12 Mei 2010

ANTIOKSIDAN DAN RADIKAL BEBAS

Pernah lihat iklan prduk makanan dan minuman yang katanya mengandung antioksidan, kan? Penawaran yang akan memikat konsumen karena katanya dapat menghilangkan efek radikal bebas yang ada dalam tubuh, seperti penyakit kanker, dan penuaan dini pada kulit. Benarkah?

Radikal bebas merupakan suatu molekul yang mengandung atom oksigen dimana pada orbit terluarnya terdapat elektron yang tidak berasangan. Karena tidak berpasangan, molekul tersebut menjadi tidak stabil dan akan selalu mencari satu elektron untuk saling melengkapi. Namun, dalam pencarian satu elektron ini, radikal bebas akan merebut paksa satu elektron dari molekul lain tanpa pernah berfikir apa akibat yang akan terjadi pada molekul yang ditinggalkan elektronnya (memang radikal bebas bisa berfikir? Hehe).

Ternyata, efek yang ditimbulkan memang lebih parah. Molekul yang kehilangan satu elektronnya itu akan menjadi radikal bebas baru. Proses pencarian dan perebutan satu elektron pun akan berulang, bahkan dapat terjadi reaksi berantai. Kalau reaksi ini terjadi dalam tubuh, efek yang ditimbulkan bisa serius.

Pertama, radikal bebas itu akan merusak molekul pembentuk sel, seperti karbohidrat, lemak, protein dan deoksiribo nucleid acid (DNA). Reaksi berantai pun kembali terjadi. Karena mlekul pembentuk sel rusak, maka ia akan menghasilkan sel yang rusak pula. Sel, bagaimanapun keadaannya, ia akan tetap membelah diri dan tumbuh. Nah, kalau sel yang rusak ini tetap tumbuh, ia akan menjadi pemicu penyakit degeneratif seperti penuaan diri atau bahkan sel pembentuk kanker bila pertumbuhannya tidak terkendali.

Penuaan dini yang diindikasikan dengan tidak kencangnya kulit dan keriut, disebabkan karena radikal bebas merusak senyawa lemak yang terdapat pada membran sel. Sedangkan kanker disebabkan karena termutasinya gen vital yang mengontrol pembelahan sel akibat rusaknya DNA, mengakibatkan tidak terkendalinya pertumbuhan sel dan mampunya sel menyerang jaringan biologis lain. Jadi, kalau pada satu bagian sel sudah menjadi sel kanker, maka kemungkinan besar jaringan yang lain pun akan diserangnya.

Begitu parahnya efek radikal bebas di dalam tubuh sehingga harus dikendalikan keberadaannya. Salah satunya dengan menangkal radikal bebas itu dengan suatu senyawa antioksidan. Waduh, apalagi tuh antioksidan?

Antioksidan merupakan substansi untuk menetralisir radikal bebas dalam tubuh dan mencegah kerusakan yang ditimbulkannya pada sel normal, protein, karbohidrat, dan lemak. Caranya adalah dengan melengkapi kekurangan elektron pada radikal bebas sehingga dapat memutuskan reaksi berantai radikal bebas yang bisa menyebabkan stres oksidatif (keadaan tidak seimbangnya jumlah oksidan dan prooksidan dalam tubuh).

Berdasarkan sumbernya, antioksidan dikelompokkan menjadi dua, yaitu antioksidan sintetik (buatan) dan antioksidan alami. Antioksidan sintetik yang diizinkan penggunaannya antara lain butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluen (BHT), dan tokoferol. Sedangkan antioksidan alami antara lain senyawa fenolik atau polifenol (flavonoid, turunan kumarin, turunan asam sinamat, tokoferol, dan asam organik polifungsional). Golongan flavonoid yang memilki aktivitas antioksidan meliputi flavon, flavonol, isoflavon, katecin, flavonol dan kalkon. Banyak sumber antioksidan alami yang bisa dipilih, dua diantaranya adalah teh yang mengandung senyawa golongan polifenol berupa katecin dan tanin yang memiliki kemampuan antioksidan, kedelai yang mengandung senyawa isoflavon, jahe yang mengandung komponen senyawa 6 gingerol dan 6-shogaol dan spirulina yang mengandung Selenium, Vitamin E, enzym SOD yang dapat memperkecil resiko kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas.

1 komentar:

Akhmad Baiquni mengatakan...

Kadang itu semua hanya marketing saja. Radikal itu memang ad terus dimana2, bahkan dalam cat rumah