Halaman

09 Februari 2013

RATU TELAT


Sejak dinobatkan sebagai Ratu Telat ketika di sekolah menengah pertama, aku memang seolah terkena pengaruh gelar itu. Hampir setiap hari, aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk lari-lari dari depan jalan raya sampai gerbang sekolah. Lebih parahnya lagi kalau terhadang oleh kereta yang lewat  karena jalan masuk menuju gerbang sekolah dilintasi oleh rel kereta api. Fiuhh, tambah pengen nangis deh. Padahal, aku sudah berusaha keras untuk datang jauh sebelum waktu masuk, atau setidaknya tepat saat bel masuk kelas berbunyi. Tapi kok ya keadaan sangat jarang mendukung. Mulai dari angkot yang gak mau berhenti karena penumpangnya anak sekolah (dulu, ongkos anak sekolah jauh lebih rendah dari ongkos penumpang umum, maka banyak supir angkot yang pilih-pilih penumpang), sampai ya itu tadi, kereta lewat saat waktu sudah sangat mepet.

Aku juga tak tahu siapa yang awalnya memberi gelar Ratu Telat itu padaku. Tahu-tahu, ketika aku datang terlambat ada suara yang keluar,
“Yah, maklum aja deh, ratu telat, hihi..”

Ironisnya, itu tidak hilang sampai aku lulus SMP, ternyata gelar Ratu Telat masih kusandang hingga aku melanjutkan sekolah di SMA. Kalau waktu di SMP dulu, hukuman bagi yang telat hanya diinvestigasi berlebihan sambil diberi wejangan bijak, tapi ketika di SMA, hukumannya adalah menyapu ruang BP, dan tetap diberi wejangan seperti halnya waktu di SMP. Sampai-sampai, aku masih sangat ingat dengan kata-kata yang pernah diucapkan sang guru BP padaku,
“Hei, Nak, kamu gak pernah nyapu ya di rumah, kok kaku sekali nyapunya.”

Hello??!! Aku bisa telat karena beres-beres rumah dulu sebelum berangkat sekolah!

Tapi ya sudahlah, aku terima saja perkataan itu dengan lapang dada. Ya, mungkin karena aku nyapu sambil kesal dan malas, makanya terlihat kaku.

OOO

Disadari atau tidak, kebiasaan terlambat ini bisa saja jadi karakter seseorang. Bukankah hal yang awalnya asing bisa jadi terulang kembali, lalu menjadi terbiasa, dan akhirnya menjadi karakter seseorang? Rasanya gak ada untungnya terlambat itu, sudah diburu-buru orang lain, mengganggu kestabilan emosi orang lain, sampai mengganggu pencitraan diri sendiri. Apalagi kalau sudah menyangkut pekerjaan yang penilaiannya diambil dari kedisiplinan.

Jadi teringat kemarin sore ketika hadir dalam rapat bulanan di tempatku bekerja. Aku sudah berserah diri mendengarkan berapa jumlah hari yang aku datang terlambat beserta jumlah menit yang terakumulasi selama terlambat itu. Dan memang dugaanku benar. Aku masih saja banyak terlambat! Sepuluh hari terlambat dengan akumulasi keterlambatan hingga 38 menit! Fiuhh…

Tambah miris ketika dibacakan peraturan baru bahwa mulai bulan Maret nanti, siapapun yang terlambat akan dikirimi SP1! Hwaaa!!!

Makanya, ketika tadi pagi aku berhasil datang 5 menit sebelum pukul 7.00, teman kerjaku bilang,
“Wah, ada kemajuan nih tampaknya, gak telat lagi ya? Hehe…”

Sip! Bertekad deh gak datang telat lagi :D

Tidak ada komentar: