Halaman

12 Mei 2010

NYANYIAN AWAN DAN HUJAN


SATU SAJIAN BERBAGAI RASA

Judul : Nyanyian Awan Dan Hujan
Penulis : Laela Awalia dan Angga Adhitya Prasojo
Penerbit : Litera
Tebal : 70 halaman + cover
Tahun terbit : 2010
Harga : Rp 15.000,-

Kalau anda penikmat puisi, cobalah mencicipi beragam rasa yang ada dalam buku satu ini. lho, kok beragam rasa? Iya, dalam satu buku ini, saya mendapati rasa yang bermacam-macam ketika membacanya. Untung lidah saya gak sampai ngambek karena harus berulang kali merasakan sensasi rasa yang katanya berubah dengan ekstrim.


Pertama kali mencicipi, satu gigitan terasa manis dengan sedikit sensasi asam. Saya teringat pada saus tomat yang biasa dihidangkan bersama sajian pasta seperti spagheti atau mi ayam. Didorong oleh rasa penasaran, saya kembali mencicipi puisi yang lain. Renyah dan gurih! Baru dua gigitan, ternyata saya ketagihan. Kali ini saya teringat pada iklan keripik kentang yang sering muncul di televisi. Mungkin puisi yang satu ini dibuat dengan tangan ringan dan pikiran tenang hingga menghasilkan kata-kata yang renyah. Tentang rasanya, mungkin ditaburi dengan bumbu rahasia yang dibeli di pasar rasa yang menjual berbagai kisah dan jejak langkah.

Kedua kai mencicipi (hehe, ternyata ada ya mencicipi sampai dua kali!), rasa yang ekstrim harus menyengat lidah saya. Begitu pahit! Sampai-sampai saya harus buru-buru mencari penawar untuk menghilangkan sensasi pahit itu. seandainya boleh tidak menghabiskan satu porsi puisi dalam satu waktu, saya tak akan menghabiskannya. Tapi menurut agama, tak bleh menyisakan makanan yang telah kita ambil. Makanya, saya menghabiskannya. Dan amazing! Dalam gigitan terakhir, saya merasakan manis kembali! Pure sweet! Aseli manis!

Bagaimana bisa?

OOO

Sebab puisi memang sepenuhnya tentang rasa. Cinta, kecewa, sakit, terluka. Pernah suatu kali aku mencoba menulis puisi, duduk menghadap jendela dengan angin yang lembut berhembus dan pikiran penuh yang berdesak-desakan ingin keluar, tapi tetap saja tak ada kata tertuang di atas lembar kertas. Kalaupun ada, aku merasa tak ada nafas yang bisa menghidupkan puisiku itu. Maka, mencoba mengerti watak sebuah rasa, setiap kesempatan yang memungkinkan rasa ingin keluar sebagai sebuah puisi, kubiarkan saja ia menguasai jari jemariku untuk menuliskannya.

Terlalu sering hujan yang menginspirasi, berkali-kali pagi yang memanggil, dan tak jarang senja yang menggoda. Maka ketika hujan, pagi, dan senja menemuimu, kau akan bisa merasa bahwa disanalah tempat segala rasa bisa tumpah.

Maka, berterimakasihlah pada hujan, pagi, dan senja yang dengan suka relanya menjadi inspirasi untuk makhluk bernama puisi, lalu berterimakasihlah pada Tuhan yang telah menurunkan hujan, mencipta pagi, dan menghadirkan senja...

OOO

Untuk pemesanan:
Angga : 0878 99207240
Lia : 0856 69681236

Tidak ada komentar: