Halaman

28 Desember 2008

CINTA BUTA DAN SAHABAT SEJATI


CINTA BUTA DAN SAHABAT SEJATI

Tulisan ini terinspirasi oleh pesan pendek kiriman seorang teman. Pesan pendek itu berbunyi seperti ini:

“Suatu hari, Cinta dan Sahabat berjalan di desa. Tiba-tiba Cinta terjatuh dalam telaga. Kenapa? Karena Cinta itu buta. Lalu Sahabat pun ikut terjun. Kenapa? Karena Sahabat akan berbuat apa aja demi Cinta.

Di dalam telaga, Cinta hilang. Kenapa? Karena Cinta itu halus, mudah hilang kalo gak dijaga, sulit dicari, apalagi dalam telaga yang gelap. Sedangkan Shabat masih mencari-cari dimana Cinta dan terus menunggu. Kenapa? Karena Sahabat itu sejati dan akan kekal sebagai Sahabat yang setia.”


Melankolis! Sebuah metafora yang digambarkan secara manis oleh kata-kata. Pengimajian sebuah anggapan kebanyakan manusia. Bahwa cinta itu buta, sahabat itu sejati. Benarkah? Sebenernya ya terserah masing-masing individu lah gimana menilai sebuah cinta dan seorang sahabat. Ya gak? Sebab, gak ada peraturan baku tentang cinta itu harus buta (karena mungkin si cinta udah operasi mata, hehe...) atau sahabat harus sejati.

Menurutku sih, memang bener kalo cinta gak dijaga pasti bisa gak dirasa lagi. Walaupun sebenernya cinta akan tetep ada entah di sudut ruang mana pada diri manusia. Cinta juga kalo gak diarahkan bisa menjelma jadi monster mengerikan. Misalnya aja pada kasus mencintai benda-benda keramat atau jimat yang pake bantuan jin. Namanya juga udah cinta, mau si jin itu minta apa aja pasti dikasih! Gawatnya –karena ini pasti dan biasanya gak disadari oleh manusia- si jin meminta akidah manusia. Makanya manusia yang udah mencintai benda-benda keramat itu, akidahnya bisa dipastikan 90 persen gak lurus lagi. Nah lho!

Balik lagi tentang cinta itu buta...
Kalo gak diporsikan sesuai kadarnya, cinta juga bisa bikin kacau semua sistem kehidupan (whelah, kayak apa aja!) buktinya, pernah denger kan kisah cintanya Majnun dengan Laila? Saking cintanya, si Majnun bahkan menjadi gila.

Nah, kalo sahabat sejati itu, sebenernya bisa ditemukan di hati kita masing-masing. Tapi, sebelum kita mencari sahabat sajati itu, tanyalah dulu pada diri kita sendiri. Apakah kita mengingat teman kita dikala kita bahagia? Apakah kita menyebutkan nama mereka di dalam doa-doa kita? Apakah kita ada di samping mereka di saat mereka terluka? Apakah kita menemani mereka ketika sepi mengambil alih ruangan hatinya? Jika jawabannya adalah ‘ya’ maka, hentikanlah pencarian sahabat sejati itu. Sebab, Allah akan memeberi kita sahabat sejati itu...

“Ya Allah, jadikanlah aku sahabat yang baik bagi sahabat-sahabatku dan berikanlah aku sahabat yang baik pula. Amin...”

Thanks to:
-Obet-

1 komentar:

ira mengatakan...

Sesungguhnya ada cinta dan sahabat sejati, yang tak ada penolakan atas diri kita & selalu ada disetiap suka duka kita, selalu dan selamanya......
Dialah Allah S.W.T