Halaman

24 Maret 2011

HUJAN ASAM? WAH, GAWAT!

Tulisan ini hanya terinspirasi oleh pertanyaan seorang anak SD pada saya. Malam itu, saya mengajar privat di rumahnya. Mamanya yang baru pulang kerja menasehati saya dan anak-anaknya. Katanya kalau keluar rumah usahakan pakai payung atau jas hujan, bahaya radiasi dan hujan asam akibat gempa dan tsunami Jepang. Anaknya yang masih kelas 4 SD bertanya pada saya,
“Hujan asam itu apa sih?”

Wah, agak kelimpungan juga sih ditanya begitu oleh seorang anak kecil yang pintar dan ingin penjelasan tak sekedarnya saja. Saya yang lulusan sarjana Kimia masa gak tau hujan asam?

Ooo
Hujan asam sebenarnya sama seperti hujan pada umumnya, hanya berbeda pada tingkat keasamannya. Pada hujan biasa, tingkat keasaman hanya berkisar pada pH 6, sedangkan pada hujan asam bisa mencapai Ph 4,5 – 5,5. Mengapa bisa bersifat asama? Pada hujan biasa, keasaman dipicu oleh terlarutnya CO2 dari udara ke dalam air hujan. Senyawa ini bersifat asam lemah dan memang dibutuhkan untuk melarutkan mineral dalam tanah yang digunakan oleh tanaman dan hewan.

Sedangkan pada hujan asam, keasaman lebih dipicu oleh dua senyawa, yaitu ntrogen dan sulfur (belerang). Menurut sumbernya, terdapat dua sumber yang dapat menyebabkan hujan asam. Pertama sumber alami, yaitu akibat dari letusan gunung berapi, atau berbagai aktivitas biologis yang terdapat dalam tanah, rawa, ataupun laut. Kedua, yang bersumber dari ulah manusia baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Misalnya pada pembangkit listrik, industri obat-obatan, atau industri pertanian khususnya yang menggunakan bahan baku amonia.

Proses yang terjadi pada tahapan hujan asam adalah bereaksinya belerang dan nitrogen yang terlepas di udara, dengan oksigen. Reaksi ini meghasilkan senyawa berupa sulfur diaoksida dan nitrogen oksida. Kedua senyawa ini berdifusi ke atmosfer khususnya pada lapisan troposfer, kemudian bereaksi kembali dengan air menghasilkan asam sulfat dan asam nitrat.

Reaksi kimia yang terlibat dalam proses hujan asam ini adalah:
S(s) + O2(g)  SO2(g)
2SO2(g) + O2(g)  SO3(g)
SO3(g) + H2O(l)  H2SO4(aq)

Baik asam sulfat maupun asam nitrat, keduanya merupakan asam kuat yang mudah larut dalam air. Akibatnya, senyawa tersebut akan ikut terlarut dalam air hujan.

Lalu apa bahayanya hujan asam ini?
Bagi tumbuhan, hujan asam mengakibatkan kematian pada tumbuhan tersebut. Hal ini dikarenakan kadar SO2 yang tinggi dapat merusak lapisan lilin yang ada pada daun dan menyebabkan terbentuknya noda putih atau coklat pada daaun, sehingga nutrisinya pun berkurang bahkan habis. Akibatnya, tumbuhan tersebut tidak tahan terhadap suhu dingin, jamur, dan serangga. Selain itu, pH yang rendah juga mengakibatkan penurunan kadar magnesium akibat adanya proses pencucian magnesium di dalam tanah.

Hujan asam yang turun pada danau atau permukaan tanah, dapat menyebabkan meningkatnya kadar asam dalam tanah dan air permukaan. pH yang rendah dalam ait tidak memungkinkan ikan untuk hidup. Asam juga mengikat logam beracun seperi alumunium di danau. Alumunium akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga dihambat oleh tingginya kadar pH.
Akibat lain hujan asam ini adalah terlepasnya ion-ion beracun, baik ke dalam udara, maupun ke dalam air. Ion-ion seperti tembaga dapat menyebabkan timbulnya wabah diare, dan aluminium yang mencemari air dapat menyebabkan penyakit alzheimer.

Ooo
Dari uraian singkat di atas, ada baiknya kita bisa bijak dalam menyikapi aktivitas perindustrian, khususnya yang menggunakan senyawa-senyawa kimia berbahaya.
Wallahu ‘alam.

12 Maret 2011

MOMENTS IN THE SACRAL MOMENT

Ternyata, waktu benar-benar telah berlalu begitu cepat. Nyatanya, seorang sahabatku kembali meniti lembaran yang baru dalam hidupnya. Kali ini bukan wisuda atau pergantian pekerjaan, tetapi memulai hidup bersama seseorang yang akan menemaninya sampai akhir hayat kelak.

Foto-foto ini sengaja kucuri saat hampir semua orang tak menyadari keberadaan kameraku. Beberapa adegan menarik perhatianku, seperti yang di samping ini.
Sang suami yang sudah didandani oleh tim wardrobe masih juga belum terlihat ‘menor’ oleh tantenya. Akhirnya, ruang tamu pun disulap jadi tempat rias bagi sang pengantin.

Adegan lain yang membuatku tersenyum adalah ketika sepasang pengantin itu fot
o berdua. Entah karena tegang atau gugup, mereka berdua terlihat masih canggung untuk foto berdua dengan pose yang mesra. Apalagi, di depan mereka banyak mata yang memandang dan saling melempar tawa bahagia.

Di saat hampir semua mata memadang ke arah sepasang pengantin yang sedang berpose di depan kamera, aku kembali mencari satu angel ya
ng menarik perhatianku. Apalagi kalau bukan ekspresi dari orang-orang itu. Lihat saja, mereka terus tersenyum bahagia melihat sang pengantin bergaya. Eits! Tapi rupanya ada yang sadar akan bidikan kameraku! Vera!


Untuk foto yang terakhir ini, khusus diambil oleh seorang temanku. Foto bersama dengan sepasang pengantin, berharap agar segera ketularan jadi pengantin, hehe...



OOO
Aku pernah dengar mitos yang mengatakan bahwa jika kita mencuri melati pengantin, maka kita akan cepat menjadi pengantin pula. Aku tersenyum saja ketika seorang teman berbisik di telingaku saat aku bersalaman dengan sang pengantin,

“Ambil melatinya! Hehe”
Bagiku, jodoh sudah diatur Tuhan. Cepat atau lambatnya tidak tergantung pada kita mencuri melati pengantin atau tidak. Tapi, namanya juga mitos, tergantung tiap individu mau percaya atau tidak.


~ Barokallahulaka wa baroka ‘alaika wa jama’a baina kuma fi khoiri ~