Halaman

10 Februari 2011

PILIH MANA, mengurangi zat aditif sintesis atau mencicil penyakit kanker?

Mungkin sebagian kita sudah tidak asing lagi dengan zat aditif makanan, yaitu zat kimia yang ditambahkan ke dalam makanan untuk menambah kualitas makanan tersebut, seperti manambah cita rasa, menambah warna, atau daya tahan makanan (pengawet).
Sebenarnya, kalau kita bisa memilih, kita bisa kok memakai bahan akternatif untuk menambah cita rasa, warna, atau daya tahan makanan itu. Karena, pada dasarnya, zat aditif terbagi menjadi dua, yaitu zat aditif alami dan zat aditif sintesis.

Zat aditif alami, umumnya tidak berbahaya karena memang diambil dari bahan-bahan alami. Contohnya daun pandan sebagai perwarna hijau dan pemberi aroma, kunyit sebagai pewarna kuning, pala sebagai penyedap rasa, dan garam sebagai pengawet.

Nah, yang bisa membahayakan kesehatan adalah zat aditif sintesis bila penggunaannya tidak sesuai dosis atau sedikit tapi terus-menerus. Contohnya adalah sakarin dan siklamat yang digunakan untuk memberi rasa manis pada makanan. Kedua zat ini dapat menyebabkan kanker. Vetsin atau penyedap rasa yang mengandung monosodium glutamat dapat memicu penyakit kanker. Memang, di awal penggunaan tampak biasa-biasa dan tak merasa apa-apa, tapi sebenarnya saat itulah tubuh sedang menumpuk zat-zat kurang baik.

Memang kalau dibandingkan dengan zat aditif sintesis, penggunaan zat aditif alami agak merepotkan karena harus mengekstrak dulu bahannya. Misalnya untuk mendapatkan warna kuning, harus menghancurkan kunyit beruas-ruas kunyit dahulu. Atau untuk menyedapkan rasa, harus menghaluskan pala dahulu, tapi kalau memang mau sehat, rasanya tak apa jika sedikit mengorbankan waktu daripada mengorbankan tubuh.

Tidak ada komentar: