27 Juli 2008

BINGKISAN UNTUK DERMA

BINGKISAN UNTUK DERMA

Derma Gunawan mendadak shock. Tubuh gembulnya limbung ke lantai, satu tangannya mencengkeram dada kiri, seolah tak ingin kehilangan sesuatu dari sana. Mata dan mulutnya membuka lebar. Keringatnya tak lagi mengalir satu-satu. Ada sisa suara yang dicobanya untuk keluar. Tapi nihil, kalimat pendek yang putus-putus itu memang tak diizinkan untuk terlontar. Wajahnya memucat dan sedetik kemudian erangannya pecah beriring jeritan istrinya. Andai Derma tak membuka bingkisan itu...

ooo

Angin berhembus pelan. Lelah setelah semalam suntuk mengibas-ngibas isi kampung. Embun menari di pucuk-pucuk rumput ilalang. Sedang di ufuk timur sana, mentari masih mengantuk, mencoba menghadirkan sinar dengan sebongkah mimpi yang siap menguap.

Derma menyapu sekelilingnya dengan mata berbinar. Bibirnya menyungging senyum puas. Sesekali kepalanya ia geleng-gelangkan sambil tertawa kecil. Bahagiakah ia hari ini? Setelah hari-hari panjang melelahkan dan jam-jam menegangkan terlewati. Beberapa minggu yang lalu. Ah, semua memang berjalan sesuai dengan rencananya. Mulai dari kampanye yang menyita tenaga dan pikiran. Semua orasinya harus bisa meluluhkan hati orang-orang di empat penjuru daerah yang mengelilingi kampungnya. Dusun Jelaga di sebelah timur, dusun Seruka di sebelah Barat, dusun Mendepi di sebelah Utara dan dusun Rakaye di sebelah selatan.

Apapun yang bernama janji untuk rakyat – yang nantinya akan jadi pengikutnya- Derma keluarkan sebagai manisan dai bibirnya. Ucapnya menggebu-gebu di depan mikrofon. Telunjuknya tegak kokoh diacung-acungkan. Tak peduli siang itu mentari ikut tertawa di atas kepala dan butir-butir keringat besar mengalir deras lewat kening, leher dan punggungnya.

Demi sebuah jabatan –yang dulu sungguh tak pernah diinginkan orang- Derma rela melucuti isi kantongnya untuk mencetak poster-poster dan kartu nama, serta, tak lmungkin lupa kaos oblong –meski berbahan kualitas paling rendah- dan kalender yang memuat foto dan slogannya sebagai model. Tak apa, cuma habis lima jutaan. Hasil akhir yang Derma lihat, bukan proses. Yang penting keinginannya tercapai. Duduk di pucuk tertinggi kampung Kawalahan, yang menaungi empat penjuru dusun tadi.

Itu masih sebagian. Yang lain tentu ada. Hari-harinya Derma habiskan untuk mengunjungi orang-orang yang sedianya akan berpengaruh. Tukang ojek di gerbang kampung, preman pasar dan perempatan jalan, juga orang-orang muda tak berpenghasilan. Derma bagai nenek sihir yang dengan mudah meniupkan mantra ke wajah-wajah mereka, menyuruhnya untuk mendukung penuh rencananya itu.

“Lurah Kawalahan!” Derma tertawa setelah meyakinkan mereka dengan iming-iming amplop berisikan lembaran dua puluh ribu rupiah.

“Bagian pertama.” Katanya kemudian.

Itu untuk orang-orang kampung. Sedang untuk Ginanjar? Ah, rivalnya itu memang tidak kecil untuk ikut diperhitungkan. Mau tak mau, Ginanjar sudah menjadi orang baik di mata orang-orang dusun Jelaga dan Rakaye. Tak bisa dinilai kecil. Maka, Derma tak mau ambil pusing.

Malam itu, misinya ia lancarkan. Preman dan orang-orang yang menjadi ‘pengikut’nya ia kerahkan.

“Copot semua poster yang memajang foto dan slogan Ginanjar! Ganti denga poster dan sloganku!” berapi-api. Dan ‘orang-orangan’ Derma itu manggut-manggut, entah karena memang mengerti atau sudah diserang kantuk.

Dan hari yang cerah kemudian telah berubah menjadi tegang di hadapan orang-orang di empat penjuru dusun. Terlebih di tempat Derma tinggal. Angin tak berani untuk sekedar meniupkan kesejukan pada celah-celah tubuh yang berhimpit-himpit. Tak berani untuk sekedar menyampaikan pesan Tuhan pada telinga-telinga yang telah tersumbat oleh deretan nama yang terucap lantang oleh laki-laki di depan, menghadap tiga buah kotak besar berisi kartu hasil pemungutan suara.

Ah, Derma! Tak bisa mungkir dari kursi yang baginya seolah telah dipenuhi paku-paku tajam yang panas. Tak betah tapi tak bisa berdiri. Kalau itu dilakukan, pasti orang-orang kampung akan menganggapnya sudah tak sabar meski kenyataannya memang demikian. Derma gelisah dalam senyum kecutnya yang sedari tadi diusahakannya agar selalu hadir untuk menutupi wajag gelisahnya. Istrinya yang sedari tadi mendampinginya, mencoba menenangkan. Tangan kirinya mengusap-usap dada kiri Derma. Terasa sekali denyut jantung suaminya itu terlampau cepat. Bibir wanita itu sesekali komat-kamit diantara senyumannya. Ia khawatir penyakit jantung suaminya akan kambuh dalam kedaan seperti ini.

Dan setelah nama terakhir diucapkan dengan lantang, ia lega luar biasa. Beriring tepuk tangan dan sorakan serta deruman motor-motor preman penanda kemenangan.

Bahagiakah ia hari ini? Ya, tentu saja! Setelah beberapa minggu yang lalu, ia disumpah untuk sebuah jabatan impiannya.

ooo

“Demi menjaga keamanan kampung Kawalahan, saya ingin kita bisa jaga malam bergiliran. Kita dirikan gardu ronda di tengah kampung dan saya akan memerintahkan sekretaris lurah untuk membuat daftar nama-nama laki-laki yang ada di seluruh kampung ini. Nantinya kita akan bergiliran menjaga kampung kita ini dari hal-hal yang tidak diinginkan!”

Lagi, Derma tak menghiraukan mentari yang sedari tadi timbul tenggelam ari awan putih. Seolah-olah menertawakannya di hari-hari awal status barunya sebagai Lurah Kawalahan. Dua orang di rombongan belakang saling berbisisk.

“Siapa yang tidak menuruti perintah saya ini, tak usahlah dia jadi rakyat kelurahan Kawalahan!” mengancam.

ooo

Kawalahan menjadi aneh. Tenang tapi dihinggapi rasa takut. Sang lurah, Derma yang mbeling. Satu malam, ia pernah minum bersama preman pasar di hajatan tetangga.

“Pak, kita ini memang butuh refresing ya. Tidak melulu mengurus tetek bengek yang njelimet itu! Sekali-sekali boleh santai lah.” Tertawa, Salmon meneguk bir dari botol di tangan kirinya.

Derma ikut tertawa. Kali ini, tangannya tidak kosong. Satu botol bir telah dibuka.

“Ya, benar itu! Kita in jadi warga yang baik-baik lah. Waktunya kerja, ya kerja. Waktunya ibadah, ya ibadah dan waktunya minum, ya minum. Ha...ha...”

“Bukannya kita harus ibadah terus, Pak? Mengingat mati?” Joko meledek, mencibir kemudian tertawa dengan keras. Sesaat, semua diam.

Angin memutar arah, mengusir daun-daun kering petai cina dari atas tanah. Jangkrik yang selama tadi mengerik di pucuk rantai pohon jambu, terbang lagi.

“Ah, ya! Tapi, ah, lupakan dulu! Kita masih muda, benar?” tergagap Derma mencoba mencairkan lagi suasana. Lalu dilanjutnya,

“Besok Minggu, datanglah ke rumah saya. Akan ada hajatan kecil. Ulang tahun saya!”

ooo

Hari ini Derma ulang tahun. Pasti, laki-laki itu akan merayakannya dengan penuh kemewahan, nyaris melebihi hajatan para tetangganya. Jalas saja, orang-orang disekelilingnya adalah orang-orang kampung yang tak begitu punya harta dan uang lebih. Sedangkan Derma, laki-laki paruh baya yang punya jabatan tinggi meski dengan embel-embel aneh.

Kabar hajatan di rumah Derma segera menyebar di seluruh penjuru kampung. Baru kali ini, lurah mereka merayakan hari kelahirannya dengan mengundang rekan-rekan dan tetangganya. Lurah sebelumnya? Bisa dipastikan tak pernah melakukan ritual seperti ini. Apakah Derma ingin meniru para selebriti di tivi itu? Mentang-mentang publik figur, hari lahir pakai acara hajatan segala.

Di warung-warung, para ibu saling berbisik. Komat-kamit mulutnya mengeluarkan suara mendesis disertai keruatn kening dan manggut-manggut orang-orang di sekelilingnya. Tentu, siapa lagi kalau bukan Derma yang jadi topik utamanya. Sang Lurah yang aneh.

“Gimana mau maju kampung ini, wong lurahnya saja ikut-ikutan mabuk sama preman pasar!”

“Iya, malah sekarang pakai acara hajatan ulang tahun segala. Kaya’ nggak ada kerjaan aja!”

“Itu mah nggak apa, Jeng. Kita kan bisa ikut makan enak.”

Di sudut pasar, tertawa para preman akan ikut merayakan hari lahir sang lurah kesayangan.

“Tak usah membawa kado, yang penting kalian bisa ikut makan enak.” Salmon, menirukan gaya bicara Derma kemarin malam. Semua tertawa.

“Siapa yang mau bawa kado, Pak lurah? Wong kami ini memang orang yang nggak punya!” tertawa lagi.

Di rumah Derma, tentu lebih ramai lagi. Semua orang sibuk di dapur. Membuat santapan untuk para tamu undangan, mulai dari rekan seprofesinya hingga para preman dan orang-orang kampung yang lugu. Istrinya sibuk memilih busana dan tata rias di salon. Mencoba me-matching-kan gayanya dengan gaya sang suami. Harus terlihat rapi dan tentu saja, lebih elegan.

Halaman rumah Derma terang-benderang. Lampu-lampu taman berkeliling di antara meja-meja bundar kecil dan kursi yang mengelilinginya. Pesta taman yang sungguh luar biasa bagi orang-orang di kelurahan Kawalahan. Satu-satu, rekan seprofesinya datang dengan bingkisan dibelakangnya. Kotak kecil, sedang dan besar. Derma sumringah luar biasa. Dijabatnya erat setiap tangan yang menyalaminya sambil berkata,

“Terima kasih telah datang ke acaraku. Silahkan menikmati hidangan ala kadarnya.” Seperti merendah nada bicara Derma.

Hingga satu mobil pick-up parkir tepat di depan gerbang halaman rumahnya. Derma tersenyum, menunggu seseorang yang mungkin dikenalnya turun dari sana. Tapi nihil, yang ada adalah satu orang laki-laki turun dengan membawa secarik kartu ucapan berpita hitam dengan hiasan bunga-bunga kecil di sekeliling pinggir kartunya.

Derma berkerut kening. Diterimanya secarik kartu ucapan itu dan mempersilahkan laki-laki tadi untuk menurunkan bingkisan yang telah dibawanya.

“Titipan dari taman Bapak.” Itu katanya tadi.

Secarik kartu ucapan itu Derma baca terbata-bata.

Aku ucapkan Selamat Hari Lahir untukmu, Derma Gunawan

Bukan selamat ulang tahun, karena memang tak ada tahun yang berulang

Setiap waktu, hidup pasti berubah

“Wahai manusia, kamu adalah kumpulan dar hari-hari. Setiap kali berlalu, berkurang juga bagian dari umurmu.”

(HR. Hasan Al-Basri)

Kuhadiahkan ini karena aku ingin, kau mengingat mati di hari lahirmu

Salam,

Ginanjar

Dan alangkah terkejutnya Derma ketika membuka bingkisan besar di depannya. Peti Mati!

ooooo
Natar, 7 Mei 2007

1 komentar:

Akhmad Baiquni mengatakan...

Kasian pak derma, di underestimate