31 Januari 2013

Kepada Sephia

Maaf.
Sebenarnya, aku malu menulis surat ini kepadamu, tapi perasaan malu itu akhirnya terkalahkan dengan perasaan paling fitrah yang ternyata ada pada hatiku. Perasaan fitrah bahwa aku menyayangimu, sesungguhnya aku menyayangimu.

Mungkin aku bukan seorang teman yang baik untukmu, dan sebagai seorang perempuan, aku kurang peka terhadap perasaanku sendiri atau perasaanmu. Aku tak benar-benar tahu apa yang ada dalam hatimu tapi setidaknya aku bisa tahu apa yang kau rasakan jika saja aku adalah seorang perempuan yang peka.

Begitu tidak pekanya aku hingga bisa membuatmu merasa terabaikan dan merasa sepi, padahal kita berada dalam satu lingkaran. Begitu tidak pekanya aku hingga tak bisa melihat hujan yang turun deras di hatimu, padahal mendung itu sejatinya sudah menggantung ketika kita saling sapa. Begitu tidak pekanya aku hingga diamnya kau, kuanggap sebagai pembawaan dirimu.

Dan kini, ketika kau benar-benar menangis dalam wajah tundukmu, aku tahu bahwa aku benar-benar bukan teman yang baik bagimu. Maafkan aku, Sephia.

Temanmu,
Ram

25 Januari 2013

Ketika Merasa Sepi dan Sendiri

Ketika Anda merasa murung, tahukah Anda bahwa Anda dapat mengubahnya dalam
seketika? Pasang musik yang indah, atau mulai menyanyi—ini akan mengubah emosi
Anda. Atau pikirkan sesuatu yang indah. Pikirkan seorang bayi atau seseorang yang
sungguh-sungguh Anda cintai, dan tinggallah di situ. Sungguh-sungguh pertahankan
pikiran itu di benak Anda. Halangi semua pikiran lain kecuali pikiran itu. Saya jamin
Anda akan mulai merasa baik.

Apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan? Duduk dan tulislah pada secarik kertas.
Tulisan dalam kalimat kala kini. Anda bisa memulai dengan menulis, “Saat ini saya
begitu bahagia dan bersyukur bahwa….” Kemudian jelaskan apa yang Anda
inginkan dalam hidup, dalam setiap bidang kehidupan.

Langkah kedua adalah percaya. Percaya bahwa apa yang Anda minta sudah menjadi
milik Anda. Miliki apa yang saya sebut sebagai iman yang teguh. Percaya pada apa
yang tidak kasatmata.

Langkah ketiga, lagkah terakhir di dalam proses, adalah menerima. Mulailah merasa
senang tentangnya. Rasakan seperti apa yang akan Anda rasakan ketika keinginan itu
tiba. Rasakan sekarang juga.

OOO

Versiku:

Ketika anda merasa sepi dan sendiri, tahukah anda bahwa itu hanyalah sebuah perasaan paling melankolis yang ada dalam hati anda. Ketika anda merasa terabaikan dan tak menjadi bagian dari orang-orang di sekeliling anda, tahukah anda bahwa itu hanyalah perasaan paling pesimis yang anda punya. Mungkin anda belum sadar, bahwa esok, ketika mati pun, anda akan sendirian di dalam tanah. Siapa yang mau menemani tidur panjang anda kecuali amal-amal anda yang sedikit itu?

Maka, ketika anda merasa sepi dan sendiri, nikmati saja kesendirian itu. Hayati sebagai proses pendewasaan yang akan membuat anda bisa melihat segala hal lebih dekat. Bahwa anda tak harus bergantung pada orang lain untuk meramaikan suasana hati anda. Bahwa anda tak harus mengiba untuk ikut serta menjadi bagian dari orang-orang di sekeliling anda agar anda merasa ‘ada’.

Yang perlu anda lakukan adalah memahami bagaimana orang-orang di sekeliling anda bersikap pada anda. Jadilah teman yang baik bagi mereka, apapun keadaannya. Bagaimanapun tanggapannya. Ketika anda melakukan hal paling baik pada orang-orang di sekliling anda, maka anda akan dihinggapi perasaan bahagia yang anda pun tak mengerti bagaimana perasaan bahagia itu bisa sampai dalam hati anda. Lalu berdoalah.
Mintalah pada Dzat yang menciptakan anda, sesuatu yang tak bisa diduga oleh orang-orang d sekeliling anda. Mintalah agar anda menjadi teman yang baik bagi mereka, maka Dzat yang menciptakan anda akan memberikan anda orang-orang yang akan menjadi teman baik bagi anda.

Ketika itu sudah anda lakukan, maka tersenyumlah. Katakan pada diri anda, bahwa anda adalah orang yang kuat. Anda adalah orang yang tak bergantung pada orang-orang di sekeliling anda untuk menjadi bahagia atau menjadi sedih. Anda adalah pribadi yang apa adanya, yang menjalani segala proses kehidupan dengan suatu penghayatan lebih. Menerima apa yang terjadi pada anda, menikmati, menghayati, dan mensyukurinya. Bahwa apapun yang terjadi pada anda, itulah yang terbaik untuk anda.

: ketika merasa sepi dan sendiri

21 Januari 2013

BELITANG DAN BALONG-BALONG


Horeee... jalan-jalan lagi. Kali ini ke Belitang, tepatnya di desa Yosowinangun BK 11 OKU Timur. Baru pertama kali kesini dalam rangka nganter ade yang sudah punya keluarga kecil.

Perjalanan dimulai malam hari sekitar pukul 21.30 dengan mobil teman. Belum ada yang bisa dilihat dalam perjalanan malam karena gelap dan ngantuk. Sebagian juga memang sudah pernah kulewati waktu perjalanan Palembang-Lampung. Tapi kali ini, kami melewati jalan Raya Lintas Tengah, yang melewati Kotabumi, Bukit Kemuning, kemudian Martapura, dan sampailah ke Belitang. Perjalanan yang lumayan melelahkan, khususnya bagi sang supir yang rela gak tidur semalaman untuk mengantarkan kami sampai kesana, hehe. Sampai di Belitang, hari masih sangat pagi sekitar pukul 04 dini hari. Karena kondisi sudah lapar, maka kami mampir dulu di warung kecil pinggir jalan (sudah muter-muter cari tempat yang agak enakan, tapi gak ketemu, sebagian belum buka atau malah habis sekalian). Aku cuma makan semangkuk mi instan pake telur karena belum nafsu makan nasi. Setelah perut terisi, kami kembali menelusuri jalan yang masih gelap menuju rumah keluarga ade ipar. Ternyata gak jauh dari tempat kami makan.

Subuh merayap perlahan hingga terang. Ngantuk dan cape ternyata lebih menguasai kami, jadilah kami istirahat dan belum bisa keliling lihat-lihat suasana sana.

Sebenarnya, suasana disana tidak jauh berbeda dengan suasana di kampungku. Gaya bangunan rumah masih sama, tapi yang sangat berbeda adalah pemandangan diluar rumah. Sepanjang perjalanan, hampir di setiap rumah memiliki kolam besar tempat beternak berbagai macam ikan, atau kalau sebutan disana adalah ‘Balong’. Luasnya cukup buat aku ternganga. Kalau ada lomba renang disana, kayaknya bisa deh, hehe.
Sebagian besar, balong-balong disana diisi dengan ikan bawal, nila, dan mas. Saking melimpahnya, warga disana sampai bilang sudah gak doyan lagi sama ikan. Hm, kalau aku sih memang jagonya makan masakan ikan, hehe. Tergiur dengan ajakan keluarga disana untuk memancing, ibu pun coba-coba deh mancing. Umpannya? Cuma sepotong kue apem! Wah, ikan sana doyan juga ya kue legendaris gitu hehe.
Tapi, namanya juga newcomer di dunia pemancingan, ibu Cuma berhasil menarik seekor ikan kecil. Gak apa lah J

Di samping balong jumbo, ada pemandangan yang menyejukkan mata. Hamparan sawah hijau nan sejuk menyergap kami, juga masih ada balong lain yang lebih besar lagi. Rasanya benar-benar ada di pedesaan seperti syair lagu anak-anak jaman dulu. Rasanya kalau gak mengabadikan pemandangan ini, bakal rugi deh. Belum tentu bisa kesini lagi dengan momen yang sama kan?

Setelah puas menyegarkan mata dengan pemandangan alam, kami pulang. Rupanya ibu masih pengen jalan-jalan ke tempat yang sekiranya bisa dapat oleh-oleh untuk orang di rumah. Secara, ada dua ade yang ditinggal di rumah. Namanya ibu-ibu, maka yang dicari adalah pasar. Tersebutlah pasar Gumawang, gak terlalu jauh dari rumah. Maka, berangkatlah kami kesana. Sebenarnya, aku agak malas pergi ke pasar. Dalam pikiranku, dimana-mana pasar itu sama aja. Mungkin yang berbeda adalah bahasa lokal dan harganya. Tapi ya ikut saja deh, hitung-hitung jadi tau daerah sana juga.

Sampai pasar, nemu si umang-umang imut yang dilukis karakter kartun dan dikasih rumah-rumahan dari plastik mika. Lucu deh! Dengan harga Rp 10.000,- sudah dapat 3 ekor umang-umang plus rumah plastiknya. Tapi sayang, dalam perjalan pulang, si umang-umang mati. Entah kenapa, padahal sudah dikasih makan lho. Mungkin mabok darat kali ya karena jalan Belitang-Lampung yang kami lewati lumayan banyak lubang-lubangnya.

Suasana sendu sangat terasa ketika kami akan pulang kembali ke Lampung tanpa keluarga kecil (adik perempuanku, suaminya, dan si kecil Aim). Apalagi ibu, air matanya seperti hujan yang turun sore itu. Melankolis banget deh!

Pulang, melewati rute yang sama tapi dengan suasana  berbeda. Kali ini masih bisa kelihatan tempat semalam yang kami lewati. Tugu BK 11 jelas terpampang saat kami keluar dari gangnya. Nama BK 11 ternyata adalah kepanjangan dari Bendungan Komering. Angka 11 didapat dari urutan bendungan. Dari informasi yang kudapat, ada sekitar 30 bendungan disana. Jarak antara 1 bendungan ke bendungan lainnya lumayan jauh, jadi aku bisa bayangkan betapa luasnya bendungan ini.


Hm, kapan-kapan lagi deh kesana J