08 Agustus 2008

TERSENYUMLAH DENGAN RUH

TERSENYUMLAH DENGAN RUH
by: lia

Jalan setapak menuju rumah saya itu memang tidak terlalu istimewa. Hanya jalan kecil tak beraspal yang di kanan kirinya ditumbuhi rerumputan dan perdu dengan sedikit pohon kelapa dan pohon rambutan. Kalau hujan tiba, tanahnya becek. Makanya, saya sering ‘mbontot’ lap atau tissue kalau keluar rumah jika musim hujan itu tiba (untuk mengelap sepatu...).

Tapi, ada sesuatu yang selalu saya nantikan saat melewatinya, khususnya pagi hari saat saya berangkat menuju kampus atau sekedar jalan-jalan, dan sore hari ketika saya pulang menuju rumah. Sepeti keadaan jalan itu, tak terlalu istimewa bagi kebanyakan orang, tapi ada satu hal yang istimewa yang menghiasi hati saya. Jujur saya sampaikan, saya selalu menantikan sebuah senyuman. Yah, hanya sekulum senyum. Pun, senyum itu bukan dari seseorang yang istimewa menurut kebanyakan orang. Senyum itu dari seorang kakek biasa, penggembala kambing.

Saya tidak tahu kapan saya mulai merasakan kesejukan sebuah senyum yang saya rasa itu tulus. Yang jelas, saya selalu melihat pancaran kebahagiaan dan ketabahan pemiliknya saat ia menarik kedua ujung bibirnya melengkung ke atas lalu menyapa saya dengan lembut.

Senyum memang hal yang kecil dan biasa. Tapi manakala senyum itu tulus, ia akan menjadi satu hal yang besar dan luar biasa. Dalam banyak format, orang seringkali mendeskripsikan senyum sebagai ibadah paling mudah. Bagaimana tidak? Untuk tersenyum, orang tak perlu mengeluarkan tenaga yang besar, tak perlu cara yang susah, bahkan tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Yang perlu diakukan hanya satu: menarik kedua ujung bibir melengkung ke atas.

Satu hal yang membuat sanyum bisa menjadi luar biasa adalah niat tulus. Sekulum senyum tak akan bercahaya bila dilakukan dengan terpaksa. Ibarat orang tak bernyawa, tak ada kekuatan. Maka, banyak yang berdengung: “Tersenyumlah dengan ruh!”, termasuk saya.

Pun dalam tulusnya niat ini, saya mengutip beberapa versi. Satu yang tersohor adalah dari seorang ustadz ternama, bahwa senyum tulus itu tidak kurang dari lima detik. Sah-sah saja. Yang jelas, bagi saya, senyum yang tulus itu pasti akan meninggalkan bekas yang tak mudah dilupa. Seperti senyum sang kakek penggembala kambing yang hampir setiap hari saya temui di jalan kecil menjuju rumah saya.

Maka, tak berlebihan kiranya jika saya mengungkapkan, “Sekulum senyum dan keceriaan pada pagi hari akan membawa ketenangan tersendiri bagi seseorang yang ditemui.”

Maka sekali lagi, tersenyumlah dengan ruh!

1 komentar:

Akhmad Baiquni mengatakan...

Bisa tulus asal dilatih