru. Rasanya lebih dingin tapi hatiku malah memanas mendengar kata-kata yang barusan ia ucapkan.
“Rasti sudah mencarikan yang baru untuk kau. Kalau kau mau, minggu depan ia datang membawa laki-laki itu. Dia orang baik, rajin sembahyang, bacaan quran bagus, ramah pula pada tetangga.”
Kerongkonganku sakit. Ada berjuta liter air mata yang mendesak keluar. Apa perempuan yang telah mengandung, melahirkan, dan merawatku sampai sekarang ini tak juga paham apa yang ada dalam hatiku sekarang? Apakah aku seburuk itu? Perempuan sulit jodoh? Sedang Abang? Aku memang tak pernah lagi bercerita tentang laki-laki itu pada mama. Laki-laki yang telah meninggalkanku dengan seonggok janji palsu.
“Kalau perlu apa-apa, Hang ada di ruang tengah. Panggil saja. Aku siapkan bubur untuk makan siangmu. Istirahatlah, Aini.”
Mama meninggalkanku. Aku tak sanggup lagi untuk tidak menangis. Kutarik kain panjang untuk menutup seluruh tubuhku, aku menangis.
OOO
~kali ini februari menyapa. Ada empat hari minggu disana, tapi sama sekali tak ada agenda penting tertera. Penantian ini terasa makin menyakitkan karena rupanya tak tahu kapan berakhirnya, dimana ujungnya~
“Kamu takut keduluan Hen?”
“Mungkin orang akan menganggapku tak bisa kompromi atau aku punya egoisme yang tinggi. Aku hanya tak mau dilangkahi. Itu saja. Tak cukup kah? Aku tak minta pelangkah dalam bentuk apapun. Tak minta perhiasan. Tak minta uang. Tak minta barang apapun. Aku hanya minta jangan melangkahiku. Itu saja.”
“Sampai kapan kau akan seperti ini?”
“Sampai nanti ketika jodohku datang. Kenapa orang selalu bertanya kapan jodohku datang? Sedang aku sendiri pun tak tahu. Kalau saja aku tahu jawabannya, aku akan jawab dengan lantang, semisal esok lusa, pekan depan, setelah bulan ini, atau dua tahun lagi. Sayangnya, aku pun tak tahu, sama seperti mereka dan kamu.”
“Mungkin, dengan mengizinkan Hen melangkah lebih dulu, kau akan cepat dapat jodoh pula.”
“Aarrrrggghhh!! Kamu bukan tuhan! Atas dasar apa kamu bilang begitu, heh? Kamu itu manusia biasa, sama seperti aku. Kamu juga tak tahu kapan jodohku datang. Diamlah! Biarkan aku tenang dan jangan pernah ungkit-ungkit masalah perjodohan atau apapun namanya ini di depanku. Apalagi soal Hen! Aku muak.”
Rasti tercengang. Lalu mengangguk pelan. Mungkin putus asa.
“Aini, kamu mempersulit dirimu sendiri.”
“Apa? Justru kalianlah yang mempersulit keadaanku! Seandainya tidak ada Rani saat ini, mungkin masalahnya tidak akan seperti ini.”
“Aini! Kamu menyalahkan Rani?”
Aku melihat Rani menatapku. Ada siratan yang mungkin tak ia duga akan terjadi disini. Di depannya saat ini. Aku menyalahkannya, tidak salah kok menurutku. Juga, tak salah bila aku sulit mempercayai langkah yang diambil Rasti saat ini. Aku seperti disidang. Berhadapan dengan kakak perempuanku, Mama, Hen, dan Rani. Ah, perempuan kecil yang menyulut semua ini.
“Apa kamu membenci saya?”
“Melihat wajahmu pun aku tak sudi! Cih! Betapa lantang kamu bertanya padaku. Siapa kamu? Orang baru yang mencoba merusak keluargaku. Kamu pikir kamu bisa merebut Hen dengan mudah?”
“Saya juga pernah dilangkahi, Aini. Itu memang sulit. Benar-benar sulit buat saya. Apalagi, waktu itu kekasih saya baru saja meninggalkan saya. Sampai saya tidak tahu akan kemana lagi saya.”
“Oh, jadi kamu mendekati Hen hanya karena kamu putus dengan kekasih kamu dan Hen adalah pelarian kamu? Perempuan jalang! Hen, lihatlah kekasihmu ini. Kau hanya jadi tempat pelarian dan ia tak sungguh-sungguh mencintaimu. Dia perempuan yang mungkin saja sudah merasakan banyak sentuhan laki-laki. Apa kau tak risih, Hen?”
“A-apa Aini bilang? Saya perempuan jalang? Sungguh, Aini boleh membawa saya ke dokter dan memeriksakan keperawanan saya. Saya belum pernah berbuat jalang seperti perempuan murahan. Saya perempuan baik-baik.”
“Haha. Sudah berapa kekasih yang kamu putuskan? Atau mudahnya begini, Hen itu laki-laki ke berapa dalam hidup kamu?”
“Aini tak boleh bilang begitu. Hen laki-laki yang baik. Mana mungkin saya memilih dia untuk saya permainkan? Saya dan Hen punya komitmen.”
“Pergi kamu dari sini! Tolong jangan buat aku semakin gila karena ulahmu dan Hen. Aku semakin sulit untuk berfikir sekarang. Gara-gara ulahmu dan Hen, aku tersudutkan.”
“Aini! Kalau kamu memudahkan orang lain, pasti urusanmu pun akan dimudahkan. Apa kamu mengira dengan menghalangi niat baik seseorang akan membuatmu bahagia? Kamu boleh lega di depan orang, tapi dalam lubuk hatimu, kamu terbebani, bukan?” Sekarang giliran Hen. Seandainya aku dilahirkan setelah Hen, mungkin tak begini jalan ceritanya.
“Tahu apa kamu soal hati? Yang tahu hatiku hanya aku dan tuhan. Bukan kamu, laki-laki. Manusia hanya bisa melihat dari luar saja. Tak pernah sekalipun mau mengerti orang lain.”
“Apa kamu sudah mengerti orang lain, Aini? Hey, lihat! Bercermin! Bahkan di saat pernikahan Rasti pun kamu menyendiri dan menjauh dari orang-orang bukan? Apa itu namanya? Kamu iri?”
“Aini, maafkan saya. Kalau begitu, saya akan mundur. Nanti saya akan ajak Hen untuk mundur pula. Saya akan baik-baik saja.”
“Baguslah! Akhirnya kamu merasa juga ya kalau langkah kamu dan Hen itu salah? Ingat anak kecil, masih ada aku dan Rev yang belum menikah. Kamu jangan sok baik dengan wajah lugumu itu di depan mama.”
“Maaf, maafkan saya. “
“Tidak. Kami tidak akan mundur! Dengar baik-baik, Aini, meskipun kamu adalah kakak perempuanku, kamu tidak berhak menghalangi niat baik kami untuk menikah. Mana ada aturan kakak harus duluan da adik tidak boleh melangkahi?”
Hen pergi. Berlalu dari hadapanku dengan menarik tangan Rani yang terkejut. Pergi keluar rumah. Aku melihat Mama dan Rasti pun terkejut. Mama, aku tak tahu bagaimana perasaanku melihat mama akhirnya menangis.
Aku memang melihat air matanya. Tapi tidakkah dia juga melihat air mataku? Aku juga perempuan, sama seperti dia. Harusnya dia mengerti. Harusnya dia paham betapa sulitnya berada di posisiku. Kenapa selalu menuntut aku yang harus mengerti mereka?
OOO
“Dia juga pernah dalam posisimu, Aini. Dia pernah bilang pada kau, bukan? Harusnya kau yang mengerti mereka. Harusnya kau yang pahami mereka. Kalau jodohmu tak kunjung tiba, apa mereka pun harus turut sedih seperti kau?” Lagi-lagi hanya Mama yang berani menancapkan matanya pada hatiku. Melihatku masih seperti perempuan kecilnya yang merengek di kakinya.
“Kalau Hen menganggapku sebagai saudara, mestinya ya. Aku sakit, maka dia pun akan merasa sakit. Aku senang, maka dia pun otomatis senang juga. Itulah prinsip saudara. Bukan bahagia di atas penderitaan orang. Kalau dia tetap ingin maju dengan perempuan itu, dia tak bisa kuanggap saudara lagi.”
“Apa yang ada dalam pikiranmu, Aini?”
“Tinggalkan aku sendiri, Mama.”
Sekali lagi, ia menghela nafas sebelum mencabut kedua matanya dari dalam hatiku dan meninggalkanku sendiri.
Aku merasa lelah. Lelah luar biasa. Mungkin kata orang-orang itu benar. Aku harus mengalah. Tapi aku lemah. Aku tak bisa. Ingin rasanya katakan pada mereka bahwa aku pun jenuh dengan keadaan ini. Aku juga ingin bahagia seperti mereka. Tapi bagaimana mengatakan pada mereka apa yang sebenarnya ada dalam hatiku? Mereka tak akan mengerti bahwa aku tak ingin jatuh cinta lagi sebelum saat itu benar-benar datang menjadi milikku. Aku tak ingin hatiku terpenuhi dengan gumpalan-gumpalan perasaan sampah yang hanya membuatku sakit pada akhirnya, atau menyakiti ketika aku tak menginginkannya. Maka setiap kali desiran itu menghampiri, segera kutepis dengan keangkuhan rasa yang sudah kubangun dengan kekuatan penuh selama berpuluh-puluh hari lamanya. Aku benar-benar tak ingin menangis lagi. Cinta telah mengajari air mataku untuk selalu berebut keluar dari persembunyiaannya dari sudut kedua mataku. Kalaupun tak bisa disebut cinta, maka rasa apapun sebutannya tak lagi ingin kugapai.
Itulah mengapa mereka bilang aku perempuan tak berperasaan. Perempuan yang kini menutup diri dari makhluk bernama laki-laki. Perempuan yang hanya mengurung hati dalam kamarnya sendiri.
Aku memang sudah mati rasa. Maka ketika ada seseorang yang ingin menawari sebuah rasa baru, aku tak bisa menangkapnya. Pun ketika ia bilang akan sabar menungguku. Aku terlalu kaku untuk bisa selembut dulu. Rasa ini sudah kadaluarsa. Sudah basi seperti nasi yang teronggok di piring setelah dua hari tak terjamah manusia. Aku tak bisa, tapi aku pun lebih tak bisa untuk melihat Hen melangkahiku.
Aku benar-benar lelah hingga kantuk menyerangku dengan begitu hebat. Aku terlelap. Dan dalam lelapku, aku melangkah melewati jalan berkerikil dan berbatu. Di depan sana, tak ada apa-apa. Hanya kabut yang semakin lama semakin lebat. Semua memutih. Sedang di belakangku, suara-suara memanggilku. Aku mengenal suara-suara itu. Suara mama, suara Rasti, suara Rev, suara Hen, dan suara Rani. Aku menoleh, dan kulihat tangan-tangan mereka menjulur ingin menggapaiku. Aku tersenyum saja. Untuk apa kembali pada mereka sedang di depan sana jalan terus membentang, meliuk, menanjak menuju langit. Awan terbuka dan sebuah cahaya. Aku tak akan kembali. Aku lelah.

                                                                                  Natar, 25 Februari 2014


Tidak ada komentar: