23 Februari 2009

TIGA HAL YANG HARUS DIWASPADAI

Diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau pernah bersabda:
Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), berarti seakan-akan dia mengeluhkan Rabbnya.
Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya, berarti sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah.
Barang siapa menghormati seseorang karena kekayaannya, sungguh telah lenyaplah dua pertiga agamanya.

NASIHAT DAHSYAT

“Jika kau ingin sukses, datangilah ibumu, basuhlah kakinya. Bila datang hari raya, datanglah pertama kali kepada ibumu dan mohon ampunlah kepadanya sebelum ia didatangi orang lain dan sebelum engkau meminta maaf kepada selainnya...”

AAA...!!!

Mungkin kalian akan bertanya kenapa aku ngasih judul yang begitu? Memang bener, itu dibaca sambil teriak (aaa...!!) karena aada satu kejadian yang berlangsung di lab ku. Tau kan, tempat itu udah jadi rumah keduaku minggu-minggu ini? Setiap hari harus berkutat dengan senyawa-senyawa kimia dengan bau yang menyengat.

Kejadian ini sempet membuat para penghuni lab (khususnya yang perempuan) berlarian sambil teriak-teriak. Sebenarnya kejadian ini sudah diisukan oleh para kakak tingkat kami. Mereka berpesan pada kami untuk selalu berhati-hati. Kami sih, awalnya ragu karena memang selama ini belum terbukti nyata.

Tapi, ternyata, beberapa hari yang lalu, seorang teman mengalaminya sendiri. Sebut saja namanya Ve, seorang teman seangkatanku yang sehari-harinya memang berkutat di dalam lab. Ia melihat sesuatu yang bergerak di dalam loker. Bergerak sangat cepat hingga tak bisa mengeluarkan kata lain kecuali teriak “Aaaaa!!!”

Keesokan harinya, ia bercerita padaku tentnag kejadian yang dialaminya itu. aku, seperti biasa, agak gak percaya gitu. secara, dia itu memang ratu usil di lab. Kebiasaannya ya, memang jailin orang. Jadi, aku agak sangsi sama ceritnaya. Tapi, dia meyakinkan aku berkali-kali. Sampai-sampai, dia bilang, “Kalo gak percaya, tunggu aja sampe kamu ngeliat sendiri.”

Naluri kewanitaanku, agak menonjol juga sih denger kalimatnya itu. gimana kalo beneran aku yang giliran ‘dijumpainya’? sempet merinding sih. Tapi berusaha biasa aja. Sampai beberapa hari yang lalu, aku yang giliran berkutat sendirian di lab (karena hari Sabtu). Awalnya, aku biasa aja. Tenang... sendirian di lab, siapa takut?

Tapi, beberapa saat kemudian, aku melihat sesuatu yang bergerak dari ujung bawah sebuah loker. Mulanya pelan, pelan, lalu akhirnya cepat. Sangat cepat. Aku yang waktu itu lagi sibuk-sibuk dengan pekerjaanku, langsung menjauh sambil meneriakkan apa yang yang pernah diteriakkan oleh temanku, Ve.

“Aaaa...!! Tikuusss...!!”

Note:
Jangan merasa di ‘gokilin’ sama aku ya! Hehe... ;-D

01 Februari 2009

fakta unik


kamu gak bakal bisa melipat kertas berulang kali hingga lipatan lebih dari 7. Gak percaya? coba deh! :-)

SEPORSI CINTA?



Suatu malam, seorang teman mengirim pesan pendek pada saya yang sedang asyik bercengkrama dengan keyboard dan layar komputer. Dalam pesan pendeknya, ia menulis kata-kata yang tiba-tiba mampu menghentikan aktivitas saya dalam sejenak. Ia tak bertanya tentang PR-PR organisasi yang selama ini jadi menu sehari-hari kami. Ia pun tak bertanya tentang kabar kuliah atau kegiatan menulis saya. Ia hanya mengirim saya kata-kata ini.

“Cinta itu begitu luar biasa ya, mampu membuat kita tergugu dengan berjuta harap juga rindu, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita cintai. Hingga wujudnya sudah mencipta resah, cemas, juga doa-doa.”

Lama saya tak membalas pesan pendeknya. Bukan karena malas, tapi saya harus mencermati setiap kata yang ia tuliskan di layar kecil itu. Adakah ia serius atau hanya ingin ‘perang’ kata-kata dengan saya. Dan setelah saya berpikir agak lama, saya membalasnya. Hingga saya harus menghentikan aktivitas saya sejenak karena setelah itu kami terus saling berbalas pesan pendek.

“Tapi, cinta pun menyediakan air mata... Bagaimanapun, ketika kita terjebak dalam sebuah rasa yang awalnya mungkin tak kita sadari, harusnya kita bisa jadi lebih dewasa. Bagaimanapun –sekali lagi- cinta akan tetap indah jika ia disembunyikan hingga hanya kita dan Allah saja yang tahu.”

“Cinta itu ibarat warna, jadi ketika kita merasakan ada getar yang tak terdefinisi, itulah cinta. Hanya saja, kita tak tahu cinta dengan warna apa dan seberapa kuat pendarnya menerangi hati kita. Ada orang yang menyadari warna cinta dan kuatnya pendar itu langsung ketika dekat dengan orang yang dicintai.ada juga yang baru sadar ketika orang tercinta telah pergi.”

“Sesungguhnya aku tak menyadari apa yang aku rasakan. Mencintai bagiku adalah suatu hal yang membuatku bahagia, tapi dicintai terkadang bisa menyisakan satu rasa yang tak terdefinisi dan mungkin saja membuat kita terluka. Hingga pada akhirnya kita lah yang harus berkorban agar tak melihat pendar kekecewaan pada wajahnya. Karena itu, mengapa harus sedih jika hanya bisa mencintai dari jauh? Balasan cinta tak harus dari orang yang kita cintai kan!”

“Benarkah balasan cinta itu akan kita peroleh dari orang yang tidak kita cintai? Tidakkah itu justru akan semakin menyakitkan kita atau setidaknya bukan cinta yang kita berikan pada orang lain itu, melainkan hanya rasa sayang atau kasihan...”

“Ya, itulah keajaiban sebuah cinta! Kita mungkin tak menyadari bahwa masih ada orang yang mencintai kita dengan setulus hati. Memang, mengejar apa yang kita cintai akan membuahkan satu rasa paling indah jika itu tercapai. Tapi, bukankah lebih indah memberi cinta pada orang yang mencintai kita setulus hati? Yah, pada akhirnya kita harus memilih. Tapi, yakinku hanya satu, bahwa cinta tetap indah pada akhirnya...”

“Ya, cinta akan tetap indah pada akhirnya. Karena cinta penuh dengan sensasi yang tak habis untuk dinikmati dan dikenang. Bukankah cinta butuh proses? Proses itu lah seni keindahannya... mungkin memang tepat satu kalimat ‘Surga hanya diperuntukkan bagi para pencinta.’”

Pesan-pesan pendek itu menjadi smacam renungan untuk saya, dan mudah-mudahan bagi kita semua. Bahwa cinta seindah apapun akan bisa menciptakan luka jika terlalu mengejarnya dengan porsi yang tak seharusnya. Tapi di sisi lain, cinta bagaimanapun rupanya bisa menciptakan kebahagiaan jika diporsikan sesuai kadarnya.

Cinta memang sepatutnyalah bisa membuat kita jadi lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa perlu label khusus bagi kebanyakan pecinta muda yang belum sepenuhnya mengerti makna sesungguhnya. Sepatutnyalah cinta diporsikan sesuai dengan kebutuhan dan hak sesorang atau Dzat yang memberi kita cinta. Jikalah ada seseorang yang memberi kita cinta, mungkinkah cintanya akan melebihi cinta yang telah diberikan Dzat pencipta cinta itu? Maka, bertanyalah pada diri kita sekarang. Seberapa besar porsi cinta yang telah kita berikan pada Pencipta Cinta? [] 

LUKA DI CHAMPS ELYSEE



Sisi lain seorang TKW
Judul : Luka di Champs Elysee
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa
Tebal : 198 halaman
Harga : Rp 32.500,-

TKW memang udah lumrah di Indonesia. Jumlahnya ratusan, dari berbagai daerah pula. Tapi, kalo TKW dijadikan tema sebuah novel, hm... kayaknya belum banyak tuh! Eits! Tunggu dulu! Ada satu diantara sekian banyak novel Indonesia yang mengangkat TKW sebagai temanya.

Luka di Champs Elysees. Novel ini berkisah tentang seorang TKW asal Lampung bernama Karimah. Ia bekerja di Riyadh sebagi baby sitter seorang majikan Arab. Sayangnya, keadaan Karimah, seperti kebanyakan TKW lainnya, menyedihkan. Dianiaya oleh majikan perempuan ketika melakukan suatu kesalahan kecil. Karimah tak bisa berbuat apa-apa atau mengadu pada siapa-siapa. Setiap waktu selalu menjadi hari-hari panjang melelahkan baginya.

Suatu hari, sang majikan berniat mengajaknya ke Perancis untuk menjaga anaknya ketika mereka liburan. Niat untuk kabur pun, diam-diam dipendam dan direncanakannya. Hingga pada akhirnya, ketika mereka sampai di Perancis, niat itu sudah tak bisa lagi diusirnya. Karimah benar-benar kabur di jalan Champs Elysees. Di saat ia tak memiliki siapa-siapa dan tak bisa berbahasa Perancis, keajaiban pun datang. Hamed, seorang Arab menolongnya.

Sebagai warga ilegal, tak mudah bagi Hamed maupun Karimah untuk hidup aman di negeri orang. Maka, Karimah pun tinggal dengan Hamed tanpa ikatan pernikahan hingga tanpa disadarinya, ia akan memiliki anak. Padahal, di tanah air, Karimah sudah memiliki suami dan seorang anak. Kejadian demi kejadian tak terduga datang menghampiri mereka.

Baca novel ini, kita serasa berada di Paris, Perancis. Secara, novel ini memang bersetting di kota mode itu. Penggambaran tempatnya sangat detil, dari jalan, gedung bahkan stasiun metro dan toko-toko. Semua ditata apik dalam balutan bahasa yang mengalir. Alur ceritanya juga mudah kita pahami. Bagi penikmat novel dengan mengedepankan setting tempat, novel ini patut dibaca.

Tapi, gak ada gading yang tak retak, bukan? Nah, satu sisi yang mungkin perlu sedikit dipahat lagi adalah, kekonsistenan dari penulisnya. Di beberapa paragraf, kentara sekali penulisnya masih ‘teledor’ dengan istilah yang sebelumnya dipakai tapi selanjutnya diubah. Ya, mungkin lupa, kali yee... hehe.

Rating for this book (menurutku sendiri):
**

Note.
* up to you
** so-so
*** OK
**** iya banget!